Memahami Kontribusi Perempuan, Jangan Sampai Salah Kaprah

Oleh: Sarah Adilah

Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

DP2KBP3A (Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak) Kabupaten Bandung yang digagas oleh komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat tengah berfokus pada fenomena perlindungan anak yang menjadi korban perceraian orang tua seperti yang dikutip dari Pojoksatu.id. Selain itu, kondisi ini diperkuat dengan gerakan yang diusung oleh PUSPA (Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak). Yanti Lidianti selaku Ketua Forum PUSPA, Kabupaten Bandung mengatakan bahwa saat ini forum akan memulai dari gerakan daerah terpencil, selain itu fokus yang lain akan berkutat pada penanganan angka KDRT dan perceraian yang semakin meningkat. Hal inilah yang diduga menjadi salah satu dampak dari maraknya penjualan anak. Oleh karena itu, hal yang dianggap dapat menjadi alat untuk menangkal adalah melalui adanya pemberdayaan perempuan yang dapat memperkokoh ekonomi keluarga. Dengan begitu, diharapkan perceraian dan pernikahan anak dapat diminimalisir.

Karena kasus pernikahan anak di Kabupaten Bandung sendiri telah dilakukan oleh anak usia dibawah 20 tahun, dilansir dari Jabar tribunnews. Dara melaporkan bahwa keberadaan Forkom PUSPA sendiri telah mendapat dukungan pemerintah setempat yaitu melalui pelantikan Forkom yang dipimpin oleh Wakil Bupati terpilih Sahrul Gunawan.

Keberadaan perempuan nyatanya sangat penting untuk membangun ketahanan keluarga, karena sejatinya salah satu penyebab masalah generasi berasal dari disfungsi peran ibu dirumah. Namun, nampaknya pemberdayaan perempuan pada sistem kapitalisme hari ini diidentikan dengan lemahnya perempuan dalam partisipasi di bidang ekonomi dan seolah terus bergantung kepada laki-laki. Selain itu propaganda mengenai tingginya KDRT dan Perceraian karena tidak adanya kesetaraan terus digaungkan.

Hadirnya seorang ibu di ranah publik memang disebabkan karena berbagai alasan, diantaranya kebutuhan ekonomi, ditengah harga-harga bahan pokok mahal, kebutuhan hidup yang tinggi hari ini menuntut perempuan harus berada di luar rumah bukan karena ia ingin namun karena ia harus. Selain itu, alasan lain yang berkembang yaitu berkaitan dengan gender dimana seorang perempuan yang sebenarnya tidak terlalu butuh untuk mencari pekerjaan, tetapi didorong untuk dapat berkontribusi dalam peningkatan aspek ekonomi hal ini sekaligus menjadikan anggapan bahwa perempuan punya level yang setara dengan laki-laki. Dengan kata lain paradigma ini membawa interaksi perempuan baik di dalam rumah dan diluar rumah patut untuk berkompetisi demi meraih level yang lebih dengan laki-laki.

Berdasarkan hal-hal tersebut, terang saja banyak hal yang justru mengancam di depan mata, misalnya rendahnya angka pertumbuhan generasi karena perempuan yang sibuk bekerja, masalah generasi yang jauh dari nilai moral dan agama karena kehilangan sosok pendidik di rumah, sampai dengan isu bersama pasangan yang tidak harmonis.
Bak gayung bersambut, masalah yang terjadi pada hari ini selalu dikaitkan dengan tidak adanya kesetaraan gender, padahal justru tuntutan kesetaraan itu berdampak pada rusaknya hal yang lain. Hal ini sangat berbeda dengan Islam, walaupun tudingan bahwa islam yang menjadikan ketidaksetaraan ini berkembang adalah fakta yang salah. Karena Allah justru tidak pernah menempatkan laki-laki dan perempuan dalam level yang berbeda, seperti dalam firman Allah pada TQ.S Annisa ayat 97: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada yang lebih unggul diantara yang lain. Bahkan Allah menjelaskan dalam firmannya yang lain, seperti dalam TQ.S Al-Hujurat ayat 13: “ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”. Sehingga dapat kita pahami bahwa Allah menilai manusia hanya dari ketakwaannya saja.

Adapun perempuan dan laki-laki diberikan hak yang sama untuk hidup, kewajiban yang sama sebagai muslim, namun juga terdapat hak dan kewajiban berbeda yang Allah siapkan untuk kita. Pada dasarnya hak dan kewajiban yang berbeda tersebut bukan untuk membuat salah satu menjadi lebih rendah dari yang lainnya, karena semua itu datang atas perhitungan Allah sebagai zat yang maha mengetahui tentang hakikat cipataannya mengenai standar kemampuan untuk mengembannya. Tugas kita hanya berusaha semakimal mungkin agar amanah tersebut mampu dijalani dengan baik.

Maka dari itu, untuk dapat menciptakan tatanan social masyarakat yang baik serta meraih generasi yang sholih hal pertama dan paling penting adalah memahami peran masing-masing baik sebagai perempuan atau laki-laki sesuai dengan apa yang Allah gambarkan di dalam Al-Quran. Sehingga segala hal tidak menjadi salah kaprah dan juga membentuk kolaborasi yang produktif antara laki-laki dan perempuan. (*)