Menyoal PPG Dalam Jabatan

Oleh: Maslina Siagian

Guru SMKN 1 Pantai Cermin,

Kab. Serdang Bedagai Sumatera Utara

Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan (PPG daljab) tahun 2019 sudah didepan mata. Sesuai dengan jadwalnya, penetapan final peserta dilakukan pada bulan Januari 2019. Untuk angkatan pertama peserta PPG daljab akan dimulai Januari dan berakhir di bulan Mei 2019. Para calon peserta PPG daljab mulai dihinggapi rasa gembira dan galau di waktu yang bersamaan. Gembira karena sebentar lagi akan memperoleh sertifikat profesional sebagai pengakuan atas profesionalitas dalam bidangnya, dan tentunya akan berhak mendapatkan tunjangan profesi, namun di sisi lain galau karena akan menghadapi masa-masa sibuk belajar seperti mahasiswa kembali, jauh dari keluarga untuk sementara waktu, meninggalkan para peserta didik serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sekalipun biaya pendidikan masih disubsidi pemerintah.

Kurang lebih selama 5 bulan para calon peserta PPG daljab akan disibukkan dengan kegiatan ini. Situasi ini membuat banyak calon peserta PPG berpikir ulang untuk mengikutinya, apalagi jika calon peserta sudah berkeluarga dan memiliki anak. Seperti yang dialami oleh seorang ibu guru, rekan kerja penulis yang memiliki anak balita, terpaksa harus rela berpisah untuk sementara waktu, karena harus menempuh PPG daljab di pulau jawa. Anak balitanya harus dititipkan ke kampung tempat tinggal orang tuanya untuk sementara waktu. Bisa dibayangkan betapa sedihnya beliau mengingat anak dan keluarga yang jauh. Sementara dia tinggal di kamar kos, belum lagi biaya hidup selama PPG, biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Banyak orang yang mengalami hal serupa seperti ibu guru tadi. Hal ini dilihat beberapa grup diskusi media para guru-guru di media sosial. Masing-masing mengungkapkan pergumulannya menghadapi model PPG daljab ini. Jika tidak diikuti, maka peluang untuk memperoleh pengakuan sebagai guru profesional akan lewat.

Tahun 2018 merupakan tahun pertama dilaksanakannya program PPG dalam jabatan tersebut dimana guru yang telah mengajar tetapi belum memiliki sertifikat professional diwajibkan untuk mengikuti PPG dalam jabatan melalui proses seleksi. Sebelumnya proses untuk mendapatkan sertifikat guru profesional ditempuh dengan mengikuti Pendidikan dan latihan Profesi Guru (PLPG) yang diselenggarakan kurang lebih 11 hari. Pemerintah melalui lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan(LPTK) yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan PPG dalam jabatan bekerja sama dengan dinas pendidikan terkait akan memanggil para calon peserta PPG daljab untuk mengikuti proses  mulai dari pendaftaran dengan melengkapi berkas administrasi yang diperlukan, mengikuti tes seleksi calon peserta PPG dalam jabatan hingga dinyatakan lulus sebagai peserta PPG daljab.

Setelah dinyatakan lulus, para peserta PPG daljab akan mengikuti serangkaian proses yang panjang lagi untuk persiapan PPG daljab.  Diawali dengan pembelajaran daring (online) selama 3 bulan, kemudian dilanjutkan dengan tatap muka di LPTK selama 5 minggu, dan PPL di sekolah selama 3 minggu. Proses yang panjang ini selain memakan banyak waktu (hampir 1 semester tidak bisa fokus menjalankan tugas mendidik), membutuhkan biaya, juga melelahkan. Syukur jika lulus, kalau gagal mesti ujian ulang lagi.

Menurut Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi No 55 Tahun 2017 tentang standar pendidikan guru, Program pendidikan profesi guru (PPG) adalah  program pendidikan yang diselenggarakan setelah program sarjana atau sarjana terapan untuk mendapatkan sertifikat  pendidik  pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah. PPG daljab ini mengharuskan peserta menyelesaikan minimal 24 sks beban belajar dalam kurun waktu selama 5 bulan, yang diakhiri dengan uji kompetensi yang diselenggarakan oleh panitia nasional. Uji kompetensi tersebut ditempuh dengan metode uji tulis dan uji kinerja sesuai dengan standar nasional kompetensi guru. Penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta PPG dalam jabatan itu sendiri meliputi penilaian proses dan produk pengembangan perangkat pembelajaran, proses dan produk PPL, uji kompetensi, dan penilaian kehidupan bermasyarakat.

Data Calon peserta PPG daljab angkatan 1 tahun 2019 ditetapkan sebanyak 11.252 guru.  Dapat dipastikan, sebanyak itu juga guru yang akan meninggalkan tugas mengajar di kelas selama proses PPG Daljab berlangsung. Menjadi masalah adalah ketiadaan guru di kelas selama guru tersebut mengikuti PPG Daljab. Hingga saat ini, belum ada kebijakan resmi terkait guru yang akan menggantikan selama yang bersangkutan menjalani PPG Daljab. Dapat dibayangkan situasi belajar di kelas akan seperti apa. Sekalipun teknologi saat ini sudah sangat canggih dapat membantu, seperti memberikan materi, memeriksa tugas peserta didik secara daring, tetap tidak dapat menggantikan kehadiran guru di ruang kelas.

Kebutuhan akan guru professional adalah keharusan. Dan tidak ada satu program yang benar-benar sempurna untuk memperolehnya, namun perbaikan dapat terus dilakukan dengan mempertimbangan segala sesuatunya. Pengalaman penulis, sebagai peserta PLPG tahun 2017, model PLPG sudah cukup bagus dan lebih efektif soal waktu dan materi pembelajaran. Belajar daring selama 2 bulan untuk memperlengkapi peserta dan dimantapkan dengan tatap muka selama 11 hari. Untuk menghasilkan guru yang benar-benar professional tentu tidak boleh instan, tetapi tidak juga dengan cara mengabaikan banyak hal untuk memperolehnya.

Semoga saja, untuk PPG selanjutnya para pembuat kebijakan dapat mempertimbangkan lokasi tempat tinggal para calon peserta, demi penghematan biaya dan juga pertimbangan tetap dapat dekat dengan keluarga. Karena bagaimanapun, dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Demikian juga soal waktu pelaksanaan kiranya dapat lebih diefektifkan. Menjadi guru profesional adalah sebuah proses yang panjang, yang dilalui setiap hari di sekolah, di ruang kelas, dan dimana saja. Pelatihan-pelatihan mandiri maupun yang diselenggarakan oleh pemerintah masih tetap relevan untuk memperlengkapi guru-guru. (*)