KISAH GURU MENYOAL PJJ DI MASA PANDEMI

Oleh: Mustar, S.Pd., M,M.

Guru Mapel Geografi SMAN 5 Bandung

Pembelajaran Jarak Jauh atau populer dengan sebutan PJJ, atau BDR (Belajar Dari Rumah) menjadi fenomena biasa ketika merebaknya pandemi virus corona. PJJ atau belajar tapi tidak ke sekolah ternyata tidak semata-mata tantangan bagi siswa, tetapi juga orangtua dan guru. Selain tantangan ternyata PJJ juga merupakan kesempatan bagi pihak-pihak tertentu, terutama operator selular yang tentu saja meraup omszet besar karena penggunaan kuota internet meningkat tajam tentunya. Tidak hanya operator selular, bahkan pengelola aplikasi pembelajaran pun melihat ini sebagai peluang.

Sejatinya menyoal PJJ tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Tantangan pertama yang dihadapi guru adalah bagaimana cara menanggapi nyinyiran beberapa oknum masyarakat yang menganggap guru tidak ada kerjaan alias makan gaji buta. Pada umumnya guru tidak terlalu peduli dengan nyinyiran semacam itu. Karena bagi guru hal semacam itu sudah sering terjadi terutama dari kalangan masyarakat yang memang tidak empati kepada profesi guru. Bagi guru tidak ada gunanya menanggapi hal semacam itu. Mereka berpikir lebih baik mencari cara bagaimana pembelajaran efektif sekalipun tidak di sekolah.

Tantangan berikutnya adalah sumberdaya yang dimiliki guru untuk mensukseskan PJJ, yang tentu saja pembelajaran berjalan baik kemudian mendapatkan hasil yang maksimal. Menyangkut sumberdaya ini, ternyata banyak sekali guru yang mengorbankan energi, waktu dan dana yang tidak sedikit demi terlayaninya pembelajaran peserta didik.

Ketika banyak sekali pilihan untuk proses PJJ, rata-rata guru memiliki pertimbangan sendiri demi terlaksananya pembelajaran. Pertimbangan utama adalah bukan kurikulum, bukan materi, tetapi mereka selalu memastikan supaya peserta didik berpartisipasi dalam pembelajaran, sekalipun tidak memiliki telepon selular dan atau kuota internet. Seringkali hal semacam ini tidak diketahui oleh pihak-pihak penentu kebijakan, bahkan oleh masyarakat umum sering dipandang sebagai perkara sepele.

Bisa jadi masyarakat atau penentu kebijakan tidak menyadari, banyak sekali guru yang tidurnya larut malam hanya demi membuat konten materi pembelajaran untuk diupload di aplikasi YouTube, untuk disimpan di aplikasi e-kearning miliki sekolah, atau untuk dishare di aplikasi percakapan. Bahkan tidak sedikit guru yang terpaksa harus memodifikasi bahan ajar yang dimiliki supaya efektif dishare pada saat konferensi video melalui aplikasi tertentu, mengingat keterbatasan akses penggunaan aplikasi, penghematan kuota internet, dan mempertimbangkan efek psikologis peséta didik.

Namun demikian sangat disayangkan, jerih payah guru yang sedemikian itu tidak banyak mendapat perhatian. Para penentu kebijakan hanya melihat kebutuhan kuota internet semata, tidak pernah mereka melihat kerja ekstra yang harus dilakukan guru dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka di sekolah. Bahkan sangat ironis jika hal-hak finansial karena kinerja tambahan dari guru malah ditiadakan oleh pemangku kebijakan.
Para guru, tetap sabar, tetap bertanggungjawab, tetap berdedikasi, akan indah pada waktunya.(*)