Kebijakan Keliru Buat Rakyat Dilema

Oleh: Reni Tresnawati

( Ibu Rumah Tangga dan Pejuang Tinta)

Akhir-akhir ini virus korona mejadi pembicaraan publik lagi, karena virusnya semakin menggila. Ada varian baru, yaitu varian India/delta. Varian delta ini sudah memakan banyak korban, sehingga pihak rumah sakit kewalahan dalam menampung pasien Covid-19 ini. RS ciereng  Subang salah satunya. Ruangan rumah sakit sudah hampir penuh dan tenaga kesehatannya juga sudah tumbang satu per satu, sehingga Direktur RSUD Ciereng Subang membuka tenaga kesehatan kontrak buat tiga bulan ke depan, untuk di tempatkan pada zona hijau, sedangkan tenaga medis senior ditempatkan di zona merah untuk menangani pasien Covid-19 dengan jumlah 26 pasien yang positif. Senin (24/6/21) Pasundan Ekspres)

Karawang setali tiga uang dengan Subang. Karawang sudah masuk zona merah, sekitar 25 kecamatan. Kondisi ini berimbas peningkatan Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit memcapai 89,4 persen. Rabu (16/6/21). Jumlah ASN yang terpapar virus Corona, totalnya 677 orang. Kamis (17/6/21). (Infoko.id). Kasus positif Corona melonjak di Karawang. Kini seluruh kecamatannya berstatus zona merah. Senin (28/6/21) (detikNews).

Lonjakan kasus positif Covid-19 yang merajalela menandakan ketidakmampuan pemerintah dalam menjalankan migitasi bencana/wabah pandemi, sehingga melahirkan kebijakan yang membahayakan masyarakat. Misal, pada kasus mewabahnya Covid-19 pasca idul Fitri. Patut diduga ada kekeliruan besar yang dilakukan pemerintah. Yakni, melarang mudik tapi pada waktu bersamaan membuka tempat-tempat wisata, serta berdalih tentang masuknya TKA China ke Indonesia. Saat ini ketika gelombang kedua serangan virus diperkirakan melanda Indonesia dengan varian deltanya yang memakan banyak korban pemerintah tampak tidak siap dengan kebijakan anggaran maupun fasilitas kesehatan.

Kondisi ini terjadi karena pemerintah menerapkan sistem kapitalisme sekuler, sehingga selalu menempatkan keuntungan materi yang utama. Bahkan dalam posisi sebagai penyelenggara negara sekalipun. Pemerintah terus menempatkan keuntungan sebagai prioritas. Hal ini bisa dilihat dari kasus kebijakan pelarangan mudik dan dibukanya tempat-tempat wisata, serta dipersilakannya TKA China memasuki Indonesia. Ini menunjukkan bahwa ekonomi lah yang lebih diutamakan, karena ada pemasukkan dana ke negara.

Sedangkan keselamatan jiwa rakyat justru menjadi beban pemerintah dan malah dana negara terpakai oleh rakyat. Bahkan rakyat dipaksa untuk memberikan hasil usaha dari keringatnya sendiri kepada negara, melalui oknum-oknum penguasa yang tidak bertanggungjawab. Akhirnya makin memperparah stabilitas ekonomi dalam negeri dan rakyat pun dihadapkan dua pilihan. Pilihan dilematis “sayang nyawa atau bertaruh nyawa”, agar tetap bisa mencukupi nafkah keluarga.

Dalam sistem kapitalisme sekuler rakyat dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri dan mereka di suruh ikut memikirkan solusi atas kebijakan penguasa yang justru telah membahayakan keselamatan rakyatnya sendiri. Bahkan secara tidak langsung bayi dalam kandungan pun sudah menanggung beban pemerintah. Sungguh malang dan menderitanya rakyat dalam sistem kapitalisme sekuler.

Adakah sistem yang lebih baik dari sistem saat ini? Tentu saja ada sistem yang jauh lebih baik dari sistem saat ini. Sistem ini dapat memperbaiki kehidupan rakyat yang selalu di tindak hak dan kewajibannya oleh pemerintah. Negara di seluruh dunia harus mengganti sistem dengan yang baru. Yaitu, sistem Islam. Dimana syariat Islam menempatkan pemerintah sebagai periayah urusan umat, dan para penyelenggara negaranya memiliki ketakwaan yang menjaganya dari perilaku maksiat, sehingga merasa selalu diawasi sang Maha Pencipta yakni Allah SWT. Wallahu’alam.