Pandemi Belum Berakhir, PPKM Solusikah?

Oleh: Ayu Susanti, S.Pd

Pandemi covid-19 belum berakhir. Dunia masih diliputi berbagai kekhawatiran. Karena dampak dari pandemi ini membuat masyarakat dunia kelabakan termasuk di Indonesia. Saat ini negeri tercinta sedang merasakan gelombang covid-19 kedua. Dimana meningkatnya angka yang terinfeksi virus, penuhnya rumah sakit yang bisa menangani dan merawat pasien covid-19 serta bahkan sampai terjadi kelangkaan oksigen. Sehingga dengan ini pemerintah memberlakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat yang dikenal dengan PPKM. Tentu dengan adanya kebijakan ini memberikan dampak bagi masyarakat.

Sebuah video berdurasi 27 detik yang memperlihatkan aktivitas petugas saat menggelar razia PPKM Darurat viral di media sosial. Video itu heboh karena ibu pedagang kopi histeris saat terjaring razia PPKM Darurat. “Saya BPJS aja engak punya, sok siapa yang mau ngebiayain kalo saya enggak buka usaha ini,” teriak ibu pemilik warung yang diketahui tengah hamil tua di dalam video tersebut, yang di unggah oleh akun Instagram purwakartazamannow. Diketahui kejadian tersebut terjadi pada Selasa (13/7/2021) yang berlokasi di Jalan KK Singawinata, Kelurahan Nagri Kaler, Kecamatan Purwakarta Kota, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. (https://news.detik.com/, 14/07/2021).

Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berimbas juga kepada para pengelola perusahaan angkutan umum dari daerah ke daerah lain. Seperti yang dirasakan oleh Rajab (39) yang merupakan pengelola perusahaan angkutan umum Bus Warga Baru yang berada di Terminal Ciganea, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta dengan rute Purwakarta-Jakarta, dirinya menyebutkan selamat di masa penerapan PPKM Darurat ini penumpang menurun drastis. (https://jabar.tribunnews.com/, 13/07/2021).

Itu adalah sebagian kecil dampak yang dirasakan masyarakat selama PPKM berjalan. Walaupun sebetulnya dengan adanya PPKM ini ada penurunan kasus covid-19.

BACA JUGA:  Membumikan Literasi Membaca di Sekolah

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika mengatakan, pada sepekan saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, sejauh ini dirasakan sudah efektif karena mobilitas dari masyarakat berkurang. “Allhamdulilah kita selama sepekan sudah melakukan PPKM Darurat ini terbukti dengan menurunnya angka terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Purwakarta,” kata Anne saat menghadiri pelaksanaan razia rutin malam hari, Sabtu (10/7/2021). (https://jabar.tribunnews.com/, 11/07/2021).

Namun dibalik angka menurunnya kasus covid-19 ini masih ada jeritan hati rakyat karena tidak bisa mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari selama PPKM ini. Banyak masyarakat yang kebingungan, terutama yang mendapatkan penghasilan harian, bagaimana caranya untuk mendapatkan penghasilan agar ekonomi keluarga bisa stabil, kebutuhan rumah tangga pun bisa tercukupi. Namun apalah daya, masyarakat tidak bisa berbuat lebih untuk bisa mengais rezeki.

Jika kita melihat fakta yang ada, begitulah sistem kapitalisme saat mengatur kehidupan masyarakat. Kapitalisme, sistem hidup yang memisahkan antara agama dan kehidupan ini hanya bisa melahirkan kebijakan yang membuat rakyat susah. Salah satunya dalam mengurusi pandemi ini. Di satu sisi ingin menekan kasus covid-19, tapi di sisi lain justru kebijakan ini melahirkan masalah lain, yakni tidak bisa menutupi penderitaan rakyat yang tidak bisa beraktivitas untuk mencari nafkah. Pemberlakuan PPKM ini hanyalah memberikan pembatasan kegiatan masyarakaat secara tegas namun tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.

Begitulah hakikat aturan buatan manusia yang hanya bisa melahirkan kerusakan dan kesengsaraan belaka. Tidak bisa melahirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Padahal ada ayat Allah yang memperingatkan siapa pun yang menjadi pemimpin umat saat mengurusi urusan masyarakat untuk harus selalu berlaku adil dan tidak dzolim.

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada sesama manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapatkan siksa yang pedih” (QS asy-Syura: 42).

BACA JUGA:  Solusi Pengelolaan Sampah di Karawang

“Sungguh, manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang zalim” (HR Tirmidzi).

“Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum Muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka, dan kemiskinan mereka. Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (Diriwayatkan dari Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Maryam).

Masih banyak dalil lain sebagai peringatan kepada manusia untuk selalu berlaku adil apalagi dalam melakukan pengurusan kepada masyarakat. Disamping itu Allah pun memerintahkan kita untuk memutuskan perkara berdasarkan apa yang diperintahkan oleh Allah, termasuk dalam pengurusan masalah wabah ini. Allah sudah mengingatkan kita dalam ayat-Nya untuk berhukum pada aturan Allah.

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata”. (QS. Al-Ahzab:36).

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa:65).

Ayat tersebut sudah sangat jelas bagi kita untuk menentukan sistem hidup berdasarkan Islam. Sebuah aturan yang Allah berikan untuk mengatur manusia agar selamat dunia dan akhirat.

Virus covid-19 ini bisa dihentikan saat kita kembali kepada aturan Islam. Karena Islam punya solusi yang tepat untuk menangani wabah sampai tuntas. Islam pun adalah satu-satunya aturan yang bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas, tegas, bertanggung jawab dan serius dalam menangani wabah. Serta akan selalu berpikir untuk menekan dan menyelesaikan wabah tapi tetap akan memikirkan kebutuhan rakyat sehari-hari.

BACA JUGA:  Hak Asasi yang Terabaikan

Begitulah perbedaan yang sangat jelas antara aturan manusia dan Sang Pencipta. Agar kita bisa menghentikan berbagai masalah termasuk terbebas dari wabah ini, maka sudah sepatutnya kita kembali kepada aturan Sang Pencipta.

Wallahu’alam bi-showab.