Diskriminasi Jilbab Termasuk Islamofobia

Oleh: Dede Anggi 

Pada hari jumat 2 februari 2021 sekretaris pp Muhammadiyah Abdul mu’ti mengomentari mengenai SKB 3 menteri tentang seragam sekolah. ia pun mengatakan bahwa pihak nya tidak mempersoalkan hal tersebut apalagi persoalan itu tidak ada kaitannya di dengan mutu pendidikan. SKB ini pun tidak serta merta muncul begitu saja. hal ini didasari karena ada nya orang tua siswi non muslim yang tidak setuju memakai jilbab disalah satu sekolah di kota padang Belakangan terungkap, siswi tersebut bernama Jeni Cahyani Hia. Ia merupakan salah satu siswi non-Muslim di sekolah tersebut. Ia memang menolak mengenakan jilbab. Video adu argumen antara orang tua Jeni dan pihak sekolah tentang penggunaan kerudung atau jilbab pun viral di media sosial.

Astaghfirullah, miris memang melihat fakta kasus diatas. Walaupun pada faktanya pihak sekolah sudah mengklarifikasi bahwa mereka tidak pernah memaksa siswi non muslim untuk memakai hijab, namun entah kenapa satu siswi tersebut justru merasa di paksa. Dengan alasan hak setiap siswa, SKB ini sebenarnya bertentangan dengan tujuan Pendidikan, yaitu untuk menciptakan manusia yang bertakwa. Alih-alih mendidik agar mentaati agama, malah mendorong para siswa agar bebas berperilaku. Inilah realitas negara yang menerapkan sistem Demokrasi yang akidahnya sekuler alias memisahkan agama dari kehidupan. Adanya SKB ini juga sebagai bentuk phobia rezim sekuler terhadap syari’at Islam. Dan moment ini dimanfaatkan juga oleh para pengidap Islamofobia, dimana mereka lantang berteriak intoleran ketika korban nya adalah non muslim. namun mereka hanya berdiam diri ketika korban itu adalah seorang muslim yang sering mendapat diskriminasi termasuk isu hijab ini.