Kartini: Perempuan dan Membaca

Christina Ester M Hutabarat
Alumni Pascasarjana ITB
Aktif dalam Komunitas Sosial di Bandung

Tanggal 21 April kemarin, menjadi salah satu tanggal bersejarah yang diperingati sebagai Hari Kartini. Siapa yang tidak mengenal seorang Kartini yang memiliki nama lengkap Raden Adjeng Kartini. Sosok Kartini ialah figur wanita yang didaulat sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi yang lebih maju.

Perjuangan Kartini dimasanya mampu membawa perubahan dari ketertinggalan yang kelam dan mencekam. Kaum perempuan tertinggal dibandingkan apa yang didapat kaum pria dimana ada kesenjangan hak dalam hal pendidikan. Setelah berpuluh-puluh tahun, akhirnya perjuangan itu berbuahkan hasil, kini perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata. Prestasi demi prestasi, mulai terukir menghiasi tanah air ditorehkan oleh kaum perempuan.

Perempuan menjadi sentralis, dimana perempuan akhirnya lebih mendominasi dalam dunia pendidikan dan pengetahuan.
Salah satu dampak yang sangat menonjol dari perjuangan Kartini, ialah lahirnya perempuan-perempuan pembawa perubahan. Lahirlah semangat yang membara dari kaum perempuan seperti menambahkan kesegaran dalam kehidupan masa sekarang dan masa depan. Perempuan pun kini tampil menjadi pemimpin negeri, pegawai, pekerja keras, pendidik, dan pencetak prestasi. Perempuan di tengah negeri membawa aroma yang menyegarkan sepanjang masa. Begitu juga perempuan di tengah keluarga. Perempuan memancarkan sinar dan pesonanya layaknya bunga segar yang tumbuh dan berkembang. Di masa sekarang kehadiran perempuan pun menjadi penentu kemajuan suatu bangsa atau bahkan keluarga. Perempuan di tengah bangsa atau keluarga kerap menjadi pemegang “kunci” dalam kestabilan masa depan baik bangsa ataupun keluarga.

Perempuan yang cerdas akan menghasilkan penerus yang juga unggul. Pernyataan tersebut sudah seperti satu konsep yang tidak asing diperdengarkan. Perempuan tampil di depan layar dan menjadi pengambil satu keputusan penting termasuk dalam bagaimana mereka mendidik anak-anak mereka. Perempuan kini menjadi teladan yang dilihat oleh anak-anak mereka. Itu sebabnya perempuan perlu untuk selalu “upgrade” diri sehingga selalu mampu menjawab setiap kebutuhan anak-anaknya. Salah satunya dengan membaca. Setiap perempuan harus memiliki minat baca yang tinggi. Bangsa dan keluarga kita membutuhkan seorang perempuan yang mampu menjadi duta baca yang aktif setiap saat. Tetapi seiring berjalannya waktu, Indonesia kini dihuni oleh masyarakat yang minim membaca. Alasannya cukup klasik, dimana membaca tidak dijadikan sebagai gaya hidup.

Membaca menjadi kegiatan yang membosankan dan menghabiskan waktu sia-sia. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World 2016” oleh Central Connecticut State Univesity, Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara mengenai minat membaca buku. Padahal, jika dilihat dari segi penilaian infrastuktur, peringkat Indonesia masih berada di atas negara-negara Eropa.

Rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya ialah keluarga. Terkhusus pada anak-anak, sangat sulit untuk menanamkan cinta baca apabila lingkungan keluarga tidak membudayakan hidup yang membaca. Kegemaran akan buku dan kegemaran dalam belajar hal-hal baru kini begitu sulit ditemukan dalam keseharian anak-anak. Tidak heran kalau akhirnya apa yang dilakukan pahlawan di masa lalu, kini terkesan bias dan hampir tidak terlihat. Untuk itulah keluarga tidak boleh kehilangan “taringnya”. Kuncinya ada di mana? Perempuan. Perempuan menjadi pemegang kunci dalam stabilitas keluarga. Seorang anak yang gemar membaca pastilah memiliki penyemangat yang membuatnya bersemangat bercengkrama dengan buku. Jawabannya tetaplah pada perempuan. Perempuan yang gemar membaca di tengah keluarga akan memberikan aroma bunga yang segar dan menentramkan bagi anggota keluarganya.

Anak-anak lebih condong dan selalu akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtua mereka. Mereka akan melihat apa yang diteladankan oleh orangtua mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk orangtua terlebih dahulu memulai dan menumbuhkan kebiasaan membaca. Mustahil apabila seorang anak gemar membaca kalau dia tidak melihat sekelilingnya terlebih dahulu. Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menciptakan budaya membaca pada keluarga terkhusus untuk anak-anak. Hal itu juga yang dilakukan seorang Kartini di masa lalu. Kartini mulai melakukan sendiri dan mengajak oranglain melakukan hal yang sama sehingga membaca tidak lagi menjadi suatu paksaan.

Dalam data yang pernah dikeluarkan UNESCO, kemampuan membaca buku khususnya anak-anak dalam satu tahun bervariasi setiap negara. Anak-anak di Jepang mampu membaca 15-18 buku pertahunnya. Bahkan anak-anak di Eropa mampu membaca 25-27 buku dalam satu tahun. Sedangkan di Indonesia, anak-anak tidak membaca satu bukupun dalam rentang satu tahun. Minimnya minat baca anak sungguhlah sangat mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan setiap tahunnya. Rendahnya kualitas menjadikan Indonesia sulit bergaul di kancah perkembangan internasional. Sungguh sangat miris dan memprihatinkan.

Dalam sebuah diskusi bertajuk “Buku vs Media Sosial” seorang penggagas tabloid anak Witdarmono pernah mengatakan bahwa orangtua merupakan guru pertama bagi anak-anak mereka sehingga peran orangtua sangat penting dalam menumbuhkan minat anak. Konsentrasi seorang anak akan tumbuh ketika mereka mendengar suara orangtuanya sehingga mereka dapat fokus belajar membaca. Jadi perlukah perempuan mengejar pendidikan setinggi-tingginya? Masih perlukah perempuan membaca? Perlukah perempuan berprestasi? Maka tetaplah mengingat bahwa masa Kartini, perempuan harus belajar dan berkarya, apalagi di masa kini. Perempuan tetaplah membaca dan menularkannya. (*)