GERAKAN LITERASI DAN FALSAFAH IQRO

Literasi

Oleh : Harti Wijayanati, S. Pd., M. Pd.
(Guru di SMP Negeri 1 Purwakarta)

Menurut kamus online Merriam-Webster, literasi berasal dari istilah Latin “literature” yang berarti “bahan bacaan atau dasar yang bisa dijadikan rujukan”, dan bahasa Inggris “letter” yang berarti “kesusastraan atau karya sastra”.

Literasi adalah kemampuan melek huruf atau aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis, termasuk di dalamnya melek visual seperti yang tersirat dalam sebuah adegan, video dan gambar.

Literasi esensinya adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya.

Sederhananya, literasi mencakup kemampuan membaca “kata” dan membaca “dunia”, yang efeknya berpengaruh besar pada kemampuan individu dalam memberdayakan dan meningkatkan kualitas dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

Dalam konteks ini literasi sejatinya adalah proses pendidikan dalam arti sesungguhnya. Lawannya adalah buta huruf.

Baca Juga: Literasi Solusi dan Senjata Menangkal Hoax

Dalam ajaran Islam, tradisi literasi ditempatkan pada posisi yang strategis dan penting. Dalam ayat al-Qur’an yang pertama kali diterima oleh Nabi Muhammad SAW (QS. Al-Alaq 1-5) begitu jelas digambarkan tentang pentingnya tradisi literasi.

Diriwayatkan, ketika menerima wahyu pertama ini, Nabi Muhammad SAW secara psikologis sebetulnya belum merasa siap karena tidak terbiasa dengan tradisi baca-tulis (literasi), sehingga disebut sebagai Nabi yang ummiy (buta huruf).

Nabi Muhammad SAW mampu mengucapkan wahyu itu secara fasih dan benar

Namun, setelah ketiga kalinya “dipaksa” mengucapkan kata iqra’ (bacalah!) – melalui proses belajar dengan bimbingan Malaikat Jibril, akhirnya Nabi Muhammad SAW mampu mengucapkan wahyu itu secara fasih dan benar.

Kata Iqra’ yang berbentuk perintah (fi’lu amri), memberi pesan mendalam untuk dimulainya tradisi intelektual bagi seorang muslim. Iqra bismi rabbikal ladzi khalaq, berarti “Bacalah (apa-pun) asalkan diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT”.

BACA JUGA:  TBM Aksara Gelar Literasi Kemanusiaan, Gencarkan Gerakan Ayo Membaca

Objeknya adalah ayat-ayat Allah yang tersurat dan tersirat dalam literatur qur’aniyah dan kauniyah. Ayat qur’aniyah adalah ayat-ayat yang dibaca berupa tulisan – termasuk diantaranya kitab al-Qur’an, buku tafsir dan hadits serta buku keilmuan lainnya, yang melahirkan dasar-dasar logika deduktif (idealis).

Sedangkan ayat kauniyah adalah ayat-ayat fenomena alam semesta, yang melahirkan dasar-dasar logika induktif (empiris). Kedua logika inilah yang menjadi dasar logika ilmu pengetahuan modern sampai hari ini.

“Kata Iqra memberikan pelajaran bahwa langkah awal untuk mengadakan perubahan sosial yang baik harus diawali dengan iqra’,” demikian disimpulkan cendekiawan muslim, Ismail Raji al-Faruqi.

Di samping kata iqra’, ada dua tema lainnya yang berkaitan dengan tradisi intelektual, yaitu al-akram dan al-qalam. Kata al-akram (Iqra’ wa rabbuka al-akram) memberikan pemahaman, tidak boleh berhenti setelah iqra’ pertama, karena ada iqra’ selanjutnya.

Aktualisasi iqra’ dimatangkan dalam proses diskusi atau dialog sebagai proses pencarian keilmuan agar lebih mapan.

Tujuannya agar kita terbiasa terlibat dalam kesadaran dua sisi. Satu sisi, kita akan semakin mengenal diri kita ketika dihadapkan pada pengertian dan penghayatan teman diskusi kita dalam proses dialektika ilmu.

Sisi lain, diskusi juga akan membawa kita kepada kesadaran baru yang keluar dari diri sendiri, lalu menuju ke pengenalan orang lain dalam bingkai pencarian kebenaran bersama. Tujuan intinya, agar kita terbiasa bijaksana (mensifati sifat Allah SWT, al-akram) dalam berpikir, bertutur dan bersikap.

Tema selanjutnya adalah al-Qalam (pena) yang memainkan peran penting dalam tradisi intelektual Islam selanjutnya.

Allah SWT mengajarkan kita dengan perantaraan pena

Ayatnya menjelaskan bahwa “Allah SWT mengajarkan kita dengan perantaraan pena”. Pena adalah simbolisasi keilmuan yang telah matang.

BACA JUGA:  Pengabdian Mahasiswa sebagai Implementasi Salah Satu Tri Dharma Perguruan Tinggi

Tema ini memotivasi munculnya tradisi menulis sebagai tindak-lanjut dari membaca dan diskusi. Mengingat pentingnya tema ini, Allah SWT sampai bersumpah “Demi Pena”, dan dalam al-Qur’an sendiri ada satu surat yang diberi nama al-Qalam.

Tradisi ini yang memotivasi umat Islam menjadi umat terdidik. Pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan khazanah ilmu-ilmu klasik Yunani serta bangsa lainnya – ditambah dengan pembacaan terhadap fenomena alam, serta diiringi dengan tradisi diskusi dan menulis, telah menstimulasi lahirnya khazanah keilmuan baru.

Dalam semangat inilah Ibnu Sina berhasil merumuskan dasar-dasar ilmu kedokteran modern yang dituliskannya dalam kitab “al-Qanun fi al-Thib”, yang sampai sekarang karya besarnya itu tetap menjadi literasi penting bagi ahli-ahli kedokteran dunia.

Demikian pula dengan al-Khawarizmi (ahli matematika) dengan “Hisab al-Jabar wa al-Muqabala”-nya yang memperkenalkan kegunaan angka-angka terutama angka nol (0), Ibnu Rusyd dengan “Bidayat al-Mujtahid”-nya, Ibnu Hayyan, Ibnu bajah, al-Gozali dan ulama-intelektual muslim lainnya.

Penulis teringat ketika mengikuti Program Peningkatan Keprofesionalan Guru Jawa Barat Tahun 2010. Ketika itu penulis homestay selama satu bulan di Adelaide, salah satu kota yang memiliki model pendidikan terbaik di Australia.

Hasil karya terbaik mendapat apresiasi tinggi

Salah satunya adalah tradisi literasi yang sangat terprogram dengan baik. Peserta didik tidak hanya dimotivasi untuk meningkatkan minat baca, namun juga distimuli memproduksi hasil bacaan menjadi hasil karya intelektual melalui diskusi dan karya tulis atau gambar, yang kemudian hasilnya dipajangkan di dinding kelas, majalah dinding dan buletin sekolah. Hasil karya terbaik mendapat apresiasi tinggi dari seluruh warga sekolah.

Hal ini membuat peserta didik lebih termotivasi. Ada keinginan dan cita-cita, ada usaha dan kreasi, ada proses, ada hasil dan kemudian ada apresiasi.

BACA JUGA:  Ketika Pajak Masih menjadi Solusi, Ketentraman Sulit Dinanti

Yang menarik, di dinding kelas mereka terpajang beberapa kalimat motivasi, salah satunya diliterasi dari Francis Bacon, seorang pemikir pendidikan modern, “Membaca membuat kita menjadi penuh.

Diskusi membuat kita menjadi bijak… Menulis membuat kita menjadi cermat”. Harusnya ke arah ini gerakan literasi di sekolah diarahkan.(*)