Pandemi, Gowes Dalam Perspektif Geografi

Oleh: 1.Dra. Sovia Isniati, M.Pd (Guru SMAN 1 KRETEK) dan 2.Drs.H.Priyono,M.Si ( Dosen Fakultas Geografi UMS )

Gowes saat ini menjadi tren di kalangan masyarakat. Sebelum pandemi kegiatan gowes ini  dimanfaatkan ajang berkumpul berbagai komunitas untuk berkumpul menyalurkan hobi mereka atau sebagai ajang silaturahmi. Banyak komunitas-komunitas sepeda yang terbentuk seperti pedalholic, banselip, paguyupan sepeda onthel dan sebagainya.  Namun di masa pandemi ini gowes atau bersepeda sebaiknya dilakukan dengan tetap menjaga protokol kesehatan.. gowes bisa dilakukan sendiri atau dengan rombongan kecil. Olah raga gowes ini merupakan olah raga yang bebas,  kita kayuh  sepeda ke manapun tidak ada yang mengusik. Waktunya pun bisa kita  sesuaikan, mau pagi hari, sore, atau malam hari, masing-masing memiliki sensasi tersendiri. Biasanya seseorang mengayuh sepeda tidak terburu-buru alias santai. Bersepeda di pagi hari, bonusnya bisa menghirup udara segar, sehingga dapat mengurangi stres dan depresi, serta meningkatkan rasa bahagia. Bersepeda tidak monoton, karena kita  mengayuh pedal sambil melihat pemandangan beragam, kalau di kota kita bisa melihat gedung-gedung  pencakar langit, gowes’ di alam terbuka juga banyak dipilih oleh banyak orang.  Melewati pemandangan yang indah, naik-turun perbukitan, melihat hijaunya kebun hingga menyeberangi sungai memang memiliki sensasi tersendiri bagi para pecinta olah raga gowes. Tak hanya menyehatkan, gowes di alam terbuka sambil menghirup udara segar juga membantu mengurangi kadar stres. Bahkan gowes bisa membantu meningkatkan konsentrasi belajar. Bethany Lambeth seorang guru  di  California, Amerika Serikat berusaha membantu muridnya untuk berkonsentrasi dalam belajar dengan menggunakan sebuah olah raga yang kegitannya mengayuh seperti berseoeda(liputan6.com)

Sensasi bersepeda dapat kita lihat betapa besarnya manfaat olah raga ini atau gowes. Kalau kita cermati lebih jauh maka para pesepeda atau sering disebut goweser  , ini telah belajar ilmu geografi. Karena berdasarkan struktur keilmuannya geografi adalah disiplin ilmu yang mengkaji tentang fenomena permukaan bumi atau geosfer, sedang menurut Hasil Seminar dan Lokakarya ahli-ahli Geografi di Semarang Tahun 1988 geografi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan geosfer, interaksi antara keduanya dalam konteks keruangan dan kewilayahan (Depdiknas, 2006)

BACA JUGA:  Pembangunan KEK dan Ancaman Ketahanan Pangan

Obyek geografi dibagi menjadi dua yaitu obyek formal dan obyek material. Obyek formal yaitu  sudut pandang atau cara seseorang berpikir terhadap suatu gejala, dalam geogafi berkaitan dengan dimana dan bagaimana gejala itu terjadi, sedang obyek material berkaitan dengan materi yang dipelajari dalam geografi yaitu geosfer yang terdiri dari lithosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan anthroposfer

Dalam kegiatannya para goweser akan melihat berbagai perbedaan fenomena alam  seperti dataran,gunung, lembah, hamparan sawah  yang merupakan bagian dari lithosfer. Pada fenomena hidrosfer mereka akan melihat aliran sungai, danau maupun wilayah lautan yang sangat luas,  secara geografi sosial mereka juga bisa membedakan pola kehidupan orang –orang di desa  dengan pola kehidupan orang kota dan sebagainya. Dengan melihat  hal tersebut bisa dikatakan bahwa secara  tidak langsung para goweser ini sudah belajar geografi. Lebih lebih jika bisa stay sejenak melihat fenomena geografi di saat gowes kemudian mendiskripsikan mulai dari gimana terjadinya atau prosesnya, dimana sebarannya, bagaimana perkembangannya sampai manfaat ekonomi dan lingkungan yang bisa diambil. Jika perlu ada pengukuran parameternya sehingga lebih menghayati terhadap obyek yang dilihat.