Jumlah Masjid Bertambah tetapi Shaf Menurun?

DALAM rukun Islam disebutkan ada lima macam, dimulai dari sahadat,sholat , puasa , zakat dan ibadah haji.

Dari kelima kewajiban tersebut, setiap ibadah memiliki karakteristik yang khas , yang tentu saja membawa konsekuensi yang beda.

Ambil contoh ibadah haji, bagi yang mampu, maka umat harus menyiapkan bekal harta, tenaga dan waktu yang cukup , termasuk psikis yang kuat karena ibadah ini cukup berat pelaksanaannya.

Jika empat rukun islam diperintahkan lewat Al Qur’an maka sholat adalah satu satunya ibadah yang perintahnya langsung dari Alloh swt melalui peristiwa isra’ dan mi’raj sehingga memiliki makna yang beda .

Shalat menjadi satu-satunya amalan manusia yang pertama dihisab di yaumul akhir kelak. Sudah seharusnya shalat yang awalnya kewajiban beralih menjadi kebiasaan yang tertanam di dalam hati manusia.

Sholat yang mulanya kegiatan fisik semata, kini beralih menjadi perpaduan gerak dan kalbu. Sholat yang mulanya mengerjakan berubah menjadi menegakkan.

Mengapa Demikian?

Banyak orang yang menjalankan ibadah shalat, tapi hal tersebut dilakukan semata-mata hanya demi menggugurkan kewajiban.

Oleh sebab itu, masih ada orang yang menjalankan ibadah sholat dengan ala kadarnya.

Di sini dimaksudkan adalah orang-orang yang tergesa-gesa dalam menjalankan ibadah shalat.

Sehingga bagi pelaku sholat belum bisa mencapai sesuai dengan perintah Alloh bahwa sholat dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar.

Inilah ending orang yang menegakkan sholat, yang dapat merubah pelakunya memiliki akhlak yang mulia.

Padahal shalat menjadi momen dimana kita sebagai hamba menghadap Sang Khalik, berkomunikasi dengan Allah SWT ,tetapi masih banyak saja manusia yang lalai dalam menjalankan ibadah shalat 5 waktu dalam sehari.

Pernahkah kita berfikir, apakah shalat yang dilakukan sudah khusyu’ dan mendapatkan pahala dari Allah SWT karena diterima?

BACA JUGA:  Rombak Kurikulum?

Dibalik itu semua itu, ada suatu keistimewaan tersendiri ketika seorang muslim menjalankan ibadah shalat, yaitu apabila ia mengerjakan shalat secara berjamaah dan di awal (tepat) waktu.

Mengapa demikian? Karena banyak sekali keutamaan shalat di awal waktu, seperti yang disampaikan oleh Utsman bin Affan r.a. Beliau menjelaskan sembilan keutamaan dan kemuliaan yang akan diperoleh seorang muslim yang mengerjakan shalat di awal waktu.

“Barangsiapa selalu mengerjakan salat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah akan memuliakannya dengan sembilan macam kemuliaan, yaitu dicintai Allah, badannya selalu sehat, keberadaannya selalu dijaga malaikat, rumahnya diberkahi, wajahnya menampakkan jati diri orang shalih, hatinya dilunakkan Allah, dimudahkan saat menyebrang As-Shirath seperti kilat, akan diselamatkan Allah dari api neraka,dan Allah menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati.”

Selain kemuliaan ketika mengerjakan salat diawal waktu, ada satu lagi yang menyita perhatian kita yaitu kemuliaan seorang mukmin tatkata ia mengerjakan shalat berjamaan di masjid.

Namun, sayangnya masih saja banyak masyarakat yang memilih untuk salat sendiri di rumah dibandingkan berjamaah. Padahal kini sudah banyak dibangun tempat ibadah (masjid).

Hampir setiap daerah bahkan setiap RT memiliki masjid yang digunakan sebagai tempat ibadah, yang mana memudahkan jamaaah agar dapat melakukan salat secara berjamaah.

Masjid adalah rumah ibadah, rumah Alloh, tempat ibadah dan peradaban manusia. Masjid yang ideal seperti pada jaman Rosululloh semestinya menjadi pusat ibadah, pusat pendidikan, pusat informasi, pusat kegiatan social dan pusat mencerdaskan masyarakat.

Terlebih seperti sekarang ini, beberapa daerah di Indonesia tengah dilanda musim hujan yang menyebabkan banyak masyarakat yang enggan untuk melaksanakan salat berjamah di masjid dan lebih memilih di rumah.

BACA JUGA:  Karakteristik Pelaku Mobilitas Ulang Alik dan Sirkulasi

Padahal begitu besar kemuliaan orang yang mengerjakan salat berjamaah di masjid, diantaranya:

Keutamaan salat berjamaah dibandingkan salat sendirian adalah pahalanya lebih besar.

Artinya: “Salat berjamaah melampaui salat sendirian dengan (mendapatkan) 27 derajat.” (HR. Bukhari).

Dijauhkan dari sifat munafik

Dalam sebuah hadist Nabi bersabda:
“Tidaklah ada salat yang lebih berat bagi orang-orang munafik melebihi salat Shubuh dan Isya’. Dan seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan datang (berjama’ah) meskipun dengan merangkak.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Diampuni dosanya oleh Allah Swt
“Jika imam mengucapkan “Ghoiril maghdhubi ‘alaihim waladhdholliin”, maka ucapkan amin, karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan amin bersamaan dengan ucapan malaikat maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Fenomena ini cukup menarik apabila ditelisik lebih lanjut. Semakin banyak bangunan masjid justru membuat jamaahnya semakin berkurang.
Dikarenakan, jamaah akan lebih leluasa memilih masjid mana yang akan ia gunakan untuk beribadah.
Mereka akan berpencar dan lebih memilih masjid terdekat dengan rumah.
Fenomena ini tidak bagus untuk persatuan umat tetapi bagus untuk syiar karena distribusi umat dan masjid lebih menyebar secara spasial dan menjadi benteng pertahanan umat dari pengaruh eksternal.
Apa yang dikatakan dan dikhawatirkan Rosululloh, akhirnya datang juga. Rosul bersabda: Esok akan datang zaman dimana banyak masjid bertingkat megah dan dihias ornamen yang indah tetapi sangat sedikit orang yang mau sholat didalamnya.
Mereka hanya menjadikan masjid sebagai hiasan saja dan ketika mendengar suara adzan, mereka seperti orang tuli yang pura pura tidak tahu akan suara panggilan tersebut. ( HR Al-Baihaqi).
Sensus Penduduk Indonesia mengabarkan bahwa pemeluk agama islam di Indonesia sebanyak 87,18 % atau sebesar 207.176.162 orang. Dari sebuah penelitian yang dilakukan di masjid di DIY bahwa rata rata jamaah sholat lima waktu yang melakukan sholat berjamaah di masjid sekitar 13 persen sehingga 87 persen shaf tidak terisi.
Apa penyebabnya ? Kata kuncinya adalah lemahnya pemahaman dan implementasi dalam islam, kurang solidnya persatuan dalam islam?
Berdasarkan 10 hukum migrasi penduduk dari Ravenstain , satu diantaranya dikatakan bahwa mobilitas seseorang cenderung memilih daerah yang terdekat sebagai daerah tujuan.
Tak pelak lagi, hal tersebut menyebabkan beberapa masjid justru sepi jamaah. Memang jumlah tempat ibadah khususnya masjid tidak dapat dijadikan sebagai tolak ukur tingkat ketaatan ibadah suatu daerah.
Namun, setidaknya kita dapat mengetahui bahwa di daerah tersebut masih menjalankan syariat islam khususnya dalam beribadah shalat. Semoga kita senantiasa istiqomah dalam menjalankan salat terlebih berjamaah. (*)

 

BACA JUGA:  Pemanfaatan Kolong Layang (FlyOver) Pamanukan Sebagai Upaya Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

Oleh:
1.Drs.Priyono,MSi (Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Ta’mir Masjid Al Ikhlas,Sumberejo, Klaten selatan, Kabupaten Klaten)
2.Siti Nur Aisah (mahasiswi semester 2 dan Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah F. Geografi UMS)