Masa Pandemi yang Serba Menyulitkan

Oleh

1.Ir.H.Taryono,M.Si ( Dosen Geografi UMS, Pengajar MK berkehidupan bersama )

2.Drs.H.Priyono,M.Si ( Dosen Fakultas Geografi UMS )

Hari ini Ahad tgl 8 Dzulhijjah 1442 H atau tgl 18 juli 2021 dan besok tgl 9 Dzulhijjah, bagi umat islam, dua hari itu sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa , yang dikenal dengan puasa Tarwiyah pada tgl 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada hari berikutnya. Mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji agar bisa merasakan nikmatnya seperti yang sedang dilakukan saudara kita yang melaksanakan haji tahun ini. Puasa Arafah  adalah puasa yang dilaksanakan saat jamaah haji melakukan wukuf di padang Arafah dan puasa Tarwiyah adalah merenung atau berfikir. Keutamaan keduanya berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad saw  : mereka yang tidak sedang melaksanakan ibdah haji, disunnahkan puasa keduanya dan akan dihapuskan dosanya selama setahun yang lalu dan yanga akan datang serta diberi 10 kemuliaaan dalam hidupnya oleh Allah swt.

Masa Pandemi telah menerjang dua hari raya umat Islam yaitu Idul Fitri dan Idul Adha sehingga umat Islam tidak bisa merayakannya secara maksimal baik ibadah maupun muamalahnya . Kita sangat merasakan bahwa pandemi mengakibatkan dampak yang nyata dalam segala bidang kehidupan , dari yang normal menjadi abnormal. Dalam bidang ekonomi, akan dirasakan bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah karena pendapatan berkurang sampai 50-60 persen bahkan lebih sehingga akan sangat menjadikan ekonomi terpuruk. Dalam bidang pendidikan , tatap muka belum bisa berlangsung sehingga pembelajaran dilakukan melalui daring, yang akan merugikan siswa maupun orang tua dengan segala keterbatasannya. Siswa tidak bisa menikmati pembelajaran secara utuh sehingga bisa menggerus karakter siswa. Banyak kebosanan yang dialami siswa yang memicu pada penurunan pemahaman dan ketercapaian pembelajaran. Demikian juga di bidang keagamaan, masjid terasa sepi,infaq berkurang drastis, interaksi jamaah menurun menjadikan syiar islam kurang bergairah karena jamaah pada takut ke masjid.

Dalam sejarah kehidupan bermasyarakat, baru hari hari ini terasa sesuatu sangat asing di bawah pengaruh covid-19. Karena kejenuhan masyarakat yang sudah hampir 1,5 tahun di bawah tekanan pandemi yang tak kujung sirna dan serba tidak menentu. Rumah sakit penuh pasien covid sehingga ruang isolasi jadi masalah, kebutuhan tabung oksigen meningkat pesat karena pasien covid menurun oksigennya , ambulance meraung raung tiap malam menandakan pasien covid harus ditangani segera dan mungkin juga sudah meninggal sehingga terjadi antrian yang mengular di tempat pemakaman. Di setiap UGD rumah sakit, ruang isolasi penuh karena pasien covid berdatangan dan munculah rumah atau ruang isolasi yang diadakan oleh masyarakat misalnya gedunga olah raga , pabrik gula dll yang memiliki ruang yang luas dijadikan ruang isolasi. Vaksinasi di mana banyak yang antusias sehingga harus mengantri meskipun belum menjadi jaminan untuk tidak terkapar, tapi paling tidak sudah mengurangi efek yang lebih parah. Kebosanan masyarakat kemudian dilampiaskan dengan mengadakan pernikahan di dalam bus karena semua dibatasi akibat PPKM atau kebijakan sejenisnya. Ini terjadi di daerah Klaten dan Boyolali, Jawa Tengah.

Jika berandai andai, dulu kebijakan lockdown di awal pandemi dilakukan mungkin akan berbeda keadaannya. Namun konsekwensinya bila kebijakan itu dilakukan maka keluarga miskin mendapatkan bansos yang nilainya rp 1,5 juta per bulan. Berarti selam 3 bulan diperlukan gelontoran dana rp 400 triliun. Rakyat miskin bisa menikmati dan bisa juga roda ekonomi menggeliat. Tapi sudahlah kita sudah berada di masa yang sangat sulit. Ini nanti ditambah masalah musim, bila kemarau panjang tiba, tentu akan meningkatkan penderitaan para petani dan buruh tani. Pada ujungnya nanti mereka bisa matang hutangnya karena sudah tidak ada lagi asset yang dijual. Di balik kepiluan , ternyata Tuhan masih memberikan hujan sehingga panen masih bisa dipetik

Kondisi di hari hari ini jelang Idul Adha, di lingkungan  saya, banyak terkapar untuk segala umur, untuk segala jender dan untuk berbagai sebab. Ada yang tanpa gejala, ada yang penyakit penyerta seperti gula dan nafas. Keterbatasan fasilitas di RS akhirnya beberapa ada yang isoman mandiri di gedung olah raga , di rumah anaknya, orang tuanya dan yang gak parah, harus di bawa ke rumah sakit.  Ini semua menjadikan masyarakat menjadi bertambah cemas  sehingga ada yang cuek bermain kartu, ngbrol di posko dan bahkan tetap berkegiatan sehari hari seperti biasanya. Bagi mereka yang suka dengan pendekatan religi maka pergi ke masjid, tadarus Al Qur’an di rumah. Pendek kata mendekatkan diri pada sang Pencipta dengan cara sholat dengan sabar.

Masyarakat miskin dan juga menengah ke bawah,atau kelompok masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap tentu sudah kehabisan tabungan, sehingga perlu dicari solusi yang tidak hanya berupa peraturan atau hukum yang bisa membatasi sebaran covid-19, akan tetapi bagaimana mereka tetap bisa makan dengan bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang layak . Berbagai peraturan yang ketat tanpa memberikan solusi memberi makan kepada mereka maka akan sangat menyulitkan kehidupan ekonomi mereka dan dengan terpaksa mereka akan menjual asset yang masih tersisa.

Disamping itu, perlu ditinjau kembali kebijakan tempat ibadah yang ditutup, yang menjadi tempat keluh kesah mereka terhadap Tuhan, mereka akan lebih tenang hatinya apabila lebih  dekat dengan tempat ibadah, maka pendekatan religi tidak boleh diabaikan bagi masyarkat beragama. Kebijakan untuk mengurangi sebaran covid , harus comprehensive baik dari hulu menuju hilir yang mempertimbangkan aspek keselamatan, kesehatan, ekonomi dan religi.

Dibalik kondisi yang menyedihkan, masih banyak secerah harapan yang muncul dalam masyarakat. Kepedulian masyarakat yang tinggi, jiwa filantropis yang muncul di mana mana, kuatnya solidaritas, jiwa tolong menolong, kolaborasi. Ini menjadi kearifan local masyarakat Indonesia. Maka hilangkanlah virus ketidakadilan dan pupuk virus kepeduliaan untuk menghadapi pandemi ini. Semoga Allah swt segera mengangkat virus ini ke langit dan bisa normal kembali kehidupan kita. (*)