Maraknya Makar Politik

Oleh: Faisal Riyanto

*) Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Di Indonesia saat ini sedang ramai-ramainya membicarakan tentang politik. Apalagi sekarang sudah mendekati Pemilu 2019. Baik itu pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) ataupun pemilihan badan legislative (pileg). Makar politik pun sering terjadi antara partai politik. Di dalam kamus besar Bahasa Indonesia, makar mempunyai arti tipu muslihat, akal busuk, perbuatan (usaha) untuk menjatuhkan pemerintah yang sah. Atau dengan kata lain, makar juga bisa dikatakan sebagai pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Dalam hal ini pemerintah yang dimaksud adalah kepala negara.

Tindak pidana makar adalah suatu tindak pidana yang berhubungan dengan masalah keamanan negara. Mengapa seseorang melakukan tindak pidana makar? Banyak faktor yang mempengaruhi. Tetapi umumnya adalah rasa ketidakpuasan terhadap pemerintah atau kekuasaan yang sedang berlangsung. Perbuatan tersebut pada umumnya dilakukan oleh sekelompok orang yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Meskipun tidak tertutup kemungkinan dilakukan oleh satu atau dua orang saja.

Dapat disimpulkan makar adalah melakukan tipu daya secara sembunyi-sembunyi memalingkan orang lain dari tujuannya dengan suatu bentuk tipu daya, menimpakan hal yang dibenci kepada orang lain dengan sembunyi-sembunyi. Rencana yang tersembunyi untuk menyampaikan orang yang ditipunya kepada sesuatu yang tidak disangka-sangka. Maraknya makar politik di Indonesia menjadi sebuah masalah besar dalam hal politik di negeri ini.

Mengapa politik dalam arti ini begitu penting? Karena sejak dahulu kala masyarakat mengatur kehidupan kolektif dengan baik mengingat masyarakat sering menghadapi terbatasnya sumber alam, atau perlu dicari satu cara distribusi sumber daya agar semua warganya merasa bahagia dan puas. Ini adalah ilmu poitik. Dengan demikian kita sampai pada kesimpulan bahwa politik dalam suatu negara berkaitan dengan masalah kekuasaan pengambilan kekuasaan, kebijakan publik, dan alokasi dan distribusi.

BACA JUGA:  Membumikan Literasi Membaca di Sekolah

Tujuan politik di Indonesia yaitu untuk melindungi hak-hak semua warga negara Indonesia tanpa terkecuali dan mejaga pelaksaan pemerintahan untuk mengatur keamanaan, mensejahterakan kehidupan seluruh masyakarakat Indonesia, memastikan terlaksananya system Pendidikan demi memajukan bangsa dan negara, mejaga keamanan dan perdamaian serta kehidupan sosial yang seimbang.

Kini di Indonesia sudah banyak makar politik seperti penyalahgunaan kekuasaan karna dilihat dari hakikatnya kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku, Fletchteim juga menekankan bahwa kekuasaan politik saling memengaruhi dan bergantung satu sama lain. Tapi kebanyakan orang malah memanfaatkan kekuasaannya hanya untuk kepentingannya sendiri seperti pejabat negara yang banyak melakukan “korupsi” terlebih lagi telah bersekongkol dengan apparat negara yang lain.

Dilihat dari penjelasan tersebut maka dapat diartikan bahwa para aparat negara tidak semuanya bertanggung jawab atas hak dan kewajiban mereka terhadap masyarakat, krna dengan melakukan korupsi mereka telah menipu dan mengkhianati amanah rakyat, dengan banyaknya korupsi di Indonesia maka dapat disimpulkan bahwa hukum bisa dibeli. Tahun ini 2018-2019 adalah tahun politik dimana semua aktor politik bersaing untuk mendapatkan simpati dari rakyat oleh karena itu kita sebagai warga negara khususnya mahasiswa harus memilah mana yang baik untuk kedepannya.

Selain korupsi kasus suappun banyak terjadi di Indonesia, suap adalah tindakan memberikan uang, barang atau bentuk lain dari pembalasan dari pemberi suap kepada penerima suap yang dilakukan untuk mengubah sikap penerima atas kepentingan atau minat si pemberi kejahatan politik tersebut merupakan suatu contoh makar politik di Indonesia. penyebab dari kejahatan politik tersebut adalah mitos-mitos politik, kultus individu sakralisasi, sejarah historis, ketidakberdayaan warga negara sebagai aktor politik dan kondisi mental bangsa yang mengalami proses pembusukan, solusinya meliputi berbagai macam tindakan seperti mejauhi segala macam kekerasan, memangkas dan mehentikan kultus individu dan sebagai mahasiswa tentu harus menjadi agen perubahan (agent of change).(*)

BACA JUGA:  Mencermati Kualitas PBM Online dan Offline