Jaminan Pangan dalam Sistem Islam

Oleh : Rita Yusnita
(Pengasuh Forum Bunda Sholehah)

Selama hampir dua tahun, pandemi Covid-19 sukses melumpuhkan berbagai sektor kehidupan di Negeri ini. Salah satunya yang terdampak paling dalam yaitu sektor ekonomi. Semua lapisan masyarakat terkena tanpa kecuali, terutama lapisan menengah ke bawah. Berbagai perusahaan yang mengalami kendala otomatis merumahkan karyawannya, dimana sebagian besar dari mereka adalah tulang punggung keluarga. Beberapa bulan mereka mengalami kesulitan untuk bangkit lagi mencari nafkah karena urusan dapur tak pernah surut untuk dipenuhi. Walaupun sempat ada bantuan dari Pemerintah, namun tak tuntas menyelesaikan masalah ekonomi mereka.

Kondisi sulit yang terjadi di masyarakat menjadi pemicu munculnya ide untuk melaksanakan program Food Bank, hal ini digagas oleh Anggota Fraksi-PKB DPRD Kab Sumedang, Herman Habibullah. Program yang diinisiasi oleh Ketua DPW PKB Jawa Barat ini sebagai implementasi dari Platform Peduli Ummat Melayani Rakyat dan diharapkan secara bertahap menggerakkan sektor ekonomi riil masyarakat. Berbeda dengan konsep Food Bank pada umumnya kata Herman, Food Bank Jabar yang memiliki semangat membantu pelaku UMKM ini membeli sejumlah makanan dari pedagang kemudian dibagikan kepada masyarakat. “Kegiatan ini alhamdulillah rutin dilaksanakan mulai tanggal 1 Ramadan, bersilaturahmi memberikan takjil untuk berbuka puasa dengan cara door to door ke tiap-tiap rumah warga,” ucap Herman, dilansir dari RadarSumedang.com, Jumat (23/4/2021). Kegiatan ini menuai banyak apresiasi dari warga karena merasa terbantu.

Krisis pangan akibat kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat bukan hanya terjadi saat pandemi saja, hal ini terjadi karena ketidaksiapan pemerintah dalam menanggulanginya baik di pusat maupun daerah. Apalagi dana bantuan yang disalurkan seringkali mengalami kendala dalam segi administrasi maupun penyalurannya. Lebih parahnya lagi, dana bantuan bagi rakyat malah dikorupsi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya, kebijakan dari pemerintah tak pernah menuntaskan krisis pangan yang dialami oleh masyarakat. Terkait data stok pangan, seringkali data yang dimiliki pemerintah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Tak hanya sekali terjadi, ketika pemerintah mengatakan stok pangan mencukupi, namun kelangkaan barang terjadi sehingga menjadi sebab harga melambung tinggi. Ditambah lagi sejumlah komoditas masih mengandalkan pada impor, sehingga ketika stok dalam negeri tidak memadai dan proses impor terganggu karena kebijakan saat pandemi maka dapat dipastikan krisis pangan akan semakin terasa.

Inilah gambaran nyata lemahnya ketahanan dan kedaulatan pangan di negeri ini, yang mengancam pemenuhan pangan rakyat. Dalam keadaan normal saja pemerintah abai dalam menjamin produksi, distribusi serta konsumsi, apalagi dalam kondisi pandemi. Sistem ekonomi kapitalis telah melegalkan pengelolaan pangan oleh sektor swasta, sehingga pihak korporasi menguasai mayoritas rantai pasok pangan. Sementara pemerintah hanya bertindak sebagai regulator dan fasilitator sehingga sudah jelas keuntungan lebih banyak bagi pihak korporasi.
Terbukti sudah sistem Kapitalisme tidak mampu menyelamatkan manusia dari masalah yang terus menimpa, maka satu-satunya solusi adalah sistem Islam. Sistem yang akan menyelamatkan manusia dari keterpurukan baik itu ekonomi atau sektor yang lainnya, serta akan membawa solusi yang akan menyejahterakan umat manusia baik saat tanpa wabah maupun ketika terjadi wabah. Sistem Islam dibangun di atas landasan wahyu Allah Swt., dan dituntun oleh Rasulullah Saw melalui Al-Qur’an dan Hadis. Sistem yang terbukti mampu mengatasi krisis selama hampir 1300 Tahun.

Terkait tata kelola pangan, pemimpin dalam sistem Islam akan mampu mengatur ketahanan dan kedaulatan pangan dengan baik. Apalagi negeri ini yang mempunyai berbagai sumber daya alam yang potensial baik dari pertanian, hasil hutan hingga lautan yang kaya dengan keragaman biota lautnya. Semua itu akan dikelola dengan baik dan adil oleh negara, sebab negara adalah penanggung jawab utama dalam mengurusi hajat rakyat yaitu sebagai raain (pelayan/pengurus) dan junnah (pelindung). Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Imam (Khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya,” (HR. Muslim dan Ahmad). Dalam Hadis lainnya rasulullah menegaskan, “Khalifah itu laksana perisai tempat orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya…” (HR. Muslim).

Wallahualam Bishowab.