Dibalik Wabah Covid-19, Adakah yang Diuntungkan?

Oleh:
1.Drs.Priyono,MSi (Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2.Siti Nur Aisah (Mahasiswa semester II Fakultas Geografi UMS)

Rasanya saat ini semua orang menjadi ahli dalam covid-19 karena semua postingan entah dari siapapun tidak lepas dari pemberitaan covid-19 meskipun kita hanya sebagi ahli transfer atau ahli share. Kita kadang membaca apa saja yang dishare dan bukan pembaca yang cerdas, pada hal berita di medsos kadang benar dan kadang hoax.

Hentikan membaca corona bila tidak ingin depresi berkepanjangan. Terlalu berlebihan pemberitaan covid-19 bisa jadi menjadi sebuah sidrome bagi masyarakat. Pemerintah harus punya strategi khusus untuk menekan angka penyebaran akan tetapi masyarakat harus nyaman tidak malah tidak aman.

Pemerintah agaknya harus memutar otak guna menekan angka penyebaran Covid-19, pasalnya jumlah kasus positif di Indonesia kian hari terus bertambah jumlahnya. Hal tersebut tentunya berimbas pada tenaga medis yang harus bekerja lebih keras lagi merawat pasien yang jumlahnya terus bertambah.

Kerja keras tenaga medis pun berbuah manis, dapat kita lihat per 9 April sebanyak 222 pasien dinyatakan sudah sembuh dan dapat dipulangkan. Tentu Pemerintah juga tidak boleh berfikir parsial, harus ada kompensasi bagi mereka dengan memberikan subsidi bagi rakyat kecil yang terkena dampak langsung covid-19.

Di sisi yang lain, rakyat juga responsive. Ketika orang tidak boleh keluar rumah berarti tidak memperoleh pendapatan sehingga mereka perlu dipikirkan keberlangsungan hidupnya. Maka sekarang para pedagang sayur harus kreatif, jemput bola mendekati pelanggan ibu ibu yang tidak keluar rumah, pedagang beras harus juga kreatif door to door, termasuk tukang cukur hrs rajin keliling rumah. Masa covid-19 dituntut kreativitas agar tidak kehilangan pendapatan.

Tentu saja banyak krisis yang dialami oleh negara tidak hanya di Indonesia saja, akan tetapi hampir seluruh penjuru dunia. Satu hal yang hampir luput dari pengawasan kita yaitu nilai tukar rupiah yang semakin melambung hinga tembus di angka Rp16.157.30. Bahkan, digadang-gadang krisis yang diakibatkan karena pandemi Covid-19 lebih kompleks dibanding krisis yang terjadi pada tahun 1997-1998 dan 2008-2009.

Berbicara masalah krisis, saya teringat akan satu pepatah tua Chinna yang berbunyi “krisis adalah kombinasi dari resiko dan peluang”.

Mengapa dapat dikatakan demikian?

Pertama yaitu resiko, memang sudah banyak kerugian yang diakibatkan karena adanya penyebaran pandemi Covid-19. Hampir setiap elemen kehidupan merasakan dampak dari kasus tersebut. Mulai dari perorangan hingga negara dapat mengalami resiko serta kemungkinan terburuk apabila kasus ini tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Mulai dari individu yang beresiko tertular virus serta kehilangan pekerjaan bahkan kemungkinan terburuknya yaitu meninggal dunia, hingga negara yang beresiko mengalami krisis moneter, sedangkan sisi yang lain mengungkapkan bahwa penyebaran pandemi membuka peluang dan keuntungan tersendiri bagi sebagian pihak.

Apakah penyebaran Covid-19 mendatangkan peluang hingga keuntungan?

Jawabannya adalah iya, beberapa mengungkapkan bahwa penyebran virus ini mendatangkan berkah tersendiri. Katakanlah, terbukanya peluang lapangan pekerjaan bagi sebagian orang. Beberapa konveksi mulai beralih untuk membuat masker yang terbuat dari kain, melonjaknya jumlah pesanan masker menuntut pemilik konveksi untuk menambah jumlah karyawan guna memenuhi target kebutuhan pasar.

Tidak hanya pemilik konveksi saja yang merasakan imbas dari peluang tersebut, akan tetapi masyarakat juga berlomba-lomba untuk berjualan atribut penangkal corona seperti masker kain dan hand sanitizer.

Seperti yang dialami oleh salah satu pelajar yang bernama Innaya, ia menuturkan bahwa penjualan masker naik setelah merebaknya penyebaran Covid-19. Keuntungan yang diraupnya sekitar 50% untuk setiap masker yang dapat ia jual.

Lain halnya dengan hand sanitizer, banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membuat hand sanitizer sendiri. Namun, sebenarnya tindakan tersebut tidak disarankan karen dalam pembuatan hand sanitizer haruslah menggunakan takaran laboratorium dan alat-alat yang sangat steril dan tidak boleh secara sembarangan. Pertama dan yang paling uatama yaitu kita cukup mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir selama 20 detik.

Lantas siapa pihak atau sektor yang meraup keuntungan akibat pandemi covid-19?

Beberapa sektor mengalami kelumpuhan sebut saja sektor ekonomi, tapi ternyata ada pula yang mengalami keuntungan, yaitu sektor industri dan jasa, serta dunia farmasi. Mengapa? Pasalnya pemberlakuan physical distancing membatasi ranah gerak seseorang dan enggan membuatnya untuk harus berpergian. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berbasis online pun mengalami kenaikan pelanggan yang cukup signifikan. Pelaku ekonomi yang merasakan keuntungan tersebut antara lain:

1. Pekerja Pabrik Tekstil
Tidak dapat dipungkiri bahwa pekerja pabrik turut berperan besar dalam penanganan pandemi Covid-19. pasalnya mereka membuat APD (Alat Pelindung Diri), msker, serta peralatan yang lainnya agar dapat dikenakan oleh petugas medis dalam merawat pasien yang terjangkit virus corona.Dikarenakan kebutuhan yang begitu banyak mereka harus bekerja lembur guna memenuhi sasaran. Bahkan terkadang harus tetap masuk di saat hari libur, hal tersebut didasari agar pekerja tidak berpergian yang pada akhirnya beresiko terjangkit covid-19. Hasil kerja keras pun terbayar dengan upah lembur yang bisa naik 2 kali lipat dari biasanya.

2. Berdagang di Online-Shop
Di saat pandemi seperti ini banyak masyarakat yang takut jika harus berpergian untuk berbelanja kebutuhan. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk berbelanja melalui aplikasi secara online. Bahkan, beberapa pusat perbelanjaan banyak yang menawarkan jasa antar belanjaan agar konsumen tetap dapat berada di rumah demi mencegah penyebaran pandemi.

3. Pekerja Ojek Online
Tidak berbeda dengan pekerja ojek online yang tetap bekerja meski dalam kondisi yang kurang kondusif seperti sekarang ini. Mereka tetap bekerja mengntarkan pesanan pelanggan dengan harapan pelanggan tetap dapat berada di rumah dengan aman. Memang untuk konsumen ojek online jemput-antar mengalami penurunan, tapi untuk konsumen yang membutuhkan jasa ambil atau beli barang mengalami kenaikan yang cukup berarti.

4. Pekerja farmasi
Dunia farmasi pun tidak mau ketinggalan, karena kita sedang melawan virus yang mana membutuhkan obat maka para pekerja di dunia farmasi atau obat-obatan turut bekerja keras terutama di perusahaan yang memproduksi vaksin.
Demikianlah beberapa sektor serta tokoh yang merasakan keuntungan yang diakibatkan karena adanya penyebaran pandemi Covid-19. Semoga lekas membaik keadaan dan kita senantiasa diberi keselamatan. Aamiin (*)