OPINI  

Mental Pejabat: Peradaban Jahat vs Peradaban Taat

Oleh: Wity

(Aktivis Muslimah Purwakarta)

Pandemi yang menghantam negeri rupanya tak hanya memporak-porandakan ekonomi. Tapi juga kepercayaan rakyat terhadap para pejabat. Bukan hanya karena dinilai gagal mengatasi pandemi, lebih dari itu rakyat menilai para pejabat ini miskin empati.

Di tengah pandemi yang terus meninggi, ada seorang pejabat yang begitu santainya menikmati sinetron televisi. Padahal di saat yang sama rakyat sedang berjibaku mempertahankan lapak-lapaknya yang dibongkar aparat. Waktu mengais rezeki dibatasi, sementara kebutuhan sehari-hari tak kenal kompromi. Belum lagi yang sakit, banyak yang tak tertangani karena fasilitas kesehatan dan obat-obatan tak mencukupi akibat kasus infeksi harian yang masih tinggi.

Di saat seperti ini, sang pejabat masih bisa ongkang-ongkang kaki di depan televisi. Apa namanya bila bukan miskin empati?

Ada pula sejumlah menteri yang melakukan perjalanan ke luar negeri kala PPKM Darurat. Bukan untuk mendapatkan vaksin atau mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan penanganan pandemi, melainkan untuk promosi bisnis dan investasi. Padahal, itu bisa dilakukan secara virtual. Direktur Eksekutif Institute for Development on Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebut  perilaku para menteri ini belum menunjukkan adanya sense of crisis. (tempo.co, 18/07/2021)

Lain lagi dengan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Pak menteri yang satu ini memberi saran yang lucu untuk meningkatkan imun. Yaitu dengan menonton komedi, mendengarkan musik, dan makan cokelat. (tempo.co, 14/07/2021)

Tampaknya, Pak Menteri punya selera humor yang unik. Bersantai menonton komedi atau mendengarkan musik sambil makan cokelat mungkin menyenangkan. Tapi bagi rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hariannya, hal itu mana sempat.

Demikianlah sedikit gambaran tentang mental pejabat di era peradaban jahat kapitalisme-sekuler. Mereka dibentuk oleh sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Aturan Alkhaliq dicampakkan, aturan manusia diagung-agungkan.

Ketika mereka menduduki jabatan, bukan untuk mengurusi urusan rakyat, melainkan demi kepentingan pribadi dan golongan. Alhasil, kebijakan yang dibuat hanya menguntungkan para korporat, sementara rakyat dibiarkan melarat hingga sekarat. Padahal merekalah yang mengelu-elukan pemerintahan itu “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Nyatanya hanya menipu rakyat.

Di era peradaban jahat seperti sekarang, harapan rakyat untuk mendapat pemimpin yang amanah amat susah. Berulang-kali ganti pemimpin, berulang-kali pula menelan pil pahit kekecewaan. Namun, kehadiran pemimpin yang amanah bukanlah kemustahilan.

Dahulu kala ada begitu banyak pemimpin yang amanah dan amat mencintai rakyatnya. Sebut saja Khalifah Umar bin Khattab ra. Siapa yang tak mengenalnya. Ia adalah ­Amirul Mukminin yang fisiknya segarang singa namun hatinya selembut sutera.

Di masa kepemimpinannya, Daulah Islam pernah dilanda krisis yang dikenal dengan tahun kelabu. Khalifah Umarlah yang paling peka perasaannya terhadap musibah itu, hingga ia bersumpah untuk tidak makan daging dan mentega hingga rakyat sejahtera.

Diriwayatkan dari Anas, “Perut Umar bin Khattab selalu keroncongan di tahun kelabu, sebab ia hanya makan dengan minyak. Ia mengharamkan mentega untuk dirinya. Ia memukul perut dengan jari-jarinya dan berkata, ‘berbunyilah karena kita tidak punya apapun selain minyak hingga rakyat sejahtera’.”

Khalifah Umar pun sering memasakkan makanan dengan tangannya sendiri untuk rakyatnya yang kelaparan. Abu Hurairah ra. mengisahkan,

“Saya pernah melihat dia pada tahun kelabu memanggul dua karung di atas punggungnya dan sewadah minyak berada di tangannya. Ia meronda bersama Aslam. Saat keduanya melihatku, Umar bertanya, “Dari mana engkau, wahai Abu Hurairah?” Saya menjawab, “Dari dekat sini”. Saya pun membantu dia memanggul. Kami memanggul hingga tiba di perkampungan Dhirar. Tiba-tiba ada sekelompok orang berasal dari dua puluh kepala keluarga datang. Umar bertanya, “Ada apa kalian datang?” Mereka menjawab, “Lapar.” Merekapun mengeluarkan daging bangkai yang mereka makan dan tumbukan tulang yang mereka telan. Saya (Abu Hurairah) melihat Umar meletakkan selendangnya. Ia kemudian memasak dan memberi mereka makan hingga kenyang.”

Sungguh, Umar bin Khattab adalah sosok pemimpin yang sangat peka perasaannya terhadap kondisi rakyat. Pemimpin seperti ini hanya bisa didapat di era peradaban taat. Mereka memimpin bukan karena menginginkan jabatan, tapi karena rakyatlah yang memilihnya. Kesadaran bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt. mendorong mereka melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya.

Mereka ingat betul pesan Rasulullah saw. bahwa di hari kiamat kelak, jabatan adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali yang mengambil jabatan dengan hak dan melaksanakan tugas dengan benar.

Abdurrahman bin Samurah berkata, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan karena permintaan maka tanggung jawabnya akan dibebankan kepadamu. Namun jika kamu diangkat tanpa permintaan, maka kamu akan diberi pertolongan.” (HR Muslim).

Demikianlah, peradaban jahat hanya melahirkan pemimpin-pemimpin jahat, penipu rakyat, dan tak peka pada derita rakyat. Sebaliknya, peradaban taat melahirkan pemimpin-pemimpin taat yang memimpin rakyat atas dasar ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Mereka sangat peka pada kondisi rakyat, dan selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat.

Maka, jika umat ini menginginkan pemimpin yang mampu mengayomi dan peka terhadap kondisi rakyat, mau tidak mau, umat harus mengganti peradaban jahat kapitalisme-sekuler dengan peradabat taat, yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.[]