OPINI  

Debat

Kang Marbawi

Pojokan 107

Ketika artificial intelligence (AI) mendominiasi kehidupan, post truth -kebohongan dengan berbagai bentuknya dan dianggap kebenaran, mendominasi. Uniknya ada sekelompok orang, yang bekerja memproduksi kebohongan itu. Dijadikan ladang bisnis, politik dan mengais perdebatan dan kontroversi.  Daya tarik (magnet) produksi kebohongan itu, menarik semua. Semua tertarik untuk masuk dalam jaring laba-laba post truht. Jaring laba-laba yang mendakukan berebut benar. Berbuah caci maki, hujatan, polarisasi, kegaduhan serta anggitan “laqob” julukan tak pantas. Menyetrum amarah, kebencian yang membuncah, menyeruak, meninju keadaban, dan memurukkan welas asih.

Komodifikasi post truht pun diberi panggung di layar-layar kaca. Mempertontonkan dua kubu yang saling beradu. Mendesain konflik dalam ruang maya. Argumen canggih dibuat dan ditebar sebagai bagian dari aksesoris komodifikasi pertarungan debat. Mendeklamasikan dukungan dan egoisme: akademis, ashabiyah kesukuan, golongan, pilihan, mau menang atau benar sendiri! Tak ada yang mau mengalah!

Kontestasi simulacra, fakta semu yang dijejalkan, menjadi realitas dalam dunia maya dan dunia nyata. Setiap realitas sosial dimodifikasi menjadi hiperrealitas yang menjadikan seolah fakta baru. Dibumbui dengan sentuhan lembut Suku, Agama dan Ras (SARA) menjadikan komodifikasi konflik semakin merunyam.

Amunisinya, bisa apapun dan siapapun. Pemantiknya, postingan di media sosial (medsos) para buzzer. Disambar menjadi bara warga natizen yang kadang barbar. Terbelah menjadi dua kubu. Didakukan dalam layar media elektronik mainstream. Memolarisasikan masyarakat yang menonton. Esensi kebenaran, hilang di tangkupan persepsi parsial, satu sudut pandang. Menguap di lahap prasangka dan egoisme. Nalar kritis ditumpulkan dengan egoisme benar “dewek”, pun tak mau disalahkan. Memandang dari kaca mata kuda. Berebut benar, bukan berebut keselarasan.

Tak terlihat perspektif lain dalam bingkai pelangi yang harus dilihat, didengar dan dihargai. Memang tak mau melihat atau mendengar sudut lain. Sudut lain yang dianggap tak menarik dan membahayakan sudutnya. Padahal bisa jadi, di ujung cakralawa sudut lain menawarkan warna-warni lanskap argumen yang indah. Menawarkan titik temu. Titik temu yang dibangun dari kerendahan hati untuk menerima gatra lain. Dengan lancaran dialog dan bincang dari hati ke hati untuk bersua pandangan.

Komodifikasi polemik tak sehat, mengajarkan masyarakat, untuk tak bersua pandangan. Menguatkan polarisasi berbalut identitas sosial, politik bahkan agama. Komodifikasi polemik, memojokkan musyawarah di sudut gelap. Sengaja ditutupi kepentingan kelompok atau individu. Musyawarah hanya laku di lingkungan Rukun Tangga.

Permusyawaratan pun hanya menjadi ajang kontestasi kepentingan. Esensi musyawarah menggelinding bersama barter kepentingan kelompok atau individu. Bukan untuk kepentingan rakyat. Walau rakyat sering dijadikan tameng. Entah tameng siapa dan rakyat yang mana!

Jauh dari pepatah minang atau daerah lainnya. “Nah tuah cari sapakaik, nak cilako bueklah silang”. Pepatah Minang ini menjelaskan, untuk senantiasa bersatu padu, terutama dalam memecahkan masalah yang ada. Bercerai hanya akan mendatangkan perpecahan dan kekacauan.

Sejatinya, sebagai homosapiens, manusia adalah makhluk sosial. Dimanapun, kapanpun, manusia pasti membutuhkan komunikasi dengan sesamanya. Entah dengan cara apa. Sayangnya cara komunikasi tersebut, terlumuri dan dilumuri post truht dan simulacra. Hingga hilang kewarasan berpikir, nalar kritis dan empati kesantunan. Yang ada adalah kegenitan self esteem yang tumpul nurani dan kesantunan. Sibuk dan asyik dengan dirinya sendiri. Tak memandang kepentingan lain. Musyawarah membutuhkan kerendahan hati untuk mau mendengarkan, melihat perspektif lain. Mendialogkan dua pandangan untuk mencari irisan titik temu. Titik temu yang sama dalam tujuan bersama. Tujuan yang besar untuk kepentingan bersama. Bukan untuk kepentingan sendiri atau kelompok. (*)

OLEH: Kang Marbawi