Membangkitkan Trio Raksasa Kecerdasan Anak Millenial

Oleh : Dr. Yusep Solihudien M.Ag

 Penais Kemenag Purwakarta

Anak-anak millenial lahir dari era revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan semakin canggihnya teknologi informasi Internet melalui gadget dengan jari jemarinya sehingga “dunia dalam genggaman”.

Teknologi informasi ibarat pedang bermata dua bagi anak-anak, ia bisa digunakan positif dan negatif. Menurut para psikolog akibat serangan internet dengan berbagai produknya, baik game, wibesite pornoghrafi maupun medsos telah melahirkan beberapa problematika psikologis.

Antara lain, enggan bersosialisasi, pola tidur terganggu, sangat sensitif, egoitas tinggi, sulit konsentrasi dan sulit fokus yang lama, malas sekolah, daya baca lemah, “sakau” kuota, senang kekerasan, ketagihan nonton pornografi, kurang peduli pada lingkungan sekitar, dan efek berat pada seks bebas, LGBT, dan lain-lain. Karena itu kalangan pendidik baik orang tua dan guru millennial menghadapi multiproblematika psikologis yang jika tidak dioptimalkan mengancam generasi emas bangsa ini.

BACA JUGA:  Guru Menjadi Figur yang Dirindukan Dikala Pandemi

Muncul pertanyaan besar, mengapa ini bisa terjadi? Akan banyak jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut. Menurut Dadang Hawari seseorang disebut tidak sehat/sakit jiwanya, jika ia tidak bisa melaksanakan sesuatu seusai dengan fungsinya, atau “perilaku disfungsional” dalam berbagai aspeknya.

Manusia adalah mahkuk terbaik yang diciptakan Allah, karena ia mempunyai unsur komplet yaitu, unsur jasmani, akal, dan hati. Di antara kekuatan yang diberikan Allah yaitu memberikan akal dan hati yang berfungsi untuk dinamika kehidupannya.

Penyimpangan-penyimpangan psikologis anak millennial ini diakibatkan oleh adanya keterpecahan dan ketidakseimbangan dalam mengimplementasikan kecerdasan. Karena itu penting untuk menelaah makna konsep kecerdasan dalam Alquran dan psikologi modern sebagai bahan paradigma dalam menjalani pendidikan generasi emas kita.

BACA JUGA:  Fasilitas Mewah kok Ditolak?

Sebagai landasan teologis kita terdapat dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat. Dalam ayat ini secara tegas Allah hanya akan mengangkat harkat derajat seseorang yang memiliki iman dan berilmu saja.

Kata iman secara mutlak mengandung dimensi keyakinan hati, pernyataan verbal dan teraktualisasi dalam kehidupan. Hampir semua ayat kita temukan, bahwa kata iman selalu diikuti dengan amal saleh.

Dalam bahasa sekarang iman adalah bersumber dari hati, ia merupakan dasar untuk munculnya kecerdasan spiritual dan moral. Dengan demikian dua kekuatan ini harus ada pada diri manusia, kekuatan iman dan ilmu, jika salah satu hilang maka ia akan jatuh pada derajat yang rendah.

BACA JUGA:  Budaya Petty Corruption dan Perilaku Anti Korupsi Masyarakat Indonesia

Kekuatan iman merupakan bentuk dari kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshall, penerjemah Helmy Mustofa (2005:25), kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang kita gunakan untuk membuat kebaikan, kebenaran, keindahan, dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari, keluarga, organisasi, dan institusi.

Kecerdasan spiritual adalah cara kita menggunakan makna, nilai, tujuan, dan motivasi itu dalam proses berpikir dan pengambilan keputusan. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) akan cenderung menjadi orang yang bijaksana dengan pembawaan yang tenang, memandang segala sesuatu dari sisi positif dan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan bijaksana.

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) cenderung tidak terlalu memikirkan materi, yang menjadi tujuan hidup mereka adalah bagaimana membuat jiwa dan rohani bahagia dengan selalu berbuat baik kepada setiap orang.