Nasib Pengungsi Rohingya Kini

Oleh Salma Rufaidah

Pemerintah Bangladesh telah mulai mengirim sekitar 1600 pengungsi Rohingya ke Pulau Bhasan Char. Disinyalir Pulau Bhasan Char, sebuah pulau terpencil yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal. Tujuh kapal angkatan laut Bangladesh yang membawa para pengungsi Rohingya dari kamp pengungsi Cox’s Bazar berangkat ke Bhasan Char pada Jumat (4/12) pagi. Dua perahu lainnya membawa makanan dan perbekalan untuk para pengungsi yang pindah ke pulau itu. Pihak berwenang mulai memindahkan ribuan ke pulau terpencil meskipun ada kekhawatiran tentang keamanan mereka. (https://www.viva.co.id/tag/bangladesh www.viva.co.id)

Seperti dilansir  dalam news.okezone.com,  pihak Menteri Luar Negeri Bangladesh Abdul Momen meskipun mengatakan semua pengungsi yang dipindahkan telah memberikan persetujuan, tapi kelompok pegiat HAM, Human Rights Watch, mengatakan mereka telah mewawancarai 12 keluarga yang namanya ada dalam daftar pengungsi yang dipindahkan. Para pengungsi itu mengatakan bahwa mereka tidak secara sukarela pergi. (/03/12/2020)

Sebelumnya, sekitar 3 tahun lalu,  para pengungsi yang dikenal dengan manusia perahu ini melarikan diri dari Myanmar akibat perilaku kejam, pembunuhan, pemerkosaan. Sehingga lebih dari 730.000 terpaksa mengungsi ke beberapa negara tetangga antara lain Indonesia, Malaysia, termasuk ratusan ribu yang tinggal di Cox`s Bazar, kamp Bangladesh.( www.viva.co.id/berita/dunia)

Namun Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan telah diberikan “informasi terbatas” tentang relokasi dan tidak terlibat dengan relokasi itu.Padahal terkait pengungsi internasional, telah dibentukan sebuah organisasi internasional yang memberi perlindungan para pengungsi dibawah PBB, dengan nama UNHCR. Berdasarkan Konvensi 1951 dan Protokol 1967, maka semua pengungsi itu wajib dilindungi oleh setiap negara, baik negara tujuan maupun negara tempat transit para pengungsi international.  UNHCR merupakan sebuah badan pengungsi dunia yang diberi mandat oleh PBB untuk melindungi pengungsi dan membantu pengungsi mencari solusi bagi keadaan buruk para pengungsi internasional. Seharusnya dengan kasus pengungsi Rohingya yang terkatung-katung dan sangat menderita ini sudah ditangani segera.

Batu Sandungan Nasionalisme dalam Wujudkan Ukhuwah Islamiyah

Perjalanan Pengungsi Rohingya atau yang sebelumnya dikenal dengan penyebutan manusia perahu ini, memang sangat memprihatinkan. Mereka mendapat perlakuan tak manusiawi bukan hanya dilakukan Bangladesh , bahkan Indonesia dan Malaysia termasuk yang menolak keberadaan mereka.

Kenyataan pahit yang harus diterima pengungsi rohingya ini, semakin memperjelas  wajah asli nasionalisme, yaitu sebuah paham yang menurut Hans Kohn dalam Nasionalism: Its Meaning and History adalah sikap pandang individu bahwa kesetiaan tertinggi harus diserahkan pada negara bangsa.

Pemahaman inilah berupa batu sandungan yang mengikis dan menghilangkan ukhuwah Islamiyah sesama kaum muslimin. Sudah sejak lama orang –orang kafir menanam benih pemikiran nasionalisme dikalangan muslim, sehingga seolah menutup mata atas terjadinya tragedi Rohingya. Dengan berbagai dalih yang menjunjung bahwa mereka lebih mementingkan urusan dalam negerinya dibandingkan dengan nasib saudara muslimnya.

Solusi Rohingya Butuh Khilafah

Konsep nation state berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Islam. Nation state ikatan pemersatunya adalah kebangsaan -yang tak jelas definisinya. Sedangkan dalam Islam, ikatan pemersatunya adalah akidah Islam. Ikatan ini sangat kuat dalam mempersatukan kaum muslim tanpa  melihat asalnya dari negeri mana. Selama mereka membutuhkan pertolongan, jiwa teracam apalagi meregang nyawa. Bahkan khilafah akan mengerahkan  seluruh perangkat negara, termasuk memobilisasi militer untuk membela kaum muslim yang tertindas. Mengancam dengan aksi militer , siapa saja yang menindas bahkan membunuh  mereka.
Dalam kekhilafahan , warga yang menaati aturannya dan berada di wilayah manapun, bahkan dari etnis dan agama apapun, berhak mendapatkan penuh hak dan jaminannya. Termasuk keamanan.

Islam memerintahkan para penguasa negeri muslim termasuk Indonesia, Malaysia, Bangladesh untuk segera memberi pertolongan pada pengungsi Rohingya ini. Hanya karena dianggap bukan warga negaranya, sehingga masalah ini berkepanjangan.

Oleh karena itu, satu-satunya solusi atas permasalahan kaum muslim diberbagai negeri , baik Rohingya di Myanmar dan juga nasib muslim lainnya, seperti kaum muslim Gaza di Palestina, kaum muslim Uighur di Cina, kaum muslim Pattani di Thailand, kaum muslim Moro di Filipina Selatan, adalah tegaknya institusi pemersatu Daulah Khilafah Islamiyah. Mengapa? Karena hal ini yang akan menjadi pelindung umat dari ketertindasan dan menjadi satu institusi yang akan mewujudkan persatuan kaum muslimin dan kembali peradaban Islam yang mulia.