Islam Menjamin Kesejahteraan Rakyat

Oleh: Nurul Khotimah

( Pegiat Dakwah)

Hampir setahun pandemi covid 19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Pandemi memukul perekonomian masyarakat. Sektor perekonomian terpuruk. Banyak usaha gulung tikar. PHK meluas. Menteri Tenaga Kerja RI menyebut ada sekitar 3,5 juta warga terkena PHK, yang ahirnya menambah angka pengangguran di Tanah Air hingga mencapai 10,3 juta jiwa.
Keadaan ini menjadikan kehidupan sosial masyarakat makin tertekan. Penghasilan berkurang, bahkan sebagian lainnya kehilangan mata pencaharian, sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan dari pihak lain sambil menunggu kesempatan mencari nafkah.

Mencari nafkah adalah salah satu kewajiban individu muslim.
Kaum lelakilah yang diperintahkan untuk menjamin kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan tempat tinggal bagi tanggungan mereka secara makruf. Allah SWT berfirman:
“Kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik” (TQS al-Baqarah [2]: 233)

Para ayah dan suami, juga anak lelaki wajib, memelihara kebutuhan mereka. Mereka haram menelantarkan anggota keluarga yang menjadi tanggungan mereka.
Di kehidupan sosial, Islam juga mengajarkan untuk selalu peduli dan tolong-menolong terhadap saudaranya yang berada dalam kesulitan. Bagi mereka ada ganjaran yang besar di sisi Allah SWT. Sabda Nabi saw :

“Siapa saja yang melepaskan kesusahan seorang Muslim di dunia, Allah akan melepaskan kesusahan dari dia pada Hari Kiamat. Siapa yang memudahkan seorang Muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan memudahkan kesulitannya di dunia dan akhirat” (HR Muslim).

Setiap Muslim harus selalu ingat bahwa di dalam harta mereka terdapat hak orang lain, yakni orang yang meminta-minta karena kebutuhan, dan mereka yang terhalang mendapatkan harta. Karena itulah sudah semestinya seorang Muslim tidak ragu mengeluarkan sebagian hartanya untuk menolong sesama ( lihat QS adz-Dzariyat [51]: 19).

Islam juga mengajarkan bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Menjadi pengemis haram hukumnya. Meminta-minta hanya bisa dibenarkan karena tiga alasan, yakni karena menanggung utang orang lain, kehabisan harta sehingga butuh sandaran hidup dan tertimpa kesengsaraan (HR Muslim).

Mengabaikan kefakiran dan kemiskinan sesama Muslim, terutama tetangganya, merupakan kemaksiatan. Nabi saw. bersabda:
“Bukanlah Mukmin orang yang kenyang, sementara tetangganya kelaparan sampai menekan lambungnya” (HR al-Bukhari).

Akan tetapi, kefakiran dan kemiskinan tidak bisa diatasi hanya oleh individu atau kelompok masyarakat. Ini adalah tanggung jawab negara untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Bukan sekadar menyediakan stok pangan atau obat-obatan. Negara juga wajib memastikan bahwa semua rakyat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, baik dengan harga yang terjangkau, dan atau memberi mereka secara cuma-cuma, terutama warga yang tidak mampu.

Pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin kesejahteraan rakyatnya benar-benar terwujud. Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., pernah terjadi masa paceklik yang berkepanjangan pada tahun 18 Hijrah, usai pelaksanaan ibadah haji. Hampir sepanjang tahun itu hujan tidak turun.

Kelaparan terjadi di mana-mana akibat gagal panen. Ribuan orang berbondong-bondong datang ke Ibukota Khilafah, Madinah. Mereka meminta bantuan negara. Khalifah Umar ra. bergerak cepat dengan menyediakan dapur massal. Beliau meminta bantuan pasokan pangan dari para gubernurnya di luar Madinah.

Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra kesejahteraan rakyatnya begitu sempurna, karena tidak ditemukan seorangpun yang mau menerima zakat.

Jika Kas Negara atau Baitul Mal tidak mencukupi kebutuhan darurat, maka Khalifah diizinkan memungut pajak (dharibah) untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Namun, pungutan pajak ini berlaku hanya saat mendesak/darurat. Dalam Islam, tidak semua warga dipungut pajak. Hanya kaum Muslim yang kaya yang dikenakan pajak. Warga non-Muslim tidak dipungut pajak, sekalipun ia kaya.

Demikianlah cara sistem Islam menjamin kebutuhan rakyatnya. Kesejahteraan rakyat tak akan dapat terwujud melainkan hanya dengan penerapan syariah Islam secara kaffah oleh negara.

Hanya negara yang dapat menerapkan sistem Islam, sistem yang berasal dari Allah swt.
WalLahu a’lam bish shawab