Herd Imunity Seleksi Alam ala Abad ke-21 ?

Oleh Inasyari Nur Damayanti
Mahasiswa Geografi UMS Semester 6

Apa teori evolusi itu ?

Charles Robert Darwin atau yang lebih dikenal dengan Charles Darwin, merupaka ilmuan yang sangat terkenal karena teori revolusinya yang menyatakan bahwa ‘spesies bertahan melalui proses yang disebut seleksi alam dimana mereka yang berhasil beradaptasi atau berevolusi untuk menerima perubahan habitat alami mereka’. Teori evolusi merupakan hal yang sangat sensitif, namun dengan adanya teori evolusi ini dapat mendorong terciptanya serum obat, vaksinasi, rekayasa genetika, analisis bakteri penyakit, perencananaan bibit unggul dalam pertanian maupun dalam peternakan, dan juga langkah dalam konservasi lingkungan (Zenius.net).

Nah, salah satu kegunaan teori evolusi adalah terciptanya suatu vaksin. Sekarang ini, Indonesia dan negara di penjuru dunia sedang mengalami suatu pandemic yang mematikan yaitu virus corona atau covid-19. Dilansir dari Kompas.com (18/5/2020) sebanyak 4,88 juta kasus positif terinfeksi dan 319.799 dinyatakan meninggal, sedangkan di Indoensia sebanyak 18.010 dinyatakan positif dan sebanyak 1.191 dinyatakan meninggal dunia. Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah Indonesia seperti pelarangan penerbangan internasional terutama dari negeri yang terdampak, social distancing, physical distancing, penerapan protocol kesehatan, sampai pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Wabah yang akan berakhir pada bulan Juli seperti yang dikatakan Presiden Joko Widodo tampaknya hanya sebuah angin berlalu. Dibuktikan dengan penambahan jumlah pasien positif yang hampir mencapai 700 perharinya!.

Lalu, apa hubungan Herd Imunity dengan seleksi alam ?

Dilansir dari Aljazeera (20/3/2020), herd imunity mengacu pada situasi dimana cukup banyak orang dalam suatu populasi yang memiliki kekebalan terhadap infeksi sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut. Langkah ini sepertinya akan diterapkan di Indonesia, pastinya tidak dengan bahasa yang sama. Pembukaan transportasi umum, pusat perbelanjaan, dan sekolah sepertinya merupakan tanda jika pemerintah Indonesia akan melakukan hal ini. Diharapkan sebanyak 70% terinfeksi dapat sembuh sendiri dengan membentuk antibodi secara alami. Penerapan herd imunity tersebut merupakan aplikasi dari teori evolusi yang dikemukakan Darwin, dimana individu yang mempunyai imunitas baik yang dapat bertahan hidup.

Apa dampak negatif dan positif herd imunity?

Bila sebanyak 70% masyarakat Indonesia terinfeksi, maka sebanyak +/- 180 juta masyarakat Indonesia terinfeksi. Bila diambil 10% harus dirawat intensif, maka sebanyak 18 juta harus dirawat di rumah sakit. Tentunya rumah sakit akan sangat kewalahan dengan ini, belum lagi jumlah tenaga medis yang tersedia apakah setiap daerah rata, bagaimana kebutuhan alat penunjang seperti ventilator dan apd bagi para dokter, perawat, maupun pegawai rumah sakit lainnya. Nampaknya pemerintah Indonesia harus menyiapkan ini dahulu sebelum ‘berdamai dengan corona’.

Meskipun herd imunity seperti silent killer, namun dengan adanya perilaku tersebut pandemi akan cepat berakhir, masyarakat akan terbiasa dengan penyakit baru, kehidupan akan berjalan normal kembali dengan menerapkan protokol kesehatan, dan yang lebih penting masyarakat Indoensia jauh lebih perhatian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Adakah negara yang menerapkan herd imunity sebelumnya?

Inggris, Belanda, dan Swedia menerapkan konsep tersebut meskipun secara tidak terang-terangan. Konsep tersebut gagal diterapkan di Inggris dan Belanda yang dibuktikan dengan jumlah korban meninggal sampai ribuan jiwa lalu mereka menerapkan konsep lockdown. Sampai sekarang, Swedia belum menunjukkan hasilnya apakah akan berhasil atau akan menjadi boomerang untuk negaranya sendiri.

Memang serba salah menetapkan kebijakan apa yang akan diambil nantinya. Berdiam diri sambil menunggu ditemukannya vaksin yang paling cepat penemuannya satu tahun tidak efektif dilakukan karena akan menimbulkan masalah baru. Jika benar herd imunity diterapkan, pastinya tenaga medis dan fasilitas kesehatan yang akan babak belur, bila menggunakan lockdown atau PSBB maka perekonomian yang akan babak belur.
Tugas kita untuk mengendalikan wabah ini adalah dengan menjaga imunitas tubuh, menjaga kebersihan, rajin mencuci tangan, mengkonsumsi makanan yang sehat, dan pastinya berdoa semoga Allah mengangkat virus ini serta tenaga medis yang menjadi garda terdepan dikuatkan mental serta kesabarannya. (*)