Ketika Pergaulan tanpa Batas

Oleh: Yuyun Suminah, A. Md

Guru dan Penulis Buletin Sekolah di Karawang

Pergaulan saat ini bebas tanpa batas. Aturan tak lagi jadi pembatas. Maka, wajar kemaksiatan tak terpangkas. Maraknya prilaku-prilaku abnormal diantaranya sex bebas. Mirisnya, ketika sex bebas dilakukan oleh mereka yang masih berstatus pelajar. Seperti beredarnya video mesum yang sudah membuat heboh jagad dunia maya dan membuat malu Kota Karawang. Video tak sesosoh tersebut dilakukan oleh sepasang muda-mudi yang masih berstatus pelajar, adegan tersebut dilakukan di atas sepeda motor yang berlokasi Kawasan Industri Mandala Pratama Cikampek (Tribunnewbogor.com 18/03/20).

Mirisnya, adegan tersebut direkam oleh seseorang yang berinisial SR yang berstatus karyawan di kawasan industri tersebut dengan alasan iseng. Di era serba bebas sekarang orang akan leluasa melakukan apapun, pelaku pelajar tersebut maupun perekamnya yang menggunakan Smartphonnya tuk merekam sesuatu yang tak pantas. Adegan porno di depan mata pun tak luput dari efek kebebasan. Alih-alih, si perekam bukannya menegur pelaku kemaksiatan dan menutup aibnya, tapi malah menyebarkan video asusila tersebut di jejaring sosial. Para pelaku kemaksiatan tersebut tidak memikirkan dampak dari tindakannya. Kini pelaku perekam tersebut ditangkap polisi dan pelajar mesum sudah digiring ke dinas terkait dengan didampingi para orangtuanya masing-masing.

Kasus semacam itu tak hanya sekali terjadi seperti gunung es, mencair tapi terjadi lagi dan lagi. Di luaran sana masih banyak kasus-kasus serupa yang tidak terekpos media. Tindakan menyimpang tersebut yang terjadi dikalangan generasi milenial sangat mudah terpengaruh oleh budaya Barat diantaranya budaya pacaran. Seperti itulah ketika pergaulan tanpa aturan menabrak norma agama dan sosial.

Pendidikan Agama Sebagai “Rem”

Pergaulan bebas bisa disebabkan karena yang pertama sangat kurangnya perhatian dari orang tua dan keluarga, yang kedua kurangnya pemahaman nilai agama yang seharusnya sudah diajarkan sejak kecil, yang ketiga pentingnya peran negara. Ketika ketiga faktor tersebut bisa dijalankan oleh masyarakat maka bentuk kemaksiatan akan termalisir. Seperti yang disampaikan oleh Wakil Bupati karawang yang akrab disapa Kang Jimmi, dirinya meminta agar bekal pendidikan agama di sekolah-sekolah di Kabupaten Karawang semakin ditingkatkan. “Saya minta Perda DTA agar dijalankan di Karawang. Anak SD dan SMP harus ada ijazah DTA sebagai rujukan ke tingkat sekolah selanjutnya”. (TvBerita.com 6/3/20)

Pentingnya pendidikan agama dan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan karena sebagai pengontrol prilaku masyarakat. Ketika aturan itu dilegalkan oleh negara maka masyarakat akan patuh terhadap aturan. Dan akan terbentuknya akhlak-akhlak mulia dikalangan para pelajar khususnya dan umumnya masyarakat luas. Dengan demikian rakyat akan terjaga dari segala kemaksiatan. Wallahu alam. (*)