Pemimpin Masa Depan & Netralitas KPU dan Bawaslu

Oleh Muhammad Awod Faraz Bajri

(Dosen Sosiologi Agama STAI Al Muhajirin Purwakarta)

Pemimpin masa depan indonesia ditentukkan sejauhmana pemimpin itu memiliki integritas, kredibilitas dan kapasitas yang mumpuni untuk menyelesaikan problematika bangsa indonesia dan membawa bangsa indonesia menjadi bangsa yang kuat dan maju.

Negara indonesia adalah negara besar yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah. Indonesia ini begitu banyak serpihan-serpihan surga yang mesti dikelola dengan sangat baik untuk kemakmuran bangsa indonesia.

Pemimpin yang tidak hanya mengelola sumberdaya alam tetapi pemimpin yang memiliki agenda ke depan dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya. Sumberdaya manusia yang akan menopang kemajuan bangsa indonesia. Pemimpin yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual, tiga hal itulah yang akan membawa bangsa indonesia bisa bersaing dengan negara-negara maju di dunia.

Pengelolaan sumberdayaa alam yang tidak maksimal akan membuat bangsa ini tidak akan maju untuk bersaing. Saya memiliki keyakinan para calon pemimpin memiliki tekad yang kuat, tetapi tekad yang kuat harus diaktualisasikan dalam bentuk yang kongkrit serta masyarakat mendapatkan kepastian dari pemimpinnya.

Pemimpin ke depan harus berwawasan luas dan memiliki karakter yang kuat. Eksistensi sebuah negara akan dikendalikan oleh Nahkoda yang besar karena membawa penumpang jutaan Rakyat Indonesia.

Pemimpin yang bersih tidak memiliki sikap firaunisme, akuisme dan vested Interest. Akhlak seorang pemimpin telah digariskan bahwa jabatan dan kepemimpinan adalah amanah bukan hak. Seorang Pemimpin tidak boleh sewenang-wenang mengunakan amanah untuk kepentingan pribadi, Golongan, apalagi menyalahgunakan kekuasaan.

Sebagai pengemban amanah rakyat, pemimpin tidak boleh mengambil keputusan secara pribadi menurut ukuran dirinya sendiri. Pemimpin yang berkarakter dan amanah akan menjadi mata air yang terus mampu memompa spirit pencerahan dan komitmen bagi seluruh warga. Ruh seperti itu sangat dibutuhkan oleh negara dan bangsa kita manakala pemimpin berada dalam gejolak dan ketidakpastiaan

KPU dan Bawaslu, sebagai Instrumen yang penting dalam penyelenggaraan Pesta demokrasi harus benar-benar bekerja secara proporsional sesuai dengan ketentuan undang undang pemilu, supaya menghasilkan kualitas demokrasi yang baik dan menghasilkan Pemimpin yang kuat sesuai dengan harapan Rakyat Indonesia.

Media sebagai Pilar demokrasi yang terakhir harus bekerja sesuai undang-undang dan etika Jurnalistik sehingga bisa memberikan informasi yang mencerdaskan Publik. Perebutan kekuasaan harus tetap mengedepankan Politik gagasan dan menghadirkan pendidikan Politik yang mencerdaskan bangsa Indonesia.

Perbedaan pandangan Politik sudah biasa dalam alam demokrasi. Persahabatan antar anak bangsa harus tetap terpelihara dengan baik karena hakikatnya kita bersaudara dalam bingkai kebhinekaan dan Pancasila.

Kita adalah Indonesia dan Indonesia adalah kita. Tidak etis ketika ada sekelompok orang mengklaim paling pancasilais, karena seluruh anak bangsa berhak menjaga kedaulatan bangsa Indonesia dari berbagai macam ancaman terhadap eksistensi negara indonesia.(*)