Pembelajaran Daring: Tantangan terhadap Pembentukan Karakter Bangsa

Oleh

1.Drs.Priyono,MSi(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

2.Siti Nur Aisah(Mahasiswi F.Geografi UMS smt 3)

Pendidikan pada dasarnya memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mendidik adalah merubah orang yang semula tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti dan sekaligus memberikan dan menanamkan  achlak yang baik, agar berbeda dengan mengajar yang hanya satu sisi, belum menyentuh esensi mendidik. Oleh karena itu seorang pendidik harus memiliki achlak yang baik agar roch pendidikan dapat ditransfer ke anak didik. Kehadiran pendidik didalam kelas akan memberi pengaruh secara psikhologis terhadap achlak anak didik.

Pendidikan menjadi salah satu step terpenting dalam kehidupan manusia dan setiap step harus berkesinambungan dan sistemik. Oleh karena itu pula pemerintah memberikan program wajib belajar selama 12 tahun. Tepatnya dimulai dari bangku Sekolah Dasar – Sekolah Menengah Pertama – Sekolah Menengah Atas. Mengapa demikian? Hal tersebut didasarkan agar generasi muda memiliki dasar dan bekal untuk peningkatan taraf hidup yang lebih baik.

Melalui pendidikan pula pemerintah berupaya mencetak generasi muda yang dapat melanjutkan tombak pembangunan negara. Dimulai dari sekolah dasar dimana siswa diajarkan untuk membaca, menulis, dan berhitung. Setidaknya ke tiga hal tersebut menjadi dasar yang sangat utama bagi setiap generasi bangsa ini.

Dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama, dimana siswa sudah mulai dikenalkan dengan yang namanya organisasi. Di sini siswa yang mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler agar memiliki kemampuan soft skill dan kepemimpinan yang cukup baik. Selain itu mereka sudah mulai belajar yang namanya bekerja dalam tim dan tanggung jawab.

Terakhir ialah pelajar Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan, di jenjang pendidikan ini setidak nya mereka sudah mempunyai bekal untuk dapat terjun di dunia kerja atau ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Perguruan Tinggi. Setidaknya mereka sudah memiliki pemahaman ilmu dan usia yang cukup untuk dapat bersaing di dunia kerja

Namun, untuk menunjang program wajib belajar 12 tahun itu pula harus diimbangi dengan peningkatan kualitas manajemen pendidikan yang ada di Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan perlu digalakkan agar terbentuk lulusan yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Sejatinya jenjang pendidikan tidak hanya untuk memperoleh ilmu saja, terlepas dari itu semua pendidikan merupakan zona transfer ilmu dan pembentuk karakter penerus bangsa. Dimana guru membimbing dan mengarahkan peserta didik selama berada di bangku sekolah.

Namun, kini ada persoalan baru yaitu terkait pembentukan karakter. Akibat pandemi covid-19 yang tak kunjung usai, dengan sangat terpaksa dilakukannya sistem pendidikan menjadi BJJ (Belajar Jarak Jauh). Memang belajar tidak harus melulu berada di dalam kelas, akan tetapi yang menjadi sorotan utamanya bukan proses transfer ilmu melainkan pada pembentukan karakter anak bangsa.

Perubahan pembelajaran menjadi sistem online dirasa sangat tidak efektif, bahkan banyak pelajar yang terkesan menyepelekan guru atau dosen yang tengah mengajar, lebih lebih bila rasio dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran online melebihi kapasitas pemeblejaran misalnya 1:40 lebih sehingga dosen bisa gagal menguasai klas. Pembelajaran jarak jauh memang dapat dilakukan dengan media online seperti whats app grup, zoom meeting, google meet, dll. Namun dalam pembentukan karakter siswa atau mahasiswa perlu diperhatikan. Interaksi dalam kelas harus dihidupkan.

Akan tetapi banyak diantaranya yang hanya melakukan presensi dan kemudian mengabaikan materi pembelajaran, bahkan beberapa diantaranya tidur atau melakukan aktivitas yang lain sehingga makna pembelajaran jadi lost/ hilang. Bukankah perilaku tersebut menunjukkan kegagalan pola didik pelajar yang ada di Indonesia?. Perilaku tersebut pula yang akan membentuk anak didik memiliki jiwa-jiwa koruptor. Mereka menipu dan acuh bahkan terhadap guru sendiri.

Nampak permasalahan tersebut tidak dapat dibiarkan terus menerus. Namun apabila sekolah masuk atau pembelajaran dilakukan secara offline hal tersebut juga belum memungkinkan. Perlu dilakukan evaluasi dan kajian ulang setiap bulan bahkan minggu guna perbaikan pola pembelajaran daring yang dilakukan selama pademi covid-19 seperti sekarang ini.

Pihak civitas akademika dapat mengajukan kuisioner dengan responden pelajar atau mahasiswa itu sendiri. Sehingga kedua belah pihak dapat mengetahui permasalahan apa dan bagian mana yang perlu dilakukan pembenahan pola pembelajaran secara daring.

Peningkatan sarana dan prasarana juga harus terus di upayakan meski pembelajaran dilakukan secara online, seperti susbsidi kuota atau potongan biaya pendidikan. Karena di masa pandemi seperti ini setiap lini kehidupan terhimpit oleh keadaan bahkan tidak sedikit pula yang kehilangan pekerjaan. Beberapa perguruan tinggi kecil telah menerima dampaknya significant  terhadap pemasukan keuangan sehingga mengalami kesulitan memberi gaji pada dosen dan karyawannya. Bila hal ini berlangsung beberapa bulan kedepan, tidak tertutup kemungkinan perguruan tinggi tersebut bisa mengalami kesulitan keuangan dan bisa kolep. Agak berbeda dengan perguruan tinggi sedang dan besar karena orang tuanya mahasiswa berasal dari kalangan menengah ke atas, sangat mungkin tidak banyak terpengaruh pandemi. Tentu sangat terkait antara keuangan dengan kualitas pembelajaran termasuk pembentukan karakter bangsa. Pandemi telah memberi pelajaran yang berharga bagi manusia yang beriman. (*)