Pendidikan Karakter dan Ironi (Guru) Madrasah

Oleh : Eman Suherman

Warga Subang Tinggal di Pantura

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama teknologi informasi) disadari atau tidak memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pola hidup masyarakat saat ini. Gaya hidup konsumtif sebagai akibat dari serbuan konten media yang semakin hari kian tak terbendung seakan menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang tak lama lagi akan menerima bonus demografi ini. Besarnya angkatan kerja produktif itu pun dikhawatirkan akan menimbulkan lebih banyak dampak negatif bagi upaya pembangunan bangsa ini daripada memberikan keuntungan secara ekonomi. Munculnya masalah – masalah sosial di masyarakat saat ini tentunya akan menjadi bom waktu yang bisa meledak setiap saat apabila tidak segera dilakukan langkah – langkah preventif yang dilakukan secara sistematis.

Maraknya penyalahgunaan narkoba serta pergaulan bebas di kalangan remaja merupakan persoalan yang saat ini dihadapi oleh bangsa Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia dibandingkan dengan negara – Negara lainnya di ASEAN. Dalam survey – survey yang dilakukan oleh lembaga – lembaga pemeringkatan pendidikan internasional, Indonesia tak jarang menempati juru kunci ataupun “pangais bungsu” dalam hal mutu pendidikan. Kurangnya motivasi belajar serta minimnya budaya literasi di kalangan pelajar menjadi penyebab utama tertinggalnya daya saing Indonesia di kancah regional maupun internasional.

Di sisi lain kehadiran madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan (formal) yang berperan penting dalam melahirkan generasi unggul dan berakhlak mulia belum begitu mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Banyaknya guru madrasah yang berpenghasilan sangat rendah menunjukkan, pemerintah pusat maupun daerah belum memiliki political will yang kuat untuk memajukan lembaga pendidikan yang sangat besar jasanya dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah tersebut. Padahal, madrasah maupun pesantren memiliki andil yang sangat besar dalam meraih kedaulatan bangsa di masa lalu maupun membentuk karakter generasi muda saat ini. Hal ini dikarenakan madrasah bukan hanya sekedar tempat untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para santrinya. Lebih dari itu, nilai – nilai kebaikan berbasis ajaran Islam yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari – hari para santrinya menjadi ciri khas yang membedakan madrasah dengan lembaga – lembaga pendidikan pada umumnya.

Selain masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru madrasah, terbatasnya sarana pembelajaran juga menjadi persoalan yang sering kali dihadapi oleh para pengelola madarasah. Selain banyaknya ruang kelas yang memerlukan perbaikan karena terkena banjir ataupun karena faktor usia, minimnya akses informasi seperti internet pun menajdi kendala yang dihadapi oleh lembaga. Adapun perangkat pembelajaran berbasis multimedia masih menjadi barang langka di sebagian (besar) madarasah di tanah air. Keterbatasan sarana tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap kualitas proses pembelajaran yang diselenggarakan.

Agar pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah benar – benar dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan, meningkatkan kesejahteraan para guru madarasah merupakan hal yang pertama – tama harus dilakukan. Untuk itu payung hukum terkait hal tersebut perlu dikeluarkan oleh pemerintah pusat dan disinergikan dengan aturan – aturan di tingkat daerah. Selain itu dikotomi antara lembaga pendidikan berbasis keagamaan dan non keagamaan sudah saatnya dihilangkan. Tak sampai disitu, pemerintah pusat dan daerah juga dituntut untuk memperhatikan sarana pendukung pembelajaran yang ada di madrasah demi terselenggaranya kegiatan pembelajaran yang berkualitas. Adapun orangtua dapat mengambil peran lebih untuk membantu pemerintah dalam menyukseskan program – programnya mengingat keberhasilan proses pendidikan sangat ditentukan oleh sinergi antara tiga pihak, yaitu pemerintah (pusat dan daerah), sekolah / madrasah serta para orangtua. (*)