OPINI  

Jihad dalam Ajaran Islam

Oleh : Ummu Aziz

Beberapa waktu yang lalu tepatnya hari Kamis, 11 November 2021, pukul 22.26 WIB ijma ulama mengatakan bahwa,” Jangan stigma negatif makna jihad dan khilafah.” Ketua MUI Bidang Fatwa KH. Asrorun Niam Sholeh saat konferensi pers pada penutupan Ijma Ulama Fatwa se-Indonesia ke- VII di Jakarta. (republika11/11/2021). Hal ini tentu menjadi perhatian khusus bagi masyarakat, khususnya umat Islam. Apakah hal tersebut merupakan angin yang segar bagi umat Islam?

Tentu saja, ini merupakan kebahagiaan yang tidak terhingga bagi umat Islam. Meskipun kita ketahui hingga saat ini masih ada yang mencitraburukan ajaran Islam yakni khilafah dan jihad dengan dalih kebebasan berpendapat. Dengan adanya pernyataan dari MUI ini seolah-olah bisa menghapuskan stigma negatif mengenai makna jihad dan khilafah, yang selama ini makna tersebut dikaburkan dari makna syar’i oleh oknum-oknum yang tidak paham dengan ajaran Islam.

Namun tidak cukup hanya sebatas menghapus stigma negatif terhadap khilafah dan jihad saja. Tetapi seharusnya mampu menguraikan bahwa khilafah adalah sistem politik agung warisan Rasulullah saw. Khilafah dipraktikkan oleh para sahabat mulia dan para khalifah setelahnya. Tak dipungkiri, bahwa khilafah telah berhasil mewujudkan peradaban agung selama lebih dari 13 abad. Sebaliknya, pasca Khilafah runtuh tanggal 3 Maret 1924, berbagai persoalan di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan lain-lain muncul menyeruak di seluruh negeri kaum Muslim. Seorang Muslim tentu meyakini bahwa berbagai problem tersebut terjadi karena syariat Islam tidak diterapkan secara kafah sebagaimana secara historis dan empiris pernah diterapkan oleh institusi Khilafah.

Kita tahu, Khilafah merupakan ajaran Islam yang mulia dan agung. Inti dari Khilafah adalah penerapan syariat, persatuan kaum Muslim (ukhuwah) dan penyebarluasan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia (dakwah). Tuduhan bahwa ajaran Khilafah menginspirasi terorisme jelas bertentangan dengan konsep ajaran Islam dan ahistoris. Sebagai contoh, di dalam konsep negara Khilafah, warga negara yang non-Muslim disebut sebagai kafir dzimmi. Mereka berhak memperoleh perlakuan yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi. Negara Khilafah harus menjaga dan melindungi keyakinan, kehormatan dan harta bendanya.

Bahkan Rasulullah menegaskan, ”Siapa saja yang membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekali pun.” (HR Ahmad). Bahkan Imam al-Qarafi menyatakan, “Kaum Muslim memiliki tanggung jawab terhadap ahludz-dzimmah untuk menyantuni, memenuhi kebutuhan kaum miskin mereka, memberi makan mereka yang kelaparan, menyediakan pakaian, memperlakukan mereka dengan baik, bahkan memaafkan kesalahan mereka dalam kehidupan bertetangga, sekalipun kaum Muslim memang memiliki posisi yang lebih tinggi dari mereka.

Umat Islam juga harus memberikan masukan-masukan pada mereka berkenaan dengan masalah yang mereka hadapi dan melindungi mereka dari siapa pun yang bermaksud menyakiti mereka, mencuri dari mereka, atau merampas hak-hak mereka.” Selain itu, fakta sejarah juga membuktikan, Khilafah telah menunjukkan tingkat toleransi yang luar biasa. Hal ini diakui oleh Thomas Walker Arnold, seorang sejarahwan Kristen. Dia menulis, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.” (The Preaching of Islam: a History of Propagation of the Muslim Faith, 1896, hlm. 134).

Pada umumnya, rakyat yang negerinya ditaklukkan oleh Islam pun tidak menganggap Islam sebagai penjajah. Sebaliknya, yang terjadi, mereka menyatu dengan pemeluk Islam lainnya dan bahkan menjadi pembela Islam. Tidak pernah didengar rakyat Mesir, Suriah, Libya, atau Bosnia menganggap Islam sebagai penjajah. Bahkan negeri-negeri itu dipenuhi dengan para pejuang Islam yang membela agamanya. Kalau Islam dianggap penjajah, barbar, menumpahkan darah, bagaimana mungkin mereka membela dan memperjuangkannnya? T.W. Arnold menuturkan bagaimana ketika Konstantinopel yang merupakan pusat Kristen Ortodox ditaklukkan oleh Sultan Muhammad II: “Ketika Konstantinopel kemudian dibuka oleh keadilan Islam pada 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya sebagai pelindung Gereja Yunani. Penindasan atas kaum Kristen dilarang keras dan untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada Uskup Agung yang baru terpilih, Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya. Hal yang tak pernah didapatkan dari penguasa sebelumnya. Gennadios diberi staf keuskupan oleh Sultan sendiri. Sang Uskup juga berhak meminta perhatian Pemerintah dan keputusan Sultan untuk menyikapi para gubernur yang tidak adil.” (The Preaching of Islam).

Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa khilafah adalah sistem pemerintahan yang dicatat sejarah. Khilafah menjadi solusi umat yang mampu mewujudkan persatuan, kesatuan dan kekuatan muslim bukan hanya di negeri kita yang tercinta saja tetapi seluruh dunia dan membela muslim yang tertindas di penjuru manapun dengan seruan jihadnya.

Wallahua’lam bishshawwab.