Pariwisata Berbasis Pendidikan yang Terlupakan

Oleh :
1.Tjatur Rosediany, S.Pd(SMAN 9 Surabaya,Jawa Timur)
2.Drs.Priyono,MSi(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Sektor pariwisata di Indonesia mulai menggeliat, mulai dirancang untuk dikembangkan menjadi bagian pembangunan yang terintegrasi dengan sektor yang lain yang memiliki linkage yang kuat misalnya sektor jasa perhotelan, sektor tranportasi, sektor perdagangan dll dan sistem integrasi seperti yang harus diciptakan sehingga semua sektor bisa hidup dan menghidupi.

Sentuhan lain yang tidak kalah penting adalah mendayagunakan masyarakat obyek wisata agar mereka bisa berinovasi melayani kebutuhan industri pariwisata sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan. Inilah pariwisata berbasis masyarakat yang menjadi idaman di seluruh pelosok nusantara. Propinsi Bali dan Yogyakarta adalah contoh daerah yang telah mengembangkan pariwisata sehingga peran sektor pariwisata dalam menyediakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan asli daerah sangat significant.

Bali terkenal denga pulau dewatanya, bak surga dunia sedangkan Yogya mengkesima karena budaya dan kota pendidikan. Dalam sebuah artikel penelitian tentang Yogyakarta disimpulkan bahwa daya tarik Yogya sebagai kota pendidikan dan budaya atau pariwisata lebih kuat atau lebih atraktif dibanding Yogya sebagai kota perdagangan dan industri.

Sektor pariwisata berbasis pendidikan, pariwisata minat khusus harus juga mendapat perhatian karena bisa meningkatkan pemahaman sejarah dan minat khusus misalnya bidang goa,sungai dsb. Peninggalan sejarah masa lalu karena kita pernah dijajah oleh Belanda cukup lama dan Belanda sangat terkenal dengan ahli hidrologi dan ahli bangunan sehingga banyak kita dapatkan warisan yang sangat monumental untuk pendidikan. Sebuah bangunan yang dibangun oleh pemerintah dan biasa digunakan untuk keperluan masyarakat ada kalanya terbengkalai ketika kondisinya memburuk. Meski terkadang disebabkan oleh pihak pengelola sendiri.

Bangunan-bangunan seperti itulah yang terkadang menarik perhatian pihak-pihak tertentu. Tujuannya sama, mengalihfungsikannya menjadi apapun yang menguntungkan. Sebagai tempat wisata salah satunya. Pengalihan fungsi inilah yang turut dialami sebuah bangunan di Kota Bangkalan, Madura, yaitu mercusuar.Masih ingat dalam pikiran kita yang berkaitan dengan video mesum dilakukan 2 pelajar SMA yang terkenal dengan ‘Mercusuar Bergoyang’ Gegerkan Bangkalan ( detiknews,18 November 2009 ).

Namun itu tidak serta merta menyebabkab Mercusuar ditutup. Menara yang menjulang tinggi itu menjadi bagian sejarah sebagai pendidikan astronomi bagi siswa yang berkunjung sehingga mereka akan memiliki wawasan yang luas tentang tata surya, ditambah integrasi pariwisata alami biotis yang berupa mangrove yang kaya akan kehidupan dan fungsi alami yang lain, menjadi daya tarik tersendiri bila dikelola denga baik. Lebih lebih di bangkalan juga punya komunitas astronomi yang tergabung dalam komunitas Fokalis Jatim(Komunitas Astronomi se Jatim) yang lingkupnya Nasional di bawah bimbingan LAPAN. Lokasi mercusuar ini Cuma 2 km berdekatan dengan lokasi obyek pariwisata budaya makam Syaichona Kholil yang sarat pengunjung. Jadi sebenarnya obyek wisata Mercusuar sangat potensial karena didukung oleh obyek wisata lain saling berdekatan. Aspek geografi yang sangat penting adalah jarak dan aksesibilitas dalam pengembangan pariwisata.

Mercusuar yang dimaksud terletak di Desa Sembilangan, Kec. Socah. Dikelola oleh Dinas Perhubungan Kota Bangkalan bersama TNI AL, tempat ini sudah lama dikenal sebagai tempat wisata lewat kabar yang menyebar lewat mulut ke mulut masyarakat. Bukan
hanya bagian menaranya saja, bagian lain seperti bagian pesisir dan hutan mangrove juga berpotensi tinggi menjadi sebuah tempat wisata yang bakal ramai dikunjungi. Akan tetapi, belakangan diketahui pihak pengelola perlahan membuat tempat ini seakan terlupakan.
Mercusuar Sembilangan dibangun pada masa kolonial Belanda. Mercusuar ini dibangun atas perintah Z.M. Willem III tepatnya pada tahun 1879, sesuai dengan yang tertera di plakat yang ada di bagian depan menara.

Menurut salah satu pemilik warung di kawasan Mercusuar Sembilangan, bangunan utama berupa menara telah ditutup sejak pertengahan 2016. Alasan lebih tepatnya belum diketahui sampai saat ini. Banyak spekulasi bermunculan mengenai hal ini.

Dari pengamatan penulis yang dilakukan selama th 2014-2016, terlihat sekali bangunan mercusuar ini sangat berguna untuk menerangi jalan kapal yang lewat dipantai sembilangan atau yang bersandar dipantainya. Kalau di tarik garis lurus ke selatan, maka pantai ini berhadapan dengan pantai Bungah gresik, berdasarkan keterangan warga setempat dulu sering ada kapal nelayan yang mengirim barang dari gresik ke bangkalan. Namun lebih sering kapal pedagang mendaratnya tidak tepat di sana.

Mercusuar ini lebih sering digunakan sebagai penerangan kapal-kapal yang melewati selat madura baik dari wilayah dalam negeri maupun luar negeri. Di sektar daerah tersebut sekarang juga ada tempat bengkel perbaikan kapal milik PT Pal Surabaya, dan beberapa ekspedisi kapal yang berkaitan dengan pelabuhan di Surabaya ataupun antar daerah. Sampai penutupannya pun, pesonanya tidak hilang sbagai mercusuar.

Jalur transportasi dari Suramadu untuk mencapai mercusuar tidak sulit dan semua sudah beraspal, karena hampir sama dengan jalan menuju Makan Syaichona Kholil yang terkenal itu, Namun untuk menuju mercusuar dari makam Syaichona Kholil ini yang tidak aman, karena jalamnya sepi dan kanan kiri ke hanya ladang dan rawa, jarak antar desa juga jauh. Ini termasuk kendala bagi mercusuar kalau dijadikan sebagai lokasi wisata pengetahuan dan sejarah.

Jadi apa yang menjadi masalah mercusuar ini ditutup, salah satu petugas mecusuar menjelaskan tangga di dalam mercusuar tangga banyak yang keropos dan rusak, itu akan membahayakan bagi para pengunjung. Selain itu pengunjung dari lembaga pendidikan juga semakin sedikit dan sering yang datang hanya pengunjung muda-mudi dan berkesempatan memadu kasih saja.

Jika boleh berandai andai, dengan kondisi kepala daerah yang baru dan sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemajuan masyrakat Bangkalan, maka perlu kiranya pemerintah daerah bangkalan dan TNI AL untuk dapatnya membuka kembali Mercusuar sebagai sarana wisata edukasi dan sejarah. Bisa juga didalamnya di tambah dengan teleskop untuk mengamati bintang. Sedang keamanan wilayah sekitar bisa bekerja sama dengan tokoh masyarat . jika pemimpin daerah bisa merangkul berbagai pihak untuk membenahi fasilitas umum yang bernilai sejarah, akan sangat bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. (*)