Dampak Proyek Perumahan Tanpa Perencanaan Matang

Oleh: Yanyan Supiyanti, A.Md

Pegiat Literasi, Member AMK

Kebutuhan dasar setiap manusia harus segera terpenuhi, termasuk kebutuhan tempat tinggal. Melihat peluang bisnis properti khususnya perumahan yang semakin hari semakin dicari, para pengusaha properti perumahan semakin giat memasarkan. Mulai dari rumah sangat sederhana sekali hingga tipe rumah super mewah. Begitu massif pembangunan perumahan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar, tapi di sisi lain bila dibangun tanpa perencanaan yang matang dengan memperhatikan dan memperhitungkan dampak lingkungan, tentu akan membahayakan lingkungan dan warga sekitar.

Dilansir oleh balebandung.com (21/5/2021), Pembangunan Perumahan Elite Podomoro telah menyebabkan wilayah Desa Lengkong Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung dan sekitarnya kerap terjadi banjir apabila turun hujan. Toni Permana selaku anggota Komisi C dan juga Ketua Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Bandung mengungkapkan, bahwa akibat pengurugan lahan yang dilakukan Podomoro yang sebelumnya merupakan daerah resapan air kini jumlahnya menciut bahkan hampir hilang, sehingga luapan air ketika turun hujan mengalir ke perkampungan warga di sekitarnya. Warga mengeluhkan walaupun hujan turun hanya sebentar sudah mengakibatkan banjir.

Dampak dari pembangunan perumahan tidak hanya dirasakan oleh warga Lengkong saja, juga bukan sebatas banjir. Ada juga longsor atau pergerakan tanah, jika perumahan dibangun di bukit-bukit. Menjadikan ekosistem alam akan terganggu dan rusak.

Inilah fakta hidup di negeri yang menerapkan sistem kapitalisme. Alih fungsi lahan menjadi pemukiman tanpa memperhatikan dampak lingkungan sepertinya hal yang bisa ditolerir jika pengembang perumahan adalah korporasi. Kekuatan uang bisa mempengaruhi kebijakan, padahal sejak awal sudah terjadi kontroversi, akan tetapi proyek jalan terus walaupun syarat perizinan belum terpenuhi seluruhnya, akhirnya rakyat yang menjadi korban. Kapitalisme telah mendudukkan uang di atas segalanya. Uang yang berbicara, kemaslahatan rakyat diabaikan.

BACA JUGA:  Tak Sekadar Dijadikan Pahlawan, TKI Butuh Perlindungan

Kapitalisme dengan asasnya sekuler, yaitu pemisahan agama (Islam) dari kehidupan, telah membentuk pribadi-pribadi yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, tapi dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan. Sudah menjadi rahasia umum perizinan identik dengan uang, uang identik dengan kemudahan.

Oleh karena itu selama kapitalisme sekuler menjadi landasan dalam pengaturan negara, selama itu pula keberpihakan kepada seluruh rakyat akan sulit didapat.

Tengoklah bagaimana Islam mengatur tata kota untuk pemukiman, lahan serapan diatur sedemikian rupa sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Andaikan sudah diperhitungkan dengan matang, masih ada kekurangan sehingga mengundang keluhan warga, maka harus segera direspon sebagai bentuk tanggung jawab. Jangan sampai kesulitan dan kesengsaraan rakyat terus berlanjut.

Respon dari penguasa yang menunjukkan keadilan luar biasa atas tuntutan yang disampaikan seorang Yahudi di masa Khalifah Umar bin Khattab bisa menjadi pengingat sekaligus contoh bagi siapapun yang mendapatkan amanah kekuasaan. Satu waktu, Umar didatangi seorang Yahudi yang terkena penggusuran oleh seorang Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash, yang bermaksud memperluas bangunan sebuah masjid. Meski mendapatkan ganti rugi yang pantas, sang Yahudi menolak penggusuran tersebut. Ia datang ke Madinah untuk mengadukan permasalahan tersebut pada Khalifah Umar.

Setelah selesai mendengarkan pengaduan, Umar mengambil sebuah tulang unta dan menorehkan dua garis yang berpotongan, satu garis horizontal dan satu garis lainnya vertikal. Umar lalu menyerahkan tulang itu pada sang Yahudi dan memintanya untuk memberikannya pada Amr bin ‘Ash. “Bawalah tulang ini dan berikan kepada gubernurmu. Katakan bahwa aku yang mengirimkan untuknya.” Demikian Umar menyampaikan pesan untuk gubernurnya agar disampaikan oleh Yahudi yang mengadukannya.

BACA JUGA:  Sistem Sekuler-Liberalisme Mencekik, Ketahanan Keluarga Tercabik

Meski dia (Yahudi) tidak memahami maksud dari pesan Umar, dia tetap menyampaikannya dengan menyerahkan tulang tersebut. Singkat cerita wajah Amr pucat pasi saat menerima kiriman yang tak diduganya itu. Saat itu pula, ia mengembalikan rumah Yahudi yang telah digusurnya. Ketegasan seorang khalifah dan rasa takut yang menghinggapi seorang Gubernur Amr sulit didapat dalam sistem kapitalisme, karena berkaitan dengan pemahaman bahwa setelah kehidupan dunia seluruh manusia akan berjumpa dengan kehidupan akhirat yang abadi. Keadilan dan kepengurusan seorang penguasa tanpa membedakan agama, kekayaan, ras, dan suku, terwujud nyata dalam sistem Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.