G30S dalam Sudut Pandang Generasi Milenial

G30S dalam Sudut Pandang Generasi Milenial

Hampir setiap tahun menjelang tanggal 30 September, isu G30S selalu naik ke permukaan di media nasional kita. Ajakan nonton bareng film produksi era orde baru garapan Arifin C Noer yang telah berhenti sejak reformasi itupun kembali mencuat ke publik, tak terkecuali hampir semua chanel televisi ikut menayangankanya.

G30S atau disebut gestapu, ada juga yang menyebutnya gestok adalah sebuah peristiwa politik yang telah menjadi catatan kelam sejarah dari sebuah perjalanan bangsa Indonesia. Hampir lima dekade lebih kejadian itu sudah terlewat, namun isu politiknya masih terus bergulir panas hingga hari ini dan masih menyisakan banyak tanda tanya dalam benak masyarakat Indonesia terutama generasi setelah reformasi.

Bagi generasi milenial, G30S masih menjadi sumber kajian menarik yang masih menyisakan banyak misteri dan tanda tanya, selain kejadianya sudah cukup lama, merekapun saat ini hidup di era yang sangat jauh berbeda dari generasi masyarakat sebelumnya terlebih untuk sebuah informasi dan kajian sejarah yang lebih terbarukan.

Sesuatu hal yang wajar sikap skeptis para penyitas dan peneliti sejarah saat ini yang menganggap film produksi era orde baru garapan Arifin C Noer sudah tidak relevan dengan kondisi zaman saat ini karena itu bukanlah sebuah film dokumenter tapi lebih kepada film buatan rezim orde baru saat itu untuk kepentingan politiknya, dimana dalam film itu dibuat ada tokoh baik, jahat atau pahlawan yang muncul. Yang menarasikan gambaran G30S versi kekuasaan saat itu, sedangkan bagi para penyitas dan peneliti, film buatan tidak bisa menjadi dasar utama sebagai sebuah bahan kajian akademis sebagai referensi utama, lalu harus seperti apa dan bagaimana generasi saat ini melihat peristiwa 1965.

BACA JUGA:  GERAKAN LITERASI DAN FALSAFAH IQRO

Dalam sudut pandang para penyitas ada dua narasi besar tentang peristiwa 1965, yaitu sebelum 1965 dan sesudah 1965, selama ini narasi yang berkembang lebih banyak kepada peristiwa sebelum 1965 terutama zamanya orde baru yang menjadikan PKI sebagai organisasi kolektif yang menjadi dalang utama dari penyebab pecahnya G30S sedangkan hasil penelitian para penyitas ada juga unsur lainnya yang terlibat seperti adanya konflik internal Angkatan Darat, Soekarno, Soeharto, dan ada unsur asing terutama CIA (Dinas intelejen Amerika).