Mengatasi Pandemik Menggunakan Vaksin DNA

Oleh : Luniar Abdullah, Vanni Destianti Kurnia, Egina Astien Nurhidayah, Raihana Nurul, dan Ariyanti Viani
Universitas Pendidikan Indonesia

Pada tahun 2020 ini, dunia telah dikejutkan dengan adanya penyakit yang menular dan mewabah seperti Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona. Tak hanya Covid-19, penyakit mewabah lainnya pun banyak ditemukan di berbagai negara, salah satunya adalah negara Eropa dan Amerika Utara dimana dalam 15 tahun terakhir ini menimbulkan banyak sekali kasus penyakit Lyme yang diperkirakan jumlah kasus tersebut dalam setahun melebihi 300.000 kasus hasil diagnosis dokter. Penyakit Lyme atau Lyme disease adalah infeksi bakteri yang ditularkan ke manusia melalui gigitan kutu. Terdapat 4 jenis bakteri Lyme: Borrelia burgdorferi, Borrelia mayonii, Borrelia afzelii dan Borrelia garinii.

Bakteri penyakit Lyme dapat menyerang organ tubuh manapun, termasuk otak dan sistem saraf, otot dan sendi, serta jantung. Hal ini membuat penyakit Lyme sulit di diagnosis karena gejalanya yang menyerupai kondisi lain. Penyakit Lyme lebih sering ditemui di daerah di mana terdapat kutu, terutama di Inggris dan beberapa bagian Eropa, serta Amerika Utara. Kondisi ini dapat terjadi pada pria dan wanita dengan usia berapa saja. Dan akhir-akhir ini, angka penyakit Lyme meningkat secara signifikan.

Tindakan pencegahan yang efektif untuk penyakit Lyme sudah diteliti. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa transmisi Borreliella burgdorferi dari kutu ke inang mamalia dapat dihentikan dengan antibodi yang menargetkan antigen OspA. LYMErix menunjukkan kemanjuran, namun hanya tersedia dalam waktu singkat saja di pasaran.

Vaksin asam nukleat sintetis yang direkayasa lebih baru, dikirimkan oleh elektroporasi adaptif CELLECTRA® canggih dan telah terbukti sangat efektif dalam memperoleh kekebalan yang kuat juga tahan lama dalam berbagai studi klinis terhadap target penyakit menular, termasuk Zika, Ebola, dan MERS. Berkaitan dengan vaksin yang tepat sebagai pencegahan penyakit Lyme, pada penelitian Guibinga et al (2020) menjelaskan pengembangan vaksin DNA OspA consensus sintetis (SynCon®), pLD1 yang dikombinasikan dengan CELLECTRA®.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa vaksin DNA pLD1 memunculkan respons imun humoral dan seluler yang kuat pada mencit terhadap antigen OspA dengan memberikan perlindungan terhadap infeksi Borreliella burgdorferi. Kemudian, imunisasi marmot intradermal dengan pLD1 mengarah pada respons antibodi yang tahan lama dan kuat yang bertahan setidaknya selama satu tahun.

Selain itu, antibodi dari marmut yang diimunisasi secara efektif bersaing untuk mengikat OspA dengan mAb 319-44 pada manusia. Data-data yang dikumpulkan dimaksudkan untuk meneliti rekayasa sintetis vaksin DNA yang dipercaya dapat menjadi proteksi sebagai bentuk imun dari Borreliella burgdorferi, suatu agen etiologi yang menyebabkan penyakit Lyme. Vaksin DNA terbukti dapat meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus dan bakteri dalam waktu yang sangat lama.

Beberapa cara yang digunakan untuk membuat vaksin DNA diantaranya adalah dengan cara kultur sel dimana Sel T 293 ginjal embrionik manusia dibiakkan di Dulbecco modified eagle’s medium (DMEM) dan dilengkapi dengan 10% fetal bovine serum (FBS), bersama dengan masing-masing 100 U / ml penisilin dan streptomisin. Sel lalu diinkubasi pada 37°C dan 5% CO 2. Selain itu, DNA diisolasi dari jaringan yang dipotong menggunakan kit mini-rep DNA. Beban bakteri pada jaringan ditentukan dengan menggunakan DNA genom.

Singkatnya, 80 ng DNA genom yang diekstraksi bersama B. burgdorferi flaB primer (200 nM) dan probe (320 nM) atau primer (400 nM) dan probe (320 nM) diarahkan ke mouse aktin gen. Kodon dan RNA dioptimalkan. Nukleotida yang dihasilkan disintesis, dicerna dengan BamHI dan XhoI, dan dikloning ke dalam vektor ekspresi pVAX di bawah kendali promotor sitomegalovirus manusia dan hormon pertumbuhan sapi.

Di Indonesia sendiri, penyakit ini jarang ditemukan kasusnya, namun memang terdapat laporan yang menunjukkan jika penyakit Lyme pernah terjadi. Hingga saat ini, pengobatan dari penyakit Lyme di Indonesia hanya sebatas pemberian antibiotik saja, seperti doxycycline, cefuroxime, dan amoxicillin, baik infeksi yang berada pada fase awal maupun fase lanjutan. Jika vaksin DNA OspA konsensus sintetis (SynCon®), pLD1 diterapkan di Indonesia, tentu merupakan salah satu langkah yang baik dalam tindakan pencegahan terhadap infeksi Borreliella burgdorferi.

Hal ini dikarenakan gejala yang ditimbulkan sulit sekali untuk dapat didiagnosis, sehingga melalui pemberian vaksin tersebut, maka tubuh sudah memiliki antibodi sebagai upaya pencegahan, perlindungan dan pertahanan terhadap infeksi Borreliella burgdorferi sejak dini. (*)