Mengasah Integrasi Kemampuan Soft Skill dan Hard Skill di Kampus di Masa Pandemi Covid-19

Oleh:
1.Drs.Priyono,MSi(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2.Siti Nur Aisah(Aktivis bidang penerbitan)

Belakangan ini dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi tengah hangat-hangatnya membahas terobosan terbaru yaitu terkait dengan rencana Kampus Merdeka. Dalam kampus merdeka dijelaskan bahwa mahasiswa mendapatkan keleluasaan jatah 2 semester untuk kegiatan di luar kelas.

Mahasiswa diajak berinteraksi dengan dunia luar kampus sehingga dapat meningkatkan sense of crisis sekaligus mengimplementasikan ilmunya untuk memberi manfaat bagi masyarakat luas. Itulah yang kita idamkan, kampus menjadi menara yang memberi manfaat bagi lingkungannya. Sesuai sabda nabi Muhammad saw bahwa orang yang baik adalah orang yang memberi manfaat bagi orang lain.

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan kampus merdeka itu sendiri? Menurut Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus yang mengusulkan gagasan Kebijakan Kampus Merdeka, beliau menuturkan bahwa Kebijakan Kampus Merdeka merupakan kelanjutan dari konsep Merdeka Belajar.

Pelaksanaannya paling mungkin untuk segera dilangsungkan. Hanya mengubah peraturan menteri tidak sampai mengubah peraturan pemerintah ataupun undang-undang.

Maksudnya, melalui Kebijakan Kampus Merdeka, Nadiem Makarim berusaha menjalin kerja sama antara universitas dengan pihak di luar kampus untuk mencetak generasi muda yang mahir di segala bidang baik akademik maupun non akademik. Kebijakan ini dikeluarkan dengan mengikuti perkembangan zaman agar sarjanawan muda tetap dapat mengikuti arus perubahan serta kebutuhan pasar dalam dunia kerja.

Ada 4 pilar utama dalam pelaksanaan Kebijakan Kampus Merdeka :

1. Otonomi bagi Perguruan Tinggi baik negeri ataupun swasta untuk membuka program studi (prodi) baru. Otonomi tersebut berlaku untuk perguruan tinggi yang sudah terakreditasi sekurang-kurangnya akreditasi B serta telah menjalin kerja sama dengan organisasi ataupun universitas yang termasuk dalam Top 100 World Universities. Pengecualian berlaku untuk program kesehatan dan pendidikan. Program studi baru tersebut otomatis akan mendapat akreditasi c.

BACA JUGA:  Atasi Sampah dengan Aturan  Islam

2. Program kedua terkait dengan penjaminan mutu akreditasi Perguruan Tinggi. Akreditasi yang sudah ditetapkan oleh BAN-PT berlaku selama lima tahun dan akan terus diperbarui secara otomatis. Sementara itu, akan terus dilakukan evaluasi apabila ditemukan penurunan kualitas pendidikan seperti ditemukannya pengaduan masyarakat disertai dengan bukti yang valid serta penurunan secara signifikan jumlah mahasiswa baik mahasiswa yang baru mendaftar ataupun yang lulus dari suatu program studi atau universitas.

3. Mengubah PTN Satuan Kerja menjadi PTN Badan Hukum, salah satu kelebihan dari perubahan tersebut ialah PTN-BH lebih leluasa bekerja sama dengan industri termasuk melakukan proyek komersial.

4. Terakhir yaitu Kebijakan Kampus Merdeka memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi dan melakukan perubahan definisi SKS (Satuan Kredit Semester). Adapun jumlah SKS yang diambil sejumlah 2 semester atau kurang lebih sebanyak 40 SKS.

Sejatinya Kebijakan Kampus Merdeka juga mengasah kemampuan mahasiswa baik soft skill dan juga hard skill. Soft skill merupakan kemampuan yang dimiliki dalam diri seorang mahasiswa. Hal tersebut dapat berupa kemampuan komunikasi yang baik, kepribadian, serta artibut personal, kemampuan mengorganisir orang lain, kemampuan mempresentasikan makalah, kemampuan menyelesaikan persoalan dalam organisasi kemahasiswaan termasuk kemampuan memimpin sebuah rapat. Lain halnya dengan kemampuan hard skill yang berupa kemampuan yang berhubungan dengan praktik langsung di muka umum seperti pengabdian masyarakat, penelitian, asistensi dosen,keahlian bidang ilmu tertentu, dll.

Lantas apa hubungannya Kebijakan Kampus Merdeka dengan kedua kemampuan tersebut? Kebijakan Kampus Merdeka memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk menjelajah dunia baru di luar lingkup kampus dan mereka langsung dapat mempraktikan hal tersebut. Seperti halnya yang ada di UMS, kampus tersebut menerapkan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta, dengan beberapa kegiatan diantaranya( seuai SK Rektor UMS no 72/II/2020 tentang Ketentuan aktivitas merdeka belajar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta) :

BACA JUGA:  Peran Guru/Dosen Geografi Dalam Literasi di Masa Pandemi  

1. Pertukaran Pelajar atau Mahasiswa
2. Magang atau Praktik Kerja
3. Asistensi Mengajar di Satuan Pendidikan
4. Penelitian atau Riset
5. Proyek Kemanusiaan
6. Kegiatan wirausaha
7. Studi atau Proyek Independen
8. Membangun Desa atau KKN Tematik

Setelah dilakukan pendatan, ternyata mahasiswa yang mendaftarkan
dirinya dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) cukup banyak. Terhitung sampai dengan 15 Juli 2020 terdapat sebanyak 1.917 yang mengikuti kegiatan MBKM.

Jumlah tertinggi diduduki oleh program studi geografi dengan total kegiatan merdeka belajar mahasiswa sebanyak 161 atau sekitar 8,40%, disusul program studi teknik sipil dengan 150 kegiatan(7,82%) , hukum ekonomi syariah dan teknik sipil dengan kegiatan masing masing 140 kegiatan(7,30 %) dan peringkat kelima diraih oleh program studi pendidikan olah raga dengan 136 kegiatan(7,08 %).

Kegiatan tersebut akan sangat bermanfaat terlebih di saat pandemi seperti saat ini. Selain untuk mengisi waktu selama libur kuliah kegiatan tersebut juga dapat digunakan sebagai ajang tolak ukur atas implementasi atau penerapan ilmu yang sudah di dapatkan di bangku kuliah dan yang lebih penting juga untuk mengasah integrasi kemampuan soft skill dan hard skill mahasiswa.

Sebagai contoh kecil mahasiswa dpt melakukan kegiatan yang bersifat membangun desa di tempat tinggalnya misalnya pembuatan peta citra desa untuk perencanaan pembangunan,mendesian pembuatan rumah berbasis murah energi, pembuatan jamban keluarga yang memenuhi standar kesehatan, pemeriksaan kesehatan gigi dan umu secara gratis,membuat jalan dengan kontrusi yang standar, pengolahan limbah rumah tangga dll yang disesuaikan dengan program studi masing masing.