DINAMIKA KEPENDUDUKAN DUNIA SECARA SPASIAL DAN PROSPEKNYA

Oleh
1.Drs.Priyono,MSi (Dosen dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta=UMS)
2.Siti Nur Aisah(Mhsiwi smt 2 F Geografi UMS ,aktif di bidang penerbitan )

Apa yang dipikirkan orang ketika mendengar kata dinamika kependudukan? Mungkin sebagian besar orang termasuk kami akan sepakat bila istilah tersebut dikaitkan dengan masalah kependudukan yang sangat kompleks dan laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Menurut Kartomo (dalam, Vannisa) beliau mengungkapkan pengertian tentang penduduk sebagai sejumlah orang yang mendiami suatu daerah tertentu.

Apabila suatu daerah didiami oleh banyak orang dan menetap di sana, maka itu bisa diartikan sebagai penduduk, lepas ia menjadi warga negaranya atau bukan.

Penduduk adalah komponen yang sangat dinamis, dia bertamabah karena proses kelahiran dan dia akan berkurang karena proses kematian dan pengaruh rekayasa migrasi masuk yang menambah jumlah penduduk suatu daerah serta migrasi keluar yang berfungsi sebagai keseimbangan.

Dalam kamus demografi sering disebut sebagai hukum keseimbangan atau persamaan berimbang dalam demografi.
Dinamika penduduk sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu kelahiran, kematian, migrasi penduduk, dan kondisi sosil ekonomi dan budaya yang berkembang di masyarakat.

Bicara soal kelahiran dan kematian, hal ini tentu saja erat kaitannya dengan jumlah penduduk yang ada di suatu daerah. Semakin tinggi angka kelahiran jika tidak diimbangi dengan angka kematian yang tinggi pula maka dapat dipastikan daerah tersebut akan mengalami pertumbuhan penduduk yang tinggi dan menjadi salah satu indikator negara berkembang.

Jumlah penduduk akan menentukan kondisi social, ekonomi, budaya dan persoalan di suatu Negara sebab jumlah penduduk memerlukan fasilitas kehidupan yang bila tidak bisa terpenuhi akan menimbulakan problem kependudukan, lebih lebih jika dikaitkan kualitas penduduk yang rendah.

Akumulasi dari dinamika itu, kini kita saksikan performance penduduk di muka planet bumi ini yang dihuni oleh 7.691,5 juta atau 7,7 miliar jiwa yang tersebar secara spasial di berbagai benua dan gabungan Negara dan Negara secara tidak merata.

Penduduk dunia ternyata yng mendiami Asia sebesar 60 persen dan sisanya tersebar tapi di beberapa titik kumpul seperti benua Afrika di Nigeria dengan jumlah penduduk 210 juta, benua Amerika di US dengan jumlah 329,2 juta dan Amerika Selatan di Brazil denga penghuni 209 juta jiwa, menjadi penduduk yang potensial berkembang di masa yang akan datang.

Kelima Negara yang jumlah penduduknya terbesar di dunia adalah China di Asia(1.398 miliar), disusul nomor 2 juga di Asia yaitu India(1.391,9 miliar), kemudian nomor 3 negara Amerika Serikat (329,2 juta) dan Indonesia di Asia (268,6 juta) dan nomor 5 di Brazil (209 juta). Tiga dari lima besar jumlah penduduk dunia ada di Asia dan kelimanya bisa dikatakan mewakili agama besar di dunia seperti USA identik Kristen Protestan, Brazil identik Katholik, Indonesia identik Islam dan India identik Hindu dan China identik Kong Hu Chu.

Ternyata keberagaman kependudukan itu tidak hanya terjadi di dalam struktur penduduk seperti sebaran spatial jumlah penduduk, tetapi dalam hal proses atau dinamika penduduk seperti kelahiran juga terjadi tidak jauh berbeda. Beragam dalam distribusi proses secara spasial. Sebagai contoh fenomena tersebut dijumpai di negara Niger, dengan angka kelahiran total (TFR) tertinggi di dunia yaitu 7 kelahiran per wanita selama masa hidup. Sebanyak 46% populasi usia dibawah 15 tahun terdapat di negara Afrika Tengah sehingga menjadi wilayah dengan rata-rata penduduk termuda di dunia, sedangkan 21% penduduk dengan usia lebih dari 65 tahun mendominasi belahan bumi Eropa, oleh karenanya menjadi wilayah dengan rata-rata penduduk tertua di dunia.

Lain kisahnya yang terjadi pada negara maju, biasanya angka kelahiran cenderung rendah sebanding dengan angka kematian. Hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa tingkat kesejahteraan masyarakatnya yang cukup tinggi.

Layaknya yang terjadi di negara Makau yang memiliki angka kelahiran total(TFR) terendah di dunia yaitu 0,9 kelahiran per wanita selama masa hidup. Posisi kedua ditempati oleh Korea Selatan dan Andora yang mana keduanya terletak di angka 1, sementara itu wanita di Amerika Serikat memiliki rata-rata 1,7 kelahiran seumur hidup mereka. Wanita di China memiliki angka TFR 1,6 anak; India 2,2 anak. Angka TFR tertinggi umumnya mengelompok di Negara Afrika dan terendah di Negara Eropa misal Itali(1,3 anak), di Canada(1,5 anak) dan Australia(1,7anak). Ambil contoh di Afrika misalnya Niger(7anak), Mali(6,3anak),Somalia(6,2 anak),Angola(6,2 anak) dan Chad(6,0 anak).

Keberagaman distribusi spasial angka kependudukan itu dipengaruhi oleh berbagai factor yang saling terkait mulai dari faham atau mazab yang dianut oleh kelompok Negara tersebut.

Misalnya dahulu China dan Negara Asia timur banyak yang mengikuti mazab Marxisme, tidak setuju dengan kontrol kelahiran dan akhirnya jumlah penduduk meledak seperti sekarang dan baru kebijakan berubah anti natalis.

Eropa barat dan sekitarnya banyak menganut mazab Malthuisme dan Neo malthuisme , yang berprinsip penduduk harus dikendalikan dan sebagian yang lain mengacu pada mazab kontemporer, yang lebih humanis dalam mengontrol kelahiran. Disamping itu penurunan kelahiran dan kematian juga dipengaruhi proses teori transisi demografi, yang saat ini Negara maju sudah berada di tahap akhir transisi yang ditandai menurunkan angka kelahiran dan kematian secara drastic sedang di Negara berkembang masih dalam proses transisi demografi.

Meningkatnya jumlah penduduk dunia tidak lepas dari perkembangan umat manusia. Berdasarkan sejarah pertumbuhan penduduk, perhitungan dimulai dari zaman kelahiran Nabi Isa A.s yaitu tepatnya pada tahun 0 masehi. Diperkirakan jumlah penduduk pada saat itu berjumlah sekitar 250 juta dengan angka pertumbuhan yang relatif kecil yaitu sekitar 0,04 persen setiap tahunnya.

Lambat laun yaitu sekitar abad 18 terjadi revolusi industri yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan penduduk yang terus mengalami peningkatan.

Perbedaan jumlah penduduk antar benua tersebut juga dipengaruhi oleh faktor kondisi lingkungan. Misalnya saja Benua Amerika, benua yang secara geografis terletak di sebelah timur Samudra Pasifik ini memiliki iklim tropis pada bagian selatan dan subtropis pada bagian utara, sehingga cocok untuk ditempati manusia. Berbeda dengan benua Antartika, daerah tersebut menjadi salah satu tempat terdingin di bumi, oleh karenanya sangat sedikit manusia yang tinggal dan bermukim disana. Mengapa tidak? Hampir seluruh permukaanya tertutup oleh es tebal yang membuat manusia tidak mampu bertahan dengan peralatan seadanya, dengan luas daerah yang mencapai 14 juta km² daerah tersebut hanya dihuni kurang lebih 5.000 penduduk sementara yang tidak tinggal secara permanen.

Sebenarnya, permasalahan terkait ilkim yang dapat memengaruhi pertumbuhan penduduk tidak hanya terjadi pada Benua Antartika, daerah terdingin di muka bumi yang menyebabkan manusia sukar untuk beradaptasi disana. Namun, kita juga perlu melihat permasalahn terkait iklim yang terjadi pada Benua Afrika. Benua tersebut menjadi salah satu daerah terpanas di muka bumi, curah hujan yang tergolong rendah memaksa manusia untuk beradaptasi lebih baik agar dapat melangsungkan kehidupannya.

Selain faktor iklim yang memengaruhi pertumbuhan penduduk, permasalahan kependudukan yang terjadi di Benua Asia saya rasa lebih kompleks mengingat benua tersebut juga merupakan benua terluas yang ada saat ini.

Prospek dinamika kependudukan ke depan akan terjadi pergeseran yang cukup signifikan. Mencermati dua sumber data penduduk Internasional standar dunia yaitu World Population Data Sheet 2019 dan proyeksinya dan World population Booklet 2019 dan variannya maka ke depan di Negara maju akan kebanjiran penduduk usia tua 65 keatas karena kesejahteraan meningkat sehingga menjadikan usia harapan hidup juga akan meningkat dan akan akan menimbulkan problem tersendiri.Jika tahun 2018, mereka ageng population sebesar 9 persen di dunia tapi proyeksi tahun 20150 meningkat drastic menjadi 16 persen dan sebaliknya persentase penduduk umur kurang 15 tahun sebesar 26 persen pada tahun 2018 akan menurun menjadi 21 persen. Setelah Asia , nampaknya potensi ledakan penduduk akan terjadi di Afrika, mengingat angka CDR mapun TFR sangat tinggi dan melampui batas.

Penggunaan alat kontrasepsi untuk menurunkan kelahiran sangat efektif di Negara maju tapi sebaliknya sangat lamban di Negara berkembang karena factor sumberdaya baik manusia maupun keuangan dan komitmen pemerintah. Kesemuanya akan berimbas pada kondisi pendidikan, kesempatan kerja, kemiskinan dan kesejahteraan rakyat.

Struktur umur penduduk dunia dari tahun 2018 hingga 2050, pada umur kurang dari 15 tahun akan menurun secara relative, termasuk kategori umur 15-24 tahun juga dicresing dan umur 25-64 tahun relative stabil, kemudian pada usia 65 tahun keatas mengalami peningkatan drastis. (*)