Haji : Simbol Status Atau Simbol Perubahan

Oleh:

1.Drs.H.Taryono,M.Si ( Dosen Fakultas Geografi UMS )

2.Drs.H.Priyono,M.Si ( Dosen Dan Wakil Dekan I Fak.Geografi UMS )

Inti haji adalah wukuf di padang Arafah. Dan kini prosesi itu sudah dilalui, tinggal para jamaah menunggu jadwal penerbangan untuk kembali ke negara masing masing dengan predikat H di depannya sebagai simbol bahwa mereka telah melaksanakan rukun islam yang kelima, yaitu menjalankan ibadah haji bagi yang mampu. Sambil menunggu kepulangan ke negara masing masing , banyak dimanfaatkan untuk refresing, berbelanja barang barang religi dan seterusnya untuk dibawa pulang bersama kepulangan mereka atau dikirim lewat jasa pengiriman. Barang barang itupun juga ditunggu oleh jamaah di tanah air masing masing , akan tetapi ada hal penting yang esensial yang bisa dishare ke tanah air yaitu gerakan perubahan cara beragama dan ber sosial masyarakat.

Dibalik predikat haji,  ada pesan kepada mereka yang sudah berhaji yang tertulis dalam QS Al Baqarah ayat 200 : “ Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka diantara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami(kebaikan)di dunia “dan di akherat dia tidak memperoleh bagian apapun  “.

Pesan ayat tersebut adalah yang berhaji harus selalu ingat kepada Allah, selalu meningkatkan keimanannya, dan lebih dari itu sampai kepada mencapai kebahagiaan tidak hanya di dunia tapi juga keduanya di akherat dan memiliki peran sentral dalam melakukan perubahan dalam kehidupan. Seorang yang sudah berhaji tentu memiliki keistimewaan baik pemahaman dan perilaku dalam bidang keagamaan maupun pada ranah kepedulian sosial masyarakat. Kenapa ? karena mereka  sudah memiliki pengalaman spiritual luar biasa di tanah suci , begitu dekat dengan Tuhannya, dengan menjalankan rukun islam, dari step by step baik di tanah Indonesia maupun tanah suci. Maka pantaslah jika umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya menaruh harapan yang besar bagi kemajuan bangsa. Maka begitu beliau sang haji meninggalkan kota suci Mekah untuk kembali ke negaranya masing masing, maka sebuah harapan dari haji tersebut sangat ditunggu.

Apa yang mau dikerjakan oleh Bapak ibu hajah dan haji tersebut sepulang dari tanah suci. Adakah kejutan yang akan dikerjakan dengan melakukan aksi nyata yang menakjubkan, atau biasa saja atau tidak ada perubahan sebelum dan sesudah haji ? Setiap orang yang melaksanakan haji tentu punya harapan agar menjadi haji mabrur dan mabrurah. Imam Nawawi mengatakan bahwa dikatakan haji mabrur jika mereka setelah ibadah haji, kemudian terjadi perubahan yang significan baik dari ucapan, sikap, perilaku dan aksi nyata untuk memperbaiki kondisi sosio, ekonomi dan religi masyarakat di sekitarnya. Jika ia, maka hajinya berhasil atau mabrur atau diterima oleh Allah swt, akan tetapi jika tidak ada perubahan maka hajinya agak sia sia juga.  Menurut ulama yang lain Hasan Basri bahwa seorang haji dikatakan mabrur atau diterima ibadahnya oleh Allah swt jika sepulang dari tanah suci , dia menjadi zuhud. Orang yang disebut zuhud adalah bukan berarti hanya fokus ibadah ritual melulu seperti sholat, zikir, puasa dan lainnya , akan tetapi orang tersebut tidak mau diperbudak oleh harta . Aktivitas keduniaan tetap nyata dan terus mengingat pada Allah swt, seperti yang diamanatkan dalam QS Al Qashas : “ Dan carilah pahala negeri akherat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia “.

Maka kemabruran haji akan ditentukan dari apa yang dikerjakan hari kemudian setelah ibadah haji selesai . mereka yang mabrur adalah yang memiliki keshalehan individu dan sosial. Agamanya baik yang kemudian berdampak pada keshalehan sosial dalam bentuk perhatian atau empati terhadap sesama, memupuk silaturahmi, selalu hadir dalam kesusahan orang lain, membawa perubahan yang lebih terhadap masyarakat di lingkungan, selalu terdepan dalam memberi solusi terhadap setiap problem dan menjadi teladan di masyarakat tentang kebaikan. Sehingga para alumni madrasah haji ini mampu membawa perubahan yang significant terhadap dinamika masyarakat baik di level lokal sampai nasional. Sejarah membuktikan contoh alumni haji pada jaman dulu yng memberi pengaruh kemajuan peradapan seperti Tuanku imam Bonjol, Pangeran Diponegoro memimpin perjuangan melawan penjajahan Belanda, Kyai Ahmad Dahlan mendirikan  Muhammadiyah, KH Hasyim Asy’ari mendirikan  NU  , kemudian Cokroaminoto, dll.

Oleh karena itu sangat diharapkan duta agama ini sepulang dari tanah suci akan membawa perubahan besar terhadap lingkungannya baik dari aspek religi maupun sosial keagamaan. Haji harus bergerak dan menggerakkan masyarakat termasuk memberi sumbangan yang berarti dalam menurunkan korupsi, kolusi dan nepotisme serta menyeselesaikan problem Nasional lainnya. Semoga Allah mengabulkan harapan kita semua. Aamiin.