Menyoal Implementasi Pendidikan Karakter

Ditulis Oleh : M. Epih Sumaryadi, S.Pd.,M.Pd.

Kepala SMPN 4 Kalijati Subang

Berhasil atau tidaknya sebuah proses pendidikan pada dasarnya tidak ditentukan oleh seberapa besar nilai yang diperoleh siswa yang tertuang dalam buku raport. Perilaku yang mereka tunjukkan dalam kehidupan sehari – hari sesungguhnya merupakan cerminan dari apa yang mereka peroleh selama proses pendidikan yang berlangsung selama bertahun – tahun. Lebih jauh lagi, apa yang dilakukan oleh anak didik kita di lingkungan keluarga ataupun masyarakat pada hakikatnya menunjukkan baik atau tidaknya kinerja kita sebagai pendidik.

Apa yang penulis sebutkan di atas seakan mengajak kita untuk menyaksikan sebuah tempat yang terletak di pusat kota Subang. Adalah Alun – Alun Subang sebagai salah satu tempat dimana berkumpulnya masyarakat Subang sekaligus “saksi bisu”  atas ketidakdisiplinan yang dilakukan oleh warganya. Tempat asri nan indah yang sengaja disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Subang bagi warganya justru harus ternoda akibat perilaku oknum warganya yang tidak bertanggungjawab. Sampah organik maupun non organik yang berserakan di tengah maupun pinggir lapangan merupakan salah satu pemandangan yang sering penulis saksikan saat melewati tempat tersebut. Kondisi seperti ini seakan tidak berubah sekalipun ada himbauan dari pihak terkait agar warga senantiasa menjaga kebersihan dan keindahan taman.

Menyikapi perilaku kurang baik yang ditunjukkan oleh sebagian warga tersebut seakan mengajak kita sebagai pendidik untuk bercermin tentang sejauh mana upaya yang telah dilakukan dalam upaya menanamkan nilai – nilai pendidikan karakter kepada anak didik kita. Apa yang ditunjukkan oleh anak – anak kita adalah “buah manis” dari apa yang kita tanam sebelumnya. Dengan kata lain, ketidakmampuan anak – anak kita dalam menjaga kebersihan fasilitas umum tersebut bisa jadi disebabkan oleh tidak maksimalnya guru saat memberikan materi yang berkaitan dengan hal tersebut. Namun, penulis pun tidak memungkiri bahwa ada faktor lain di luar hal tersebut seperti minimnya tempat sampah yang disediakan.

BACA JUGA:  Gerebek Sahur atau Gerobak Sahur?

Pemandangan sebaliknya justru penulis temukan saat berkunjung ke negara tetangga Australia beberapa tahun lalu. Saat itu penulis berkesempatan untuk menimba ilmu dan pengalaman di sekolah – sekolah yang ada di negeri kangguru tersebut. Saat penulis berkunjung ke tempat – tempat umum, penulis menemukan pemandangan yang sebaliknya dengan apa yang penulis saksikan di Alun – Alun Subang. Fasilitas umum seperti taman – taman kota yang ada disana sangat terjaga kebersihan dan keindahannya. Penulis sama sekali tidak melihat sampah berserakan sekalipun ratusan orang tengah berkumpul. Anak – anak dan orang dewasa seakan berlomba untuk menjaga kelestarian lingkungan dimana mereka berada. Bagi mereka, membuang sampah sembarangan seakan dianggap sebagai “kejahatan” yang luar biasa dan harus dihindari.

Kebiasaan baik yang ditunjukkan oleh sebagian besar warga Australia tersebut bukan merupakan hal yang luar biasa apabila kita menyaksikan proses pendidikan yang diselenggarakan sejak dari pendidikan dasar. Di sekolah – sekolah Australia, pendidikan karakter telah menjadi bagian penting dari keseharian anak didiknya. Jauh – jauh hari sebelum diajarkan tentang matematika, anak – anak di Australia diajarkan tentang makna tanggungjawab dan kejujuran terlebih dahulu. Bagi mereka, tanggungjawab dan kejujuran merupakan pondasi dasar bagi setiap individu dalam menjalani kehidupannya. Hal ini berbanding terbalik dengan pendidikan di negara kita yang cenderung mengedepankan nilai  akademik dengan diberlakukannya Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) dan Ujian Nasional (UN) untuk dapat melangkah ke jenjang selanjutnya. Kurikulum 2013 yang dahulu digadang – gadang mampu memperbaiki moral generasi muda pun nyatanya belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

Agar anak – anak kita mampu mengimplementasikan nilai – nilai karakter yang diajarkan di sekolah, setiap pendidik diharapkan mampu menunjukkan kinerjanya dengan sebaik – baiknya. Memberikan keteladanan kepada peserta didiknya menjadi sebuah keniscayaan dalam upaya melahirkan generasi unggul yang memiliki karakter. Adapun pemerintah sebagai pengambil kebijakan hendaknya mampu menyusun kurikulum pendidikan yang mendukung tumbuh kembangnya karakter anak. Pendidikan yang berorientasi pada nilai akademik tanpa diimbangi dengan muatan karakter secara proporsional hanya akan menjadikan proses pendidikan berjalan secara parsial. Artinya, ilmu yang diperoleh di bangku sekolah tidak akan ada artinya apabila tidak dibarengi dengan perilaku yang baik dan melekat pada diri mereka.(*)

BACA JUGA:  Warnet Diserbu Pelajar, Menakar Peran Ibu di Masa Pandemi