Jika China Serius Beralih ke Energi Terbarukan, Bagaimana Nnasib Ekspor Batu Bara Indonesia?

Oleh: Nurul Faqiriah

Mahasiswa Hubungan Internasional Univeristas Islam Indonesia

China merupakan negara produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia. Sejak akhir 1980 hingga 1990 Volume ekspor batu bara China telah mengalami peningkatan yang signifikan dan mencapai puncaknya pada 2001. pada 2001 China telah mengekspor 90 juta ton batu bara, dan pada 2001 China merupakan eksportir batu bara terbesar kedua di dunia setelah Australia. Namun, ekspor batu bara China mengalami penurunan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan populasi China yang menyebabkan tingginya kebutuhan terhadap batu bara sebagai bahan untuk pembangkit listrik dalam skala domestik China.

Untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan batu bara dalam negeri pemerintah China mengambil Langkah untuk membuat kebijakan pembatasan impor batu bara China. Pada bulan Desember 2003 pemerintah China telah menerapkan ‘’Coal Export Allotment law’’ atau Undang-Undang pengendalian penjatahan ekspor batu bara. Undang-Undang ini kemudian di implementasikan pada tahun 2004 dimana pemerintah China hanya mengizinkan ekspor sebesar 80 juta ton.

Kebijakan Pemerintah China untuk memperketat ekspor batu bara juga disertai dengan penghapusan perlakuan istimewa, jika pada tahun sebelumnya Pembangunan kereta api dan konstruksi biaya Pelabuhan untuk ekspor tidak dibebankan biaya apapun maka setelah adanya ’Coal Export Allotment law’’ perlakuan istimewa tersebut telah dihapuskan dan Kembali dikenakan pajak. (Atsuo Sagawa, 2008).

Bertambahnya populasi penduduk yang dibarengi dengan peningkatan ekonomi China membuat kebutuhan terhadap batu bara semakin meningkat, karenanya kebijakan memperketat ekspor batu bara China tidak cukup untuk untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan domestik. Untuk memenuhi kebutuhan domestik China memerlukan impor batu bara dari negara lain sebagai cadangan batu baranya.

Peningkatan kebutuhan domestik membuat China harus menjadi importir batu bara. Tercatat pada 2009 China mengimportir sebanyak 125,8 ton batu bara dari negara Asia. Negara eksportir batu bara ke China antara lain Australia, Vietnam, Korea Utara, Rusia dan Indonesia.

Namun, ketergantungan China terhadap batu bara bukan tanpa akibat. Ketergantungan terhadap batu bara sebagai sumber energi utama membuat China kerap di bayang-bayangi isu lingkungan seperti pencemaran lingkungan. Sebagai upaya untuk mencegah pencemaran lingkungan China kini mulai berlaih ke energi terbarukan.

Pada awalnya, tak sedikit pihak skeptis mengenai langkah China yang mulai beralih ke energi terbarukan, negeri tirai bambu tersebut dianggap mustahil menggunakan energi terbarukan pasalnya selama ini China sangat bergantung pada batu bara. Namun, semakin hari Tiongkok terus memperlihatkan komitmennya untuk mulai menggunakan energi terbarukan.

Komitmen China untuk beralih ke energi telah dinyatakan oleh Wu Xinxiong yang merupakan direktur badan energi nasional (NEA) dimana bahan bakar non-fosil akan memasok 11,1 persen dari total konsumsi energi primer China, jumlah ini jauh meningkat drastis sebanyak 9,8 persen dibandingkan tahun 2013.

Dalam pidato Xi Jinping pada sidang PBB September lalu, ia menyebutkan komitmen China beralih ke energi terbarukan dan menjadi netral karbon pada 2060. Setelah pernyataan Xi Jinping tersebut China dikabarkan tengah membangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia dengan kapasitas 2,2 GW di Provinsi Qinghai.

dengan dibangunnya panel surya terbesar di China ini tentu China akan lebih menggunakan energi angin, matahari dan hidro dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi di negaranya

Tantangan untuk ekspor batu bara Indonesia

Beralihnya Tiongkok ke energi terbarukan tentu juga berdampak signifikan bagi ekspor batu bara dan perekonomian Indonesia mengingat China merupakan tujuan utama ekspor batu bara Indonesia.

Jauh sebelum komitmen serius China untuk beralih ke energi terbarukan nilai ekspor batu bara Indonesia sudah tersungkur. Jika dilihat beberapa tahun kebelakang perang dagang yang terjadi antara AS dan China yang berujung saling balas tarif impor mengakibatkan terjadinya perlambatan ekonomi, perlambatan ekonomi ini tidak hanya berdampak bagi kedua negara tetapi juga berdampak pada Indonesia, akibat dari perang dagang ini permintaan China terhadap ekspor batu bara Indonesia menurun.

Lebih lanjut pandemi Covid-19 yang melanda seluruh negara di dunia membuat nilai ekspor batu bara Indonesia terus mengalami penurunan. Menurut kementerian ESDM Volume ekspor batu bara Indonesia pada Januari-Mei 2020 mengalami penurunan 10% dibandingkan tahun lalu.

Keseriusan China untuk berangsur-angsur beralih ke energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi domestiknya tentu berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia terutama devisa negara. Kegiatan ekspor yang dilakukan Indonesia ke China dapat meningkatkan devisa negara akan tetapi, seiring dengan menurunnya permintaan batu bara juga berdampak pada penurunan devisa negara.

Selain level negara, beberapa daerah penghasil batu bara di Indonesia seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera dan Sulawesi juga bergantung pada ekspor batu bara. Batu bara juga ikut serta menyumbang PDRB daerah. Oleh karena itu beralihnya China ke energi terbarukan dan dibarengi dengan menurunnya permintaan terhadap ekspor batu bara Indonesia juga berdampak pada daerah yang selama ini pendapatannya bergantung pada batu bara.