Fenomena Peningkatan Angka Pengangguran Di Indonesia Selama Pandemi Covid-19

Oleh: Dhiani NF

(Mahasiswa Geografi UMS)

Virus Covid-19 menyebar diseluruh wilayah Indonesia terutama kota-kota besar yang menjadi pusat penyebarannya. Pandemi Covid-19 tentunya berdampak buruk pada sektor ekonomi. Merosotnya produktivitas pada sektor industri, transportasi, dan sektor lainnya dikarenakan mulai berkurangnya aktivitas penduduk yang melibatkan kegiatan mobilitas dan migrasi. Dampak buruk yang menimpa sektor perekonomian memberi pengaruh terhadap kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia.

Pengangguran terbuka berarti bahwa angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Pada Februari 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka sebesar 6,87 juta orang dengan presentase sebesar 5,13%, sedangkan pada Februari 2019 jumlah pengangguran terbuka sebesar 6,82 juta orang dengan presentase sebesar 5,01%. Terjadi pengurangan tingkat pengangguran tebuka pada Februari tahun 2019 sebersar 50.000 orang. Namun pada Ferbruari 2020 di era awal masa pandemi Covid-19 terdapat kenaikan tingkat pengangguran terbuka sejumlah 60.000 orang dengan persentase sebesar 4,99% atau dengan jumlah sekitar 6,88 juta orang.

Penurunan persentase dan kenaikan jumlah dikarenakan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja 137,91 juta orang atau naik 1,73 juta orang. Angka ini kembali lebih tinggi dari pada posisi 2 tahun yang lalu. Fenomena ini cukup mengejutkan seluruh warga Indonesia terutama yang terkena dampak kemerosotan perekonomian ini.

Besarnya penurunan pemasukan perusahaan bukan hanya merugikan perusahaan melainkan karyawannya juga mengalami dampak buruk di masa pandemi ini. Penurunan pemasukan tentu data disebabkan karena turunya permintaan pasar yang menyebabkan rendahnya produktivitas perusahaan.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi bahwa akan ada kenaikan tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2020 sebesar 8,1% – 9,2% dengan jumlah kenaikan sebesar 4 sampai 5,5 juta orang. Fenomena kenaikan angka pengangguran masih berlanjut hingga tahun 2021 dengan prediksi 7,7% – 9,1% atau dengan jumlah sebesar 10,7 sampai 12,7 juta jiwa. Kenaikan tingkat pengangguran terbuka akan terus terjadi selama pandemi Covid-19 berlangsung, tidak bisa ditentukan dengan pasti kapan pandemi ini berakhir.

Kebijakan Perusahaan Selama Pandemi Covid-19

Sektor industri, manufaktur, jasa, perdagangan, konstruksi, transportasi sebagai sektor yang memiliki banyak karyawan dengan banyak hasil produksi. Fenomena yang terjadi dari sektor tersebut adalah kemungkinan sebagai sektor yang banyak memberhentikan kerja karyawannya dengan kebijakan perusahaan yang disebut Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di era pandemi ini. PHK terjadi karena penurunan konsumsi produk perusahaan di era ini sehingga hal tersebut berlaku pada penurunan pendapatan perusahaan yang berbanding terbalik sebelum terjadi pandemi Covid-19.

Kerugian yang diakibatkan karena penurunan daya jual menjadikan perusahaan mengalami kesulitan dalam membayar gaji karyawannya. Sehingga dalam mengatasi masalah ini mulai diberlakukannya sistem PHK. Selain sistem PHK terdapat kebijakan lain seperti pemotongan gaji karyawan dengan jumlah yang diterima lebih sedikit dari biasanya.

Bahkan beberapa perusahaan memberlakukan kebijakan pengurangan hari kerja atau dengan kata lain masuk dengan bergiliran. Jika dilihat sektor industri, manufaktur, jasa, perdagangan, konstruksi, transportasi sebagai sektor dengan hasil produksi baik jasa maupun barang yang besar tentunya memiliki proses distribusi yang menyebabkan terjadinya mobilitas sehingga menjadikan potensi adanya penyebaran Virus Covid-19.

Maka dari faktor mobilitas ini dibatasi agar virus tidak menyebar ke daerah lain melalui kontak fisik guna mengurangi penyebaran Virus Covid-19. Putusnya mata rantai Covid-19 didukung dengan adanya kebijakan pengurangan mobilitas terutama dari daerah yang sudah terdampak. Dari kebijakan yang ada seperti PHK, pengurangan hari kerja, dan pemotongan gaji menyebabkan naiknya jumlah pengangguran terbuka. Dengan berjalannya waktu mulai dengan adanya new normal lowongan kerja sedikit demi sedikit mulai dibuka. Namun tenaga kerja yang terserap dari pengangguran terbuka belum seluruhnya. Semoga dalam waktu kedepan angka pengangguran terbuka mulai menurun seiring terbukanya lowongan pekerjaan. Sehingga dampak buruk pandemi Covid-19 pada sektor ekonomi dapat berkurang. (*)