Nasib Nelayan di Tengah Badai Corona

Oleh: Heni Yuliana
(Aktivis Muslimah Karawang)

Badai corona tengah menghantam negeri ini. Virus yang berasal dari negeri tirai bambu ini telah melemahkan semua sendi kehidupan. Saat ini lebih dari 200 negara di dunia telah terkena pandemi ini. Ekonomi, sosial, dan politik semua terguncang.

Dan yang paling dirasakan rakyat tentu masalah ekonomi. Dampak dari kebijakan sosial distancing atau physical distancing. Masyarakat diminta untuk menjaga jarak satu sama lain.

Dan baru-baru ini juga diterapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang sudah diterapkan di beberapa kota diantaranya Jabodetabek yang juga merupakan tempat penyaluran ikan hasil tangkapan nelayan di TPI (tempat pelelangan ikan) Ciparage Jaya, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Akibatnya, harga ikan tangkapan nelayan anjlok hingga 50 persen. Manajer TPI Ciparagejaya Kartono mengatakan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jabodetabek membuat pelaku usaha ikan dari Bekasi, Jakarta dan sekitarnya berhenti beroperasi. (Kompas.com)

Ini merupakan permasalahan yang harus segera dituntaskan. Bila berlarut-larut maka akan sangat berbahaya. Mengingat jumlah PHK semakin tinggi.

Menurut data di pemerintahan angka pengangguran akibat covid per 2/4/2020 sudah mencapai 2-3juta orang. Tapi menurut Ketua umum Kadin (Kamar dagang Industri) Suryani Motik jumlah real pasti lebih besar lagi. (Kompas.com)

Dan Suryani pun meminta pada pemerintah agar memberikan bantuan yang tepat sasaran dengan akurasi data yang tepat sehingga yang terdampak wabah ini bisa ditangani dengan cepat.

Peran Negara

Negara sebagai pengatur urusan warganya harus bertindak cepat dan kreatif. Untuk masalah nelayan di Ciparage maka cari solusi terbaik. Pemerintah bisa saja membeli hasil tangkapan nelayan lalu dijual murah bagi warga sekitar atau dibagikan kepada warga yang tidak mampu.

Rasulullah bersabda “Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Seorang raja memimpin rakyatnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya itu.

Seluruh anggaran yang ada bisa di tunda harusnya bisa dialokasikan pada penanggulangan wabah ini. Dan rencana pemindahan ibukota bisa dikaji ulang. mengingat prediksi wabah ini berakhir masih lama. Bahkan PSBB Jakarta sudah memperpanjang hingga 22 Mei.

Mampukah rakyat bertahan dalam kondisi kritis ini? Insyaallah sanggup jika tata kelola pemeritahnya sesuai dengan syariat Islam. Sehingga kebijakan yang dilahirkannnya selalu berfokus pada rakyat. Jika sistemnya masih berkutat pada sistem ekonomi neolib dan sistem pemerintahan demokrasi, nasib rakyat hanya akan semakin melarat. (*)