Islamofobia Merenggut Nyawa Tak Berdosa

Oleh: Ine Wulansari

Pendidik Generasi dan Pegiat Dakwah

Menurut Wikipedia, Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merajuk pada prasangka, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan muslim.

Pada tahun 1997, Runnymede Trust dari Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua muslim,” dinyatakan bahwa hal tersebut merujuk pada praktik diskriminasi terhadap muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa (wikipedia.org).

Islamofobia kembali mewabah di Kanada. Korbannya adalah empat anggota keluarga muslim yang dengan sengaja dibunuh secara sadis. Dan menyisakan satu korban selamat dalam insiden pembunuhan ini.

Polisi di Provinsi Ontario Kanada mengatakan, seorang pengemudi dengan sengaja menyerang satu keluarga dengan alasan korban adalah muslim. Kejadian mengerikan ini menewaskan empat orang dan melukai seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. (kabar24.bisnis.com, 8 Juni 2021)

Peristiwa yang merupakan serangan terhadap satu keluarga muslim ini diduga kuat telah direncanakan. Keluarga ini ditabrak dengan menggunakan truk pick-up yang dikendarai seorang pria berusia sekitar 20 tahun. (detiknews.com, 8 Juni 2021)

Serangan yang dilakukan tersangka dikecam sebagai tindakan kebencian dan sikap kejiwaan yang takut dengan pemeluk agama Islam. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan, insiden yang terjadi sangat mengerikan dan menggambarkan tindakan kebencian.

Dia menyampaikan rasa simpati kepada pihak keluarga korban, termasuk korban yang selamat. Trudeau menyampaikan cuitan di laman media sosialnya “Kepada komunitas muslim di London dan muslim di seluruh negeri, ketahuilah bahwa kami mendukung anda. Islamofobia tidak memiliki tempat di komunitas kami. Kebencian ini berbahaya, tercela, dan harus dihentikan.”

Sekalipun rasa simpati telah disampaikan oleh seorang penguasa, sungguh sikap ini tidaklah cukup. Bukan hanya sebatas seruan dan pembelaan semata, yang dibutuhkan umat Islam adalah sikap nyata dari penguasa.

Sungguh jiwa seorang muslim telah dijamin oleh Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

“Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab: (1) orang yang telah menikah yang berzina, (2) jiwa dengan jiwa (membunuh), (3) orang yang meninggalkan agamanya (murtad), lagi memisahkan diri dari jemaah kaum muslimin.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda:

“Lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah, daripada terbunuhnya satu muslim.” (HR Tirmidzi)

Hadis di atas menggambarkan bahwa kejadian di Kanada atau kejadian-kejadian di belahan bumi lainnya yang menyebabkan terbunuhnya seorang muslim, harus memantik kesadaran kita. Betapa umat manusia tak terkecuali umat Islam Saat ini tengah berada dalam kungkungan peraturan hidup dan ideologi buatan manusia yang terbukti gagal dan menghancurkan. Kejadian tewasnya keluarga muslim di Kanada merupakan satu bukti nyata dari banyaknya peristiwa keji disebabkan ketakutan yang tidak mendasar pada Islam dan penganutnya.

Demokrasi kapitalisme merupakan aturan hidup yang membuat kerusakan di mana pun diterapkan. Sebab, ideologi ini adalah buatan manusia yang tentu sarat akan kepentingan, hawa nafsu dan ketidakadilan. Dikatakan bahwa Demokrasi menjunjung tinggi keragaman, kebebasan, plularisme, dan lainnya. Namun faktanya, narasi ini justru seolah tak berlaku bagi muslim. Begitu mudahnya seseorang menghilangkan nyawa atas dasar kebencian terhadap keragaman yang ada (perbedaan agama).

Tak salah, sungguh mutlak kita membutuhkan perubahan. Yakni perubahan yang menyeluruh dalam segala sendi kehidupan. Mengupayakan tegaknya sebuah sistem yang sahih yang akan menghantarkan manusia pada keadilan dan kebahagiaan.

Hanya dalam naungan sistem yang lahir dari Sang Maha Pencipta Allah Swt. yakni Islam. Sistem Illahiyah ini satu-satunya yang akan mampu menjaga setiap hak hidup manusia baik muslim maupun nonmuslim tanpa terkecuali dan memberikan perlindungan baik jiwa, raga, dan harta. Dimana jiwa merupakan salah satu hak milik manusia yang berharga. Oleh karena itu, kebutuhan akan tegaknya kepemimpinan Islam sebagai pelaksana syariat semakin mendesak dan harus terus diupayakan.

Syariat Islam tidak memandang manusia sebatas makhluk ekonomi dan sosial. Manusia dalam pandangan Islam sebagai makhluk yang mulia, yang setiap individunya memiliki hak dan kebutuhan. Karenanya, Islam hadir dan menetapkan hukum bagi setiap permasalahan yang melanda umat manusia dalam segala sendi kehidupannya. Dengan melandanya Islamofobia di berbagai tempat, nyawa manusia seolah tak ada harganya. Ketakutan terhadap Islam dijadikan dalih seolah menghilangkan nyawa adalah jalan pintas yang benar.

Hadirnya Islam sungguh akan membawa rahmat bagi semesta, dengan menerapkan Islam dan aturannya maka keadilan dan berbagai tuduhan yang dialamatkan pada Islam akan lenyap. Kehidupan aman dan damai akan terwujud dalam naungan institusi Islam.

Wallahu a’lam bish shawab.