Diuji Pandemi, Apa Kabar Nasib Pencari Kerja di Indonesia ?

Oleh : Azizah Noerma Gupitasari

Mahasiswa semester 6 Fakultas Geografi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

 Mewabahnya virus COVID-19 atau sering disebut virus Corona menambah daftar panjang permasalahan yang harus di hadapi masyarakat dunia tak terkecuali Indonesia. Kemunculan virus tersebut terdeteksi pertama kali di negara China pada awal Desember tahun 2019 dan mulai menyebar di seluruh dunia sehingga lebih dari 1 juta masyarakat dunia terinfeksi. Adanya COVID-19 tidak hanya berimbas pada permasalahan kesehatan tetapi juga nasib pencari kerja dan ekonomi masyarakat di Indonesia. Berdasarkan keterangan Direktur Jenderal ILO, Guy Rider “bahwa adanya COVID-19 bukan lagi krisis kesehatan global, tetapi menjadi krisis pasar tenaga kerja dan ekonomi yang berdampak terhadap hidup orang banyak “.

Definisi mencari kerja menurut (An ILO Manual on Concepts and Methods) adalah kegiatan seseorang yang pada saat survey, orang tersebut sedang mencari pekerjaan seperti mereka : (1) yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan ; (2) yang sudah pernah bekerja tetapi karena sesuatu hal berhenti atau diberhentikan dan sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan ; (3) yang bekerja atau mempunyai pekerjaan tetapi karena suatu hal masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan adalah hal yang sangat dubutuhkan untuk menopang keberlangsungan hidup bagi semua lapisan masyarakat, baik masyarakat taraf hidup rendah, sedang, maupun tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2020 mencapai 6,88 juta orang. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 0,06 juta atau 60 ribu orang dibandingkan pada Februari 2019. Naiknya tingkat pengangguran di Indonesia seiring terjadinya peningkatan angkatan kerja Indonesia per Februari 2020 yang mencapai 137,91 juta orang. Meski jumlah angkatan kerja naik tetapi tingkat partisipasi angkatan kerja menurun, hal ini berkaitan dengan fenomena pandemi akhir-akhir ini sehingga berimbas pada partisipasi angkatan kerja yang dapat menentukan nasib pencari kerja saat ini.

Di Indonesia sendiri dengan adanya virus COVID-19, pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan seperti Social Distancing yang mengharuskan semua orang menjaga jarak dan tidak melakukan kegiatan di luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Kebijakan tersebut tidak serta merta menguntungkan bagi angkatan pencari kerja yang menggantungkan nasib mereka pada dibukanya lowongan pekerjaan di tengah pandemi.

Lalu, apa kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengatasi permasalahan pencari kerja ditengah pandemi ?

Mengatasi permasalahan pencari kerja di masa pandemi, pemerintah mengeluarkan kebijakan “Kartu Prakerja”, program tersebut diprioritaskan bagi pencari kerja dan pelaku usaha mikro kecil, menengah, yang terdampak wabah COVID-19. Dalam pemberian program tersebut, tentunya pemerintah tidak secara cuma-cuma mengalokasikan kebijakan bagi semua orang, tetapi perlu adanya seleksi penerima Kartu Prakerja yang dijadwalkan dengan tahap tiga puluh gelombang. Lalu bagaimana nasib para pencari kerja yang tidak lolos seleksi ? hal ini menjadi pertanyaan besar dan langkah pesimis bagi mereka pencari kerja menyusun strategi dan persyaratan yang harus dipersiapkan. Adanya solusi yang ditawarkan pemerintah tidak melulu solutif karena masih banyak ketimpangan dalam konteks “nasib dan kesempatan” para pencari kerja.

Tidak seratus persen terserapnya pencari kerja pada lapangan pekerjaan, jelas menimbulkan ketimpangan baik dari sisi pribadi maupun golongan. Ditambah adanya wabah pandemi yang menjadi momok penghalang keberlangsungan hidup termasuk usaha mencari kerja. Nasib dipertanyakan, kelangsungan hidup dipertaruhkan, bergantung pada kemampuan dan kebijakan. Entah sampai kapan wabah pandemi berakhir, semoga segala permasalahan segera terselesaikan dan ketimpangan para pencari kerja tidak lagi menjadi beban hidup masyarakat di Indonesia. (*)