Globalisasi dalam Dunia Pendidikan dan Tantangannya

oleh:
Dra. Tri Sunarsih ( Guru Geografi, MA. Pembangunan UIN Jakarta )
Dra.Hj.Umrotun,M.Si ( Dosen dan mantan WD III Fakultas Geografi UMS )

Globalisasi tidak dapat dihindari jika kita tidak ingin tergerus oleh zaman. Modernisasi di berbagai lini kehidupan tidak bisa terlepas dari arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Revolusi industri 4.0 yang menekankan pada digitalisasi, semua hal berkaitan dengan produksi bisa lebih efektif.

Dalam dunia pendidikan kita dapat memanfaatkan fasilitas yang dimiliki google ( google drive, google sites, google form , dsb ), segala yang kita lakukan kita input saat ini, kita sebagai “mesin” untuk menyimpan data di cloud. Manusia bukanlah robot tapi manusialah yang mengendalikannya, membuat perangkat software, hardware dan memrogramnya. Manusia tetaplah yang unggul , teknologi hanyalah salah satu karya dari ranah pengembangan kognitif dan psikomotoriknnya. Akan tetapi jika kita tidak mampu menguasai teknologi maka kita akan dikuasai oleh teknologi sehingga potensi yang ada pada manusia akan tergantikan oleh mesin atau teknologi.

Masusia secara naluriah dibekali oleh alam kemampuan untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta , manusia memiliki akal dan pikirannya untuk mampu mengembangkan potensinya. Potensi inteligent ( Intellectual Quotient), potensi sosial emosional (Emotional Quotient, potensi spiritual (Spiritual Quotient).

Potensi-potensi inilah yang akan dikembangkan dalam lembaga pendidikan formal, non formal maupun informal. Lembaga pendidikan formal tidak akan mampu tanpa adanya dukungan dari lingkungan keluarga sebagai awal terjadinya proses pendidikan (basic educational) bagi setiap insan manusia. Lingkungan masyarakat sebagai stake holder dan mitra sekolah juga berperan penting dalam proses pendidikan. Simbiosis yang terjadi ini akan memudahkan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan.

Dalam era globalisasi yang terjadi saat ini masuk dalam semua lini kehidupan, dalam bidang ekonomi, politik , bahkan dalam dunia pendidikan. Tekonologi informasi dan komunikasi menjadi faktor pendukung utama dalam globalisasi. Kehadiran globalisasi menuntut perubahan yang mendasar bagi setiap individu. Perubahan ini harus kita jadikan sebagi sebuah tantangan bukan ancaman.
Dunia pendidikan, pada masa pandemi saat ini mau tidak mau semua guru dituntut untuk mampu menguasai teknologi. Pembelajaran secara konvesional kita tinggalkan karena pembelajaran dilakukan dari jarak jauh dengan Daring ( dalam jaringan) dan Luring ( luar jaringan). Guru dan peserta didik bertatap muka dalam dunia maya dengan memanfaatkan teknologi informasi (zoom, google meet ) untuk dapat berkomunikasi dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM). Tidak mudah bagi guru dan siswa dengan perubahan sistem pembelajaran secara virtual ini secara tiba-tiba (radikal). Gaptek atau gagap teknologi dapat menghambat dalam proses transfer ilmu pengetahuan, untuk itu banyak lembaga-lembaga pendidikan memberikan pelatihan, webinar dan workshop untuk menambah wawasan dan pengetahuan baik untuk guru, tenaga pendidikan dan peserta didik. Guru harus berinovasi dengan selalu mengupdate wawasan di bidang teknologi digital maka sebagai sebuah keniscayaan bagi guru untuk berwebinar karena menjadi sebuah tuntutan dan tuntunan bila tidak ingin dipermalukan siswanya.

BACA JUGA:  Media Pembelajaran Berbentuk Animasi dan Video dengan Pendampingan KKN Tematik

Perkembangan teknologi yang cepat tidak boleh meninggalkan kodrat diciptakannya manusia sebagai penyelamat bumi dan ini yang harus ditekankan oleh guru pada siswanya, termasuk perilaku di bidang pendidikan sehingga siswa harus memiliki karakter yang kuat misalnya disiplin, kejujuran, etika ketika sedang mengikuti pembelajaran. Terciptanya manusia yang cerdas, handal dan memiliki ilmu pengetahuan yang maju ternyata belum cukup untuk menjadi penghuni sekaligus penyelamat bumi yang satu ini, itulah khalifah fil ard yang memiliki tugas tidak sekedar memakmurkan bumi tapi sekaligus menyelamtkan bumi dari kerakusan manusia yang mengeksploitasi isi bumi secara berlebihan. Mereka tidak saja memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi tapi juga beriman, yang selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah pada machluk ciptakannya. Filosofi transedental ini yang harus dimiliki oleh guru kita.