Darurat Prostitusi di Tengah Pandemi, Islam Solusi Sejati

Oleh: Sri Haryati
Ibu Rumah Tangga dan Member AMK

Prostitusi anak di tanah air terkuak kembali. Tim Pemburu Pelanggar Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Kota Bogor mengamankan 24 pasangan muda-mudi yang melakukan tindakan mesum dari salah satu hotel di Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Mereka diduga terkait praktik prostitusi. (merdeka.com, 12/08/2021)

Sebelumnya, Aparat Kepolisian dari Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus prostitusi online yang mempekerjakan anak di bawah umur, di Oyo Townhouse 1, jalan Salemba Raya, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat mengatakan, dari penggrebekan yang dilakukan pada Senin, 9 Agustus 2021 ditangkap beberapa wanita yang dijadikan sebagai wanita booking online (BO), beberapa joki, dan tersangka lainnya. (viva.co.id, 10/08/2021)

Sungguh memprihatinkan melihat fakta yang terjadi di tanah air. Di tengah gempuran virus Covid-19, kasus prostitusi anak pun kian marak. Temuan prostitusi anak di hotel tersebut menunjukkan bahwa di tanah air dalam keadaan darurat. Selama pandemi, kasus prostitusi anak terus muncul ke permukaan dan menambah panjang daftar kegagalan pemerintah melindungi generasi. Ini hanya sebagian kasus yang terungkap, masih banyak kasus lainnya yang belum terungkap. Pemerintah seharusnya lebih tanggap dan serius mengatasi kasus prostitusi online yang semakin marak di tanah air.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) per 31 Agustus, anak korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan eksploitasi berjumlah 88 kasus dengan didominasi oleh anak korban eksploitasi pekerja sebanyak 18 kasus, korban prostitusi 13 kasus, dan selebihnya korban perdagangan. Selain itu, dalam angka tersebut ditemukan pula anak korban adopsi illegal, korban eksploitasi seks komersial, anak (pelaku) rekruitmen ESKA dan Prostitusi.

BACA JUGA:  Menggalakan “Urban Farming” Untuk Menjaga Ketersediaan Pangan

Komisioner KPAI Bidang Trafficking dan Eksploitasi Ai Maryati Solihah mengatakan secara khusus, KPAI memantau sejak Juli sampai September 2020. Pada 9 kasus di berbagai kota/kabupaten (Ambon, Paser, Madiun, Pontianak, Bangka Selatan, Pematang Siantar, Padang, Tulang Bawang Lampung dan Batam Kepri) dengan jumlah 52 korban dan terdapat pula belasan pelaku rekruitmen dan saksi anak di bawah umur.

Temuan KPAI dalam pemantauan tersebut antara lain, jumlah korban prostitusi yang melibatkan anak rata-rata lebih dari satu orang pada setiap kasusnya dengan tren anak perempuan usia terendah 12 tahun sampai dengan 18 tahun. Hampir semua peristiwa melibatkan mucikari atau penghubung dengan ragam subjek pelaku. Misalnya, bertindak sebagai bos dan jaringannya yang menjalankan peran masing-masing sehingga menjadi sebuah sindikat. (mediaindonesia.com, 03/10/2020)

Dari temuan tersebut menjelaskan bahwa prostitusi anak memiliki sindikat dan ada yang mengelolanya. Ada pihak yang merekrut, penampung, mengiklankan, dan mencari pelanggan. Semua sudah terorganisir, inilah salah satu kerusakan sistem kapitalisme, menjadikan manusia sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan. Selain itu, jaringan prostitusi yang melibatkan anak-anak diantaranya akibat sistem sekuler, dimana setiap perbuatan manusia dipisahkan dari agama. Sehingga perbuatan melanggar norma agama, menghalalkan segala cara, tidak terikat halal haram, dan tak lagi berdasarkan aturan dari Allah Swt.

Sungguh ironi, di tengah masifnya virus yang menyebar, ternyata prostitusi pun menyamainya. Kehidupan sekuler telah merusak nalar dan moral, membebaskan setiap individu untuk berperilaku. Kebebasan berprilaku dan kebebasan berpikir yang diadopsi dari barat telah menjadikan mereka kehilangan jati diri. Perbuatan yang melanggar norma mereka labrak, agama hanya sebagai ritual ibadah saja, syariatnya tak diterapkan dalam kehidupan. Wajar saja jika banyak individu muslim yang mengalami disorientasi hidup, mudah menyerah pada keadaan, bahkan terjerumus dalam kemaksiatan. Begitu pun masyarakat, kehilangan fungsi kontrol akibat individualisme yang mengikis budaya amar makruf nahi mungkar. Sedangkan negara, tidak mampu menjadi pengurus dan penjaga umat akibat sibuk berkhidmat pada asing dan pengusaha, hingga rakyat selalu dikorbankan.

BACA JUGA:  Dampak Corona Gelandangan Baru di Karawang Meningkat

Jika kita cermati lebih dalam, maraknya kasus prostitusi anak di tanah air adalah gambaran kegagalan negara melindungi dan mengayomi rakyatnya. Gagal menjamin kebutuhan pokok rakyatnya, sekaligus gagal menjamin keamanan mereka. Mirisnya hingga hari ini, tidak ada penanganan serius dari pemerintah. Ini disebabkan penerapan sistem sekuler kapitalisme yang diemban negeri ini, yang menolak penerapan sistem Islam secara kafah. Sekularisme dengan paham-paham turunannya yang batil, seperti liberalisme dan materialisme, menjadikan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah. Terbukti hingga kini, negeri ini terus dilanda krisis serta pandemi yang semakin membebani rakyat dengan kehidupan yang serba sulit. Penguasa seolah masa bodoh dengan kondisi rakyatnya.

Setali tiga uang, kapitalisme pun telah menumbuhsuburkan berbagai permasalahan kehidupan. Kapitalisme menjadikan anak sebagai komoditas yang dapat dieksploitasi demi keuntungan materi. Kapitalisme juga tidak benar-benar berpihak kepada kepentingan anak, karena dalam sistem ini hanya mengutamakan keuntungan materi. Prostitusi sebagai tempat berzina semakin subur dalam perdagangan kapitalisme. Padahal, Islam jelas melarang perbuatan zina. Mendekati zina saja sudah dilarang, apalagi melakukannya. Perbuatan prostitusi ini jelas akan mengundang murka Allah Swt. dan menyebabkan malapetaka pada kehidupan umat manusia. Sebagaimana firman Allah Swt.