Hikmah Dibalik Idul Adha

Oleh:
1.Ir.H.Taryono,M.Si ( Dosen Fakultas Geografi UMS )
2.Drs.H.Priyono,M.Si ( Dosen Fakultas Geografi UMS dan Kolumnis Jabar.Pasundan Ekspres )

Pada acara Qiyamul Lail gelombang ke 3 yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta pada pk 3.00 dini hari hingga waktu subuh, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta Prof.DR.Sofian Anif,M.Si memberikan tausiyah selama 30 menit setelah sholat tahajut, tepatnya pk 3.45-4.15 . Beliau menekankan bahwa setiap ibadah yang diperintahkan dalam agama, tidak hanya dilaksanakan secara ritual, akan tetapi harus bisa diambil hibrah atau pelajaran yang berharga. Ada nilai yang terkandung dalam setiap ibadah termasuk hari raya Idul Adha. Itulah prinsip yang harus ditemukan dan dipraktekkan. Dalam Idul Adha, ada nilai keikhlasan, pengorbanan, ketaatan dan kepedulian sosial dan ini bisa diterapkan dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi atau Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Setiap perintah dalam agama pasti ada hikmah yang terkandung didalamnya baik hikmah spiritual maupun material, baik hikmah yang terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhannya ataupun dengan sesama manusia, atau keduanya yang dikenal dengan habluminallah dan habluminannas. Demikian juga Idul adha mengandung pelajaran yang beragam mulai dari ketaatan seorang hamba pada sang pencipta sampai pada kepeduliaan sosial. Rangkaian ibadah dalam rangka Idul Adha telah kita lewati satu demi satu, dimulai dari puasa Tarwiyah kemudian dilanjutka puasa arafah, yang jatuh pada tgl 18 dan 19 juli 2021 dengan tujuan agar mereka yang tidak menjalankan ibadah haji , tetap bisa merasakan nikmatnya seperti yang dirasakan saudara kita di tanah suci. Kemudian bagi yang berpuasa akan dihapuskan dosanya selama setahun yang lalu dan yang akan datang serta diberikan 10 kemuliaan dalam kehidupannya.

Perintah menyembelih ismail yang diabadikan dalam Al Qur’an Surah As Saffat 99-109 mengandung hikmah bahwa manusia yang beriman akan diuji oleh Allah swt dengan ujian yang ringan sampai berat sesuai kemampuannya. Ibrahim mendapat anak yang shaleh dan sabar setelah beberapa tahun tidak memiliki keturunan, akan tetapi tiba tiba mendapat perintah melalui mimpi yang berulang dan ujian itu dilewatinya dengan sukses, bukan ismail yang jadi kurban tapi diganti seekor kambing besar dan Ibrahim sebagai nabi yang patuh melaksanakan perintah Allah mendapat pujian dari Allah dengan kalimat : “ Selamat sejahtera bagi Ibrahim “.

BACA JUGA:  Revitalisasi Sastra Lisan (RSL) Bina Karakter Negeri

Penyembelihan hewan qurban memberikan pelajaran bagi kita bahwa setiap ibadah hendaklah didasarkan pada ketaqwaan dan keikhlasan. Daging dan darah hewan qurban tidak akan sampai kepada Allah akan tetapi ketaqwaannya. Peristiwa Siti Hajar yang ditinggal dengan ismail yang masih kecil di padang pasir tandus kering air oleh suaminya Ibrahim dalam perjalanan Mekah – Mina, menunjukkan ketaatan karena Iman. Ibrahim meninggalkan isteri dan anaknya tanpa menoleh sedikitpun di dua bukit gersang yang kini dikenal bukit Sofa dan Marwa yang jadi tempat bersejarah bagi jammah haji. Siti Hajar percaya bahwa kepergian suaminya atas perintah Allah maka Allah pasti akan menolong hambanya. Siti hajar berdoa bolak balik diantara bukit Sofa dan Marwa sambil melihat sang putra kesayangannya yang menangis karena kehausan dan keniscayaanpun terjadi, ketika sang bayi ismail menghentakkan tumitnya ke tanah dan keluarlah mata air Zam zam yang sampai sekarang diabadikan oleh para jamaah haji. Allah swt akan memberi jalan keluar pada setiap kesulitan.