Ghetto

Selama masih dalam teritori pasar, semua adalah warga pasar yang saling menghormati dan berbagi untung sesuai kadar dagangan. Tak lebih.
Perumahan eksklusif seolah meruang kembali GHETTO yang dipermak modern. Dulu ghetto adalah bentuk diskriminasi pemisahan orang ditempat yang tertutup, kumuh, padat, bersarang bersama para kecoa dan segala jenis binatang pengerat atau pengutil. Tanpa sarana prasarana manusiawi. Istilah ghetto merujuk pada pemukiman kaum minoritas. Tertindas! Itu dulu.

Salahkah Tauke, membuat ghetto eksklusif untuk pemilik hepeng banyak? Atau menampung segolongan orang yang segalanya hampir sama. Tentu tidak! Malah dianjurkan. Asal tak memunggungi aturan. Menjamurnya ghetto eksklusif, menaikkan derajat kemajuan sebuah kota. Dianggap berhasil melancungkan pembangunan dan taraf hidup masyarakat.
Praktik dan pranata sosial baru yang terjadi di ghetto eksklusif, membanting ikatan-ikatan tradisional. Seperti petinju yang meng KO (Knock Out) lawannya. Terkapar, terjungkal tak mampu berdiri tegak. Budaya lokal kehilangan kontrol terhadap lahirnya jabang bayi sistem sosial eksklusif tertentu -bounded system.

BACA JUGA:  Menanti Provisionalisme Partai Politik

Otoritas tradisional semacam, pupuhu, leube’, kepala suku, kepala rukun warga dan jabatan kepala-kepala tradisional lainnya, teronggok lesu dipojok. Percis kucing disiram air. Kehilangan otoritas, silau oleh sistem yang dibangun oleh logika pasar, ekonomi, sosial dan paham tertentu itu.

Padahal kearifan lokal bisa menjadi salah satu negosiasi kompetitif sebagai kontrol sosial dan jalan ketiga pada pusaran arus pasar global. Bukan The Third Way nya Anthony Giddens. Agar ghetto perumahan lebih berwarna seperti di pasar tradisional. Semua bisa masuk dan berdagang apa saja, asal saling menjaga dan menghormati. Tak peduli bau anyir ikan, bau keringat, atau warna kulit dan agama. (*)

OLEH: Kang Marbawi

BACA JUGA:  Mendamba Birokrasi tanpa Polusi dan Kolusi