Di Masa Pandemi, Keluarga Tetap Harmoni

Pada sebagian orang, menikah menjadi sebuah impian. Sebab mereka berpikir hal itu bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Apalagi kalau melihat pasangan selebritis yang baru menikah dan menampilkan keuwuan mereka di media sosial. Membuat netizen yang single berkeinginan untuk menikah.

Menikah juga dijadikan solusi bagi sebagian orang yang memiliki masalah kesulitan ekonomi, apalagi di tengah pandemi covid. Sehingga di beberapa media dikabarkan bahwa di masa pandemi ini daftar pernikahan semakin banyak.

Namun bertolak belakang dengan hal itu, beberapa hari terakhir, netizen dihebohkan oleh sebuah video viral di jagat maya yang menunjukan puluhan pasangan suami-istri sedang mengantri di Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Video itu diunggah oleh akun Instagram @bandung.update.

Saat dikonfirmasi kepada Humas PA Kabupaten Bandung Suharja, ia membenarkan hal tersebut. Antrean tersebut terjadi sejak pagi hari sebelum persidangan dimulai pada pukul 09.00 WIB. (detiknews. com, 24/08/20)

Melihat hal tersebut, Ketua DPRD Kota Bandung, Tedy Rusmawan menilai tingginya angka perceraian dipengaruhi oleh kualitas pembinaan pendidikan
pra-nikah. Selain persoalan ekonomi yang terjadi sebagai dampak penyebaran Covid-19. (galamedianews. com, 27/08/20)

Banyaknya pasangan yang mengajukan cerai, dengan berbagai alasan. Selain masalah ekonomi, ada juga karena masalah perselingkuhan, KDTR, ketidakharmonisan, dan sebagainya. Semuanya itu lahir dari ketidakmampuan setiap pasangan dalam menyelesaikan berbagai problem pernikahan.

Hanya saja, ketika melihat angka tingginya daftar perceraian, tentu yang menjadi penyebab utama bukan sekedar masalah individu. Ada problem sistemik yang berkontribusi melahirkan itu semua.

Pertama, fakta ini menjadi sebuah konfirmasi kegagalan sistem pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini dalam membentuk pribadi yang solutif. Pendidikan yang diberikan sejak usia dini, dasar, menengah bahkan sampai perguruan tinggi, tidak dijamin mampu melahirkan manusia yang siap menikah. Sebagai bukti, adanya Pembinaan Pendidikan Pra-Nikah.

Kedua, perceraian karena perselingkuhan, KDTR, ini lahir dari sistem demokrasi yang mengagungkan kebebasan.

Ketiga, perceraian karena masalah ekonomi ini akibat diterapkannya sistem kapitalisme. Sehingga di negeri yang sangat kaya akan Sumber Daya Alamnya ini, masih terdapat banyak rakyat yang miskin.

Karena itu, jika sistem kapitalisme sekulerisme yang diterapkan, maka kebahagiaan yang didambakan dalam pernikahan, menjadi sebuah fatamorgana. Ditambah masa pandemi membuat ekonomi kian sulit, sehingga menjadi pemicu keretakan rumah tangga.

Solusi Islam Menjaga Ketahanan Keluraga

Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab utama dalam menjamin pendidikan bagi seluruh rakyat. Pendidikan yang berbasis akidah Islam memiliki tujuan untuk melahirkan manusia yang berkepribadian Islam. Siap menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Oleh karena itu, tidaklah lagi diperlukan Pembinaan Pendidikan Pra-Nikan, sebab mereka dibina di sekolah, salah satunya agar siap nikah.

Sistem pendidikan Islam telah terbukti mampu melahirkan para suami yang bertanggung jawab, juga ayah yang hebat untuk anak-anaknya. Juga melahirkan para istri yang shalehah, juga ibu yang cerdas, sehingga mampu mencetak generasi berkualitas. Semua bukti itu bisa kita lihat dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, para sahabat dan generasi shaleh setelahnya.

Selain itu, Islam juga mempunyai aturan dalam berbagai permasalahan. Ketika aturan itu diterapkan, makan akan mampu menjamin kebahagiaan dan ketenangan. Demikian juga dengan pernikahan. Jika dalam berumah tangga menjadikan Islam sebagai aturan, setiap pasangan memahami dan mengamalkan apa yang menjadi hak dan kewajibannya, maka kebahagiaan yang dicita-citakan akan terwujud.

Allah swt. berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(Qs An-Nahl [16]:97).

Islam juga akan mampu menciptakan masyarakat yang gemar melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga akan meminimalisir terjadinya perilaku bebas yang akan merusak bangunan rumah tangga.

Penerapan sistem ekonomi Islam juga akan mampu menjamin kesejahteraan rakyat. Dengan jaminan kebutuhan dasar yang serba terjangkau, sehingga tidak akan membuat para istri kepayahan dalam mengatur keuangan. Penyediaan lapangan kerja bagi para suami, sehingga mereka mampu menjalankan kewajibannya dalam mencari nafkah. Para istri cukup di rumah, fokus menjalankan tugas sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tidak dipusingkan dengan harus mencari tambahan penghasilan. Negara juga berkewajiban menjamim layanan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis.

Di masa pandemi seperti hari ini, negara akan semakin memperhatikan urusan rakyat. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Umar bin Khattab ketika dilanda krisis. Selain menasehati masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, Umar pun memberi teladan untuk hidup secara hemat. Bahkan beliau tidak mau makan, sebelum rakyatnya makan.

Dengan penerapan sistem Islam seperti itu, maka tidak akan muncul masalah tingginya angka perceraian. Meski di masa pandemi, keluarga akan tetap harmoni.