Di Alam Kapitalisme, Mungkinkah Buruh Sejahtera?

E. Farida

(Pengasuh Kajian Ummahat Khairu Ummah Subang)

Pengesahan Omnibus Law tanggal 05 Oktober 2020 nyata telah menuai protes dari banyak kalangan masyarakat. Kaum buruh merupakan klaster yang paling nampak melakukan penolakan disusul oleh mahasiswa dan berbagai kalangan intelektual lainnya, termasuk tokoh agama. Hampir disemua daerah aksi penolakan berlangsung. Banyak suara menilai telah terjadi pelanggaran prosedural dan menduga keras bahwa Omnibus Law dipercepat pengesahannya karena pesanan pihak pengusaha. Bahkan seorang ekonom menegaskan bahwa nama UU Cipta Lapangan Kerja tidak sesuai dengan subtansi yang dikandungnya. UU ini lebih cocok dinamakan ‘UU Kemudahan Berusaha’.

Lagi dan lagi. Realita yang tidak bisa dipungkiri, nampak jelas bahwa suara anggota dewan yang dipilih sebagai wakil rakyat tidak mempresentasikan suara rakyat. Slogan suara anda akan menentukan nasib bangsa ternyata menipu. Tak ada suara rakyat, yang ada hanyalah kepentingan para kapitalis.
Bagaimana dengan Kabupaten Subang?
Hampir sama dengan daerah lainnya.

Kabupaten Subang walaupun belum sepenuhnya menjadi daerah industri akan tetapi jumlah buruh ‘pabrik’ setiap tahunnya terus meningkat seiring dengan maraknya mutasi lahan pertanian menjadi lahan terbangun. Buruh Subang pun melakukan aksi penolakan terhadap pengesahan RUU Cipta Lapangan Kerja oleh DPR dengan menggelar longmarch disepanjang jalur pantura Subang dari arah Cikampek menuju Indramayu, sehingga untuk beberapa waktu jalur ini menjadi macet total. Pada Kamis, 08/Okt/2020 Buruh Subang melanjutkan aksi penolakkannya ke alun-alun Subang dan Gedung DPRD dan diterima oleh Bupati dan Wakil Bupati Subang.

Bupati Subang dalam kesempatan tersebut menyampaikan “atas nama pemerintah mendukung terakit aspirasi para buruh kabupaten Subang, sangat mendukung untuk revisi UU itu. Saya berharap direvisi supaya jangan sampai, merugikan atau yang membuat sengsara para buruh. saya ingin ada kondusifitas’. Ini menunjukkan sikap resmi Kabupaten Subang bahwa masih terdapat pasal dalam RUU Cipta Kerja yang merugikan kaum buruh.

Lebih lanjut Pak Bupati pun menyampaikan harapannya “Buruh harus sejahtera, tapi pengusaha juga wajib untuk untung, sehingga di subang ini tercipta harmonsiasi yang baik antara buruh dan pengusaha, adanya keseimbangan. mudah-mudahanan tercipta kenyamanan antara pengusaha dan buruh” paparnya.

Pertanyaannya adalah Siapakah yang telah menyebabkan kesengsaraan hidup buruh? dan tata relasi seperti apa yang akan menghantarkan kesejahteraan bagi buruh dan sekaligus juga kenyamanan bagi pengusaha? dan tentunya bagaimana sikap buruh agar permasalahan yang melilit kaumnya tidak berulang?

KAPITALISME-lah Biang Permasalahannya.
Ideologi kapitalisme – Sekular yang mendominasi tatanan dunia, termasuk indonesia meniscayakan tumbuh suburnya permasalahan kehidupan. Kebebasan kepemilikkan yang lahir dari ide sekular telah menghadirnya kesenjangan sosial, ketidakadilan dan tumbuh suburnya kemiskina . Pemerhati politik dan ekonomi Rustam Ibrahim menyatakan “tidak ada gerakan buruh tanpa kapitalisme”. (https://akurat.co/ekonomi/id-1220647-read-rustam-ibrahim-sebut-tidak-ada-gerakan-buruh-tanpa-kapitalisme).

Jauh sebelumnya Karl Max dalam teori evolusi sosial menyebut adanya ‘class struggle’. Berupa pertarungan kelas pekerja (ploretal) melawan para pemilik modal. Sistem Kapitalislah yang melahirkan dua kelas ini. Tujuan satu-satunya perjuangan kaum ploretal adalah memperbaiki kehidupan secara ekonomi.

Dalam pandangan Kapitalis, buruh merupakan salah satu komponen produksi yang harus ditekan biayanya untuk meningkatkan keuntungan. Jika aturan perusahaan tidak mampu mewujudkannya, maka pengusaha akan melobi ruang legislasi agar mampu mengeluarkan perundangan sebagai payung hukum dalam memfasilitasi kepentingan mereka. Nampaklah kaum buruh hidup dari belaskasihan pengusaha. Mereka dieksploitasi, dipaksa menerima upah yang pas-pasan. Seolah buruh tidak punya pilihan lain kecuali kerja yang dilakukan.

Oleh karenanya Mungkinkan Kaum buruh mampu menikmati kesejahteraan sedangkan paradigma kapitalisme yang menciptakan kesenjangan tidak pernah dihilangkan? Jadi semestinya kaum buruh menyadari bahwa yang menyebabkan mereka selalu ada dalam posisi tertindas dan dieksploitasi adalah Kapitalisme dan solusinya adalah menghilangkan Kapitalisme dari kehidupan. Selama Kapitalisme tetap eksis memastikan permasalahan buruh akan terus berulang.

Lantas, Kemana kaum buruh melabuhkan pengharapannya?

Ketika Kapitalisme hanya peduli pada kepentingan syahwat segelintir pengusaha, dan Komunisme telah lama terbukti tidak sesuai dengan thabiahnya manusia, maka satu-satunya tatanilai yang menjadi alternatif adalah Islam. Tentu kepada Islam harapan kebaikkan itu disematkan. Terlebih lagi Bangsa ini mayoritas penduduknya muslim.

Islam adalah ajaran yang datang dari Pencipta manusia dan alam semesta. Pencipta Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yang menurunkan aturan untuk memanusiakan manusia, membawa manusia tidak hanya sejahtera secara materi tetapi juga kedamaian secara bathin. Tidak hanya membahagiakan hari ini di dunia tetapi juga memberikan jaminan kebahagiaan di hari akhirat. negara
Paling tidak ada dua point penting yang membedakan Islam dengan Kapitalisme dalam permasalahan buruh.

Pertama Islam menempatkan pemerintah sebagai pelayan ummah. Pemerintah secara penuh bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan asasi (sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan) setiap warga nagaranya tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit dan agamanya. Pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan diberikan melalui mekanisme tidak langsung yaitu dengan membuka secara luas lapangan pekerjaan bagi setiap laki-laki sebagai penanggungjawab nafkah bagi keluarga dan setiap orang yang menjadi tanggungannya.

Sedangkan pendidikan, kesehatan dan keamanan sebagai kebutuhan umum diberikan pemerintah secara gratis dengan menggunakan anggaran yang berasal dari hasil pengelolaan sumberdaya alam. Olehkarenanya menjadi penting untuk menjadikan pemerintah sebagai pengelola SDA bukan pengusaha. Karena sesungguhnya sumberdaya alam adalah kekayaan milik ummat, Pemerintah diamanahi rakyat untuk mengelolanya dan mengembalikan keuntungannya kepada ummat baik secara langsung ataupun tidaklangsung berupa pelayanan publik secara cuma-cuma.

Kedua akad ‘kontrak kerja’ yang terjadi antara buruh dengan perusahaan. Perusahaan harus menjelaskan kepada calon pekerja jenis pekerjaan, waktu/durasi pekerjaan serta besaran upahnya. Berdasarkan kejelasan hak dan kewajiban buruh/pengusaha inilah relasi buruh dan pengusaha di bangun.

Dalam Islam, besaran upah mesti sesuai dengan besaran jasa yang diberikan pekerja, jenis pekerjaan, waktu bekerja, dan tempat bekerja. Tidak dikaitkan dengan standar hidup mininum masyarakat. Pada saat yang sama perusahaan wajib memberikan upah dan hak-hak buruh sebagaimana akad yang telah disepakati, baik terkait besarannya maupun jadwal pembayarannya. Perusahaan haram mengurangi hak buruh, mengubah kontrak kerja secara sepihak, atau menunda-nunda pembayaran upah. Semua ini termasuk kezaliman. Rasululloh bersabda “Ada tiga golongan yang Aku musuhi pada Hari Kiamat: seseorang yang berjanji atas nama-Ku kemudian ingkar; seseorang yang menjual orang merdeka kemudian menikmati hasilnya; seseorang yang memperkerjakan buruh dan buruh tersebut telah menyempurnakan pekerjaannya, namun ia tidak memberikan upahnya.” (HR al-Bukhari).

Jika cara pandang islam yang digunakan, maka tidak hanya buruh yang menikmati kehidupan sejahtera tetapi para pengusaha pun akan nyaman dalam mengelola perusahaannya. Para pengusaha tidak perlu lagi mengalokasikan anggaran yang besar untuk membayar asuransi kesehatan setiap para pekerjanya. Pada saat yang sama tidak dibutuhkan lagi anggaran jasa keamanan untuk menjaga keberlangsungan produksi dan keamanan asetnya. Semuanya sudah disediakan secara cuma-cuma oleh negara. Negara difungsikan dalam Islam sebagai Pelayan dan Penjaga Masyarakat, setiap individu warga negaranya, tanpa membedakan ras, warna kulit dan agama, baik buruh maupun pengusaha.

Olehkarenanya sudah saatnya tinggalkan kapitalisme, terapkan Islam Kaffah, niscaya akan hadir keberkahan dari langit dan bumi. Janji Allah SWT sebagai Pemilik alam semesta “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al-A’râf [7]: 96).
Wa Allahu a’lam bis shawwab.