Menelisik Kerja Sama Vaksin, Utamakan Ekonomi Atau Keselamatan Rakyat?

Oleh Lilis Suryani

Vaksin adalah suatu zat yang merupakan suatu bentuk produk biologi yang diketahui berasal dari virus, bakteri atau dari kombinasi antara keduanya yang dilemahkan. Vaksin diberikan kepada individu yang sehat guna merangsang munculnya antibody atau kekebalan tubuh guna mencegah dari infeksi penyakit tertentu. Melalui vaksinasi diharapkan bisa menjadi solusi untuk segera mengakhiri pandemi yang tengah melanda negeri ini.

Jenis penelitian vaksin ini disebut sebagai uji coba tantangan yang mencakup pemberian vaksin kepada sukarelawan. Peneliti dengan sengaja memaparkan virus kepada mereka untuk melihat apakah subjek terinfeksi atau tidak.

Pendekatan itu dinilai kontroversial karena Covid-19 tidak memiliki obat dan dapat berakibat fatal. Namun, cara itu menjanjikan mempercepat penelitian. Berkaitan dengan hal itu Indonesia memutuskan menjalin kerjasama antara BUMN Biofarma dg Produsen Vaksin Sinovac yang berasal dari Cina. Pada tahap ini untuk uji klinis calon vaksin. Melalui kerjasama ini Pemerintah Indonesia mempunyai keuntungan berupa alih teknologi dan keuntungan ekonomi dari produksi yang akan dilakukan di dalam negeri.

Sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Jumat (24/7/2020) Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma Bambang Heriyanto mengungkapkan kerja sama tersebut akan menguntungkan Indonesia.

Menurutnya, ada proses transfer teknologi yang dilakukan Sinovac kepada Bio Farma. “Jadi, dari teknologi yang diberikan ke kami, walau nanti mulainya dari downstream baru nanti ke upstream,” ujarnya.

Nantinya, bahan aktif diberikan ke Bio Farma, selanjutnya baru akan diracik dan diformulasikan di Indonesia.

Keuntungan lainnya, kata Bambang, uji coba ini bakal memberi informasi terkait respons vaksin pada penduduk Indonesia. Dengan demikian, kecocokan vaksin bakal dapat diketahui ketimbang membeli vaksin dari luar yang belum diuji di Indonesia.

BACA JUGA:  BUDAYA SOCIAL CLIMBER DI KALANGAN MAHASISWA

Adapun uji coba tersebut juga bukan dilakukan dari tahap awal, melainkan uji coba fase III. Artinya, kandidat vaksin yang diuji sudah melalui serangkaian penelitian mengenai keamanan dan efek samping dari pre-klinis, fase I, hingga fase II.

Indonesia juga bukan satu-satunya negara yang bekerja sama dalam uji coba fase III kandidat vaksin Sinovac. Beberapa negara seperti Turki, Brazil, Bangladesh, dan Cile juga melakukan uji coba yang sama.

Jika fase ketiga lulus, proses berikutnya adalah tahap perizinan regulator masing-masing negara. Di Indonesia, menurut Bambang, masih harus melalui persetujuan dari Komite Etik juga beragam prosedur dari Badan POM RI sebelum vaksin ini beredar di pasaran.