Memupuk Keyakinan di Tengah Keprihatinan

Oleh: Ramdan Hamdani,

Kepala Sekolah SDIT Alamy Subang

Wabah Covid-19 yang saat ini tengah mengguncang dunia seakan menjadi horor yang menakutkan dan menghantui setiap langkah manusia di muka bumi. Hampir seluruh media arus utama (mainstream) di tanah air setiap harinya menyuguhkan kabar terbaru terkait penyebaran wabah mematikan tersebut. Bertambahnya jumlah penduduk yang terinfeksi serta meninggal dunia kian menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat tentang nasib mereka di masa yang akan datang. Ketidakjelasan tentang kapan wabah ini akan berakhir pun menjadi pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.

Di sisi lain, pembatasan mobilitas sebagai upaya untuk mencegah penyebaran yang lebih luas nyatanya menimbulkan konskuensi yang tidak sederhana. Aktivitas perekonomian warga hampir bisa dikatakan lumpuh seiring ditutupnya berbagai jenis tempat usaha yang selama ini dijadikan tempat sandaran. Kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok pun kian dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Adapun bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai dengan jumlah masyarakat yang membutuhkannya. Alhasil, konflik horizontal di kalangan masyarakat pun menjadi tak terhindarkan.

Kekhawatiran masyarakat kian bertambah seiring kebijakan pemerintah yang membebaskan puluhan ribu narapidana. Dengan dalih guna mencegah menyebaran wabah di dalam tahanan, pemerintah memutuskan untuk mengembalikan warga binaan tersebut kepada keluarga mereka masing-masing. Namun, alih-alih memutus mata rantai penyebaran wabah, tingkat kriminalitas di tengah masyarakat justru kian meningkat akibat ketiadaan kesempatan untuk mencari penghidupan yang layak. Tidak sedikit dari para mantan napi yang baru saja menghirup udara segar tersebut mengulangi perbuatannya sehingga terpaksa harus kembali hidup di balik jeruji besi.

Berbagai kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat tersebut pada akhirnya menimbulkan depresi sekaligus pesimisme akan nasib mereka di masa yang akan datang.

Ketidakmampuan para pemangku kebijakan dalam memberikan rasa aman bagi warganya mengakibatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan (para) pemimpinnya kian menurun. Hukum rimba dikhawatirkan akan berlaku setidaknya selama masa pandemik ini. Adapun kelangkaan bahan pokok serta harganya yang mulai merangkak naik seakan menjadi terror tersendiri yang tak akan mudah untuk dilalui.

Di tengah keprihatinan yang melanda sebagian besar penduduk negeri ini, membangun optimisme dalam diri setiap individu menjadi sebuah keniscayaan untuk dapat terus bertahan. Dalam konteks ini, media memiliki peran penting dalam memupuk keyakinan di tengah masyarakat bahwasannya badai yang tengah berkecamuk ini pada akhirnya akan mampu kita lewati. Oleh karenanya, berbagai berita positif yang mampu menggugah semangat masyarakat untuk menjalani hidup dengan lebih baik perlu terus disuarakan.

Berita tentang banyaknya pasien Covid-19 yang sembuh setelah menjalani perawatan sehingga dapat kembali kepada keluarganya semestinya lebih gencar untuk disebarkan. Selain itu beberapa Negara maju yang diketahui terkena dampak yang sangat parah seperti Italia, Spanyol serta Amerika saat ini diketahui tengah melakukan pelonggaran pembatasan di beberapa Negara bagian. Hal ini berarti jumlah kasus yang ditemukan semakin hari kian menurun.

Adapun potensi terjadinya krisis pangan dalam beberapa waktu ke depan sebenarnya dapat diantisipasi sedini mungkin dengan cara memanfaatkan lahan yang ada. Bagi mereka yang tinggal di pedesaan, hal tersebut tidaklah terlalui sulit mengingat kondisi alam yang sangat mendukung. Yang perlu dilakukan hanyalah memaksimalkan lahan yang ada dengan tujuan untuk meningkatkan hasil produksi. Oleh karenanya, produksi bahan pokok seperti beras, sayuran serta umbi-umbian perlu terus dijaga ketersediaannya dengan cara merawat lingkungan sekitarnya. Aparat terkait perlu memperhatikan kebutuhan para penggarap lahan seperti kondisi irigasi serta ketersediaan pupuk dan benih. Jika diperlukan, insentif khusus bagi mereka yang berhasil meningkatkan hasil produksinya dalam jumlah tertentu dapat diberikan.

Demikian halnya dengan mereka yang tinggal di perkotaan, mulai menanam berbagai jenis sayuran di pekarangan rumah dengan metode hidroponik dapat dilakukan guna meminimalisir pengeluaran selama masa pandemik sekaligus menghilangkan kejenuhan di tengah PSBB. Dalam hal ini konsep urban farming hendaknya (kembali) digalakan oleh masyarakat kota sebagai salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan pangan di masa-masa sulit.

Selain berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga ketersediaan pangan, tetap menjaga jarak (physical distancing) antar sesama juga menjadi faktor penting yang mampu mempercepat meredanya wabah di tanah air. Dalam hal ini kesadaran masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah apabila tidak ada keperluan yang sangat mendesak sangat diperlukan untuk memutus mata rantai penyebaran wabah. Ketegasan pemerintah dalam memberlakukan PSBB tidak akan ada artinya apabila tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Hal positif lainnya yang dapat kita saksikan di masa pandemik ini adalah terbangunnya jiwa wirausaha di kalangan masyarakat. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dialami oleh sebagian masyarakat nyatanya telah “memaksa” mereka untuk berpikir (lebih) kreatif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Jiwa wirausaha (enterpreneuhship) yang merupakan pilar penting bagi terbentuknya negara maju kian tumbuh dan berkembang ibarat jamur di musim hujan. Beragam jenis kebutuhan pokok mulai diperjualbelikan secara daring dari rumah – rumah warga. Dengan memanfaatkan gawai yang dimiliki, masyarakat pun melakukan transaksi jual beli dengan para konsumennya. Adapun untuk proses pengiriman, jasa angkutan umum online pun menjadi andalan.

Selain berupaya semaksimal mungkin melalui ikhtiar lahiriah, senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta pun perlu dilakukan. Bulan Ramadhan yang tengah kita jalani ini sejatinya merupakan momentum untuk bermunajat kepada Allah SWT. Oleh karenanya, mari kita manfaatkan bulan yang penuh berkah ini dengan menjalankan berbagai aktivitas yang dapat mengundang rahmat – Nya. Dengan demikian, mudah – mudahan Allah segera mencabut wabah ini di tanah air sehingga kita dapat kembali berkumpul dengan keluarga tercinta. (*)