Pendidikan Karakter Selama Belajar dari Rumah, Sulitkah?

Oleh : Yulia Enshanty, S.Pd (Guru Geografi SMAN 1 Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat)

2.Drs.Priyono,MSi(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak bulan maret 2020 hingga saat ini, membuat banyak sektor kehidupan mengalami pembatasan, termasuk dalam sektor pendidikan, pandemi membuat  proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) tidak dapat dilaksanakan sebagaimana biasanya.  Mengantisipasi penyebaran virus corona di lingkungan sekolah dan demi tetap berjalannya kegiatan belajar,  kegiatan belajar dilakukan dengan belajar dari rumah (BDR). Segala aktivitas pembelajaran dilakukan secara online (daring) tanpa proses tatap muka antara guru dan siswa secara langsung di sekolah. Tatap muka hanya dapat dilakukan secara virtual melalui media digital.

Dalam BDR,  secara akademis kegiatan pembelajaran masih dapat dilakukan melalui media digital. Banyak media yang dapat dipilih guru untuk keberlangsungan pembelajaran selama BDR. Pemberian materi, penugasan dan penilaian dapat dilakukan dengan berbasis online. Namun ada hal yang menjadi sedikit terabaikan di saat BDR, yaitu pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan penting dari Pendidikan Nasional Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Undang-undang tersebut jelas mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu mencetak generasi yang bermoral dan berkarakter sesuai dengan nilai, norma dan ajaran agama (cerdas spiritual dan emosional).

Sejalan dengan tujuan dari pendidikan nasional, tujuan utama pendidikan karakter adalah untuk membangun generasi bangsa yang tangguh, di mana masyarakatnya berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, dan bergotong-royong. Karakter adalah fondasi yang dapat  lebih menunjang tingkat kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Kecerdasan dan kemampuan dalam berbagai bidang apabila  tidak diiringi karakter yang baik adalah percuma. Ia tidak akan mampu bekerja sama ataupun  berempati kepada rekannya. Selain itu, penggunaan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh karakter yang tidak baik akan menghasilkan hal yang tidak sejalan dengan norma-norma kehidupan. Maraknya kasus korupsi, pencurian, penipuan, rendahnya etos kerja adalah contoh dari minimnya pendidikan karakter.

Dewasa ini, persoalan moralitas akibat krisis karakter marak terjadi di kalangan pelajar. Tawuran antar pelajar, bullying, pergaulan bebas,  kekerasan terhadap guru dan orang tua, pornografi, penyalahgunaan narkoba  dan sebagainya adalah deretan contoh permasalahan yang muncul karena lemahnya pendidikan karakter. Mencermati fenomena yang ada, pelaksanaan pendidikan karakter bagi peserta didik sejatinya harus tetap menjadi prioritas.

Sekolah adalah institusi pendidikan yang bertanggung jawab menngembangkan pengetahuan, keterampilan serta karakter peserta didik. Orang tua menaruh harapan dan kepercayaan kepada sekolah sebagai pusat pendidikan bagi anak-anaknya, baik itu dalam hal akademik maupun pembentukan karakternya. Meski seharusnya pendidikan karakter ini bukan sepenuhnya murni tanggung jawab sekolah, tetapi peran orang tua juga sangat penting dalam pengembangan karakter anak. Namun, karena selama ini sebagian besar waktu anak lebih banyak di sekolah, maka  proses pembentukan nilai-nilai karakter siswa berjalan seiring dengan proses pembelajaran di sekolah.

Sejak terjadi pandemi  dan sekolah-sekolah ditutup, keberlangsungan pendidikan karakter peserta didik belum terlaksana sesuai harapan. Selama masa pandemi, pembelajaran dilakukan dengan berbasis online. Pembelajaran berbasis online ini membuat siswa  secara tidak langsung kehilangan role model dan sosok yang menjadi panutan. Salah satu kunci pendidikan karakter adalah adanya role model individu berkarakter. Di sekolah, yang menjadi role model bagi siswa dalam menumbuhkan nilai-nilai karakter adalah sosok guru. Guru yang berkarakter akan mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai ajaran agama dalam kesehariannya sehingga dapat ditiru oleh peserta didik. Pada prinsipnya seorang anak adalah peniru. Siswa akan mudah mengembangkan karakternya dengan meniru atau menyaksikan perilaku gurunya. Namun selama masa pandemi, hal ini tentu tidak dapat terjadi, dimana siswa secara penuh melakukan kegiatan BDR. Pada masa pandemi ini, guru tidak bisa memantau perkembangan perilaku siswa, guru tidak bisa membimbing secara langsung apabila siswa melakukan kesalahan. Padahal, hal tersebut merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter di sekolah.

Selain karena tidak ada sosok guru yang membimbing secara langsung, penggunaan teknologi digital selama kegiatan BDR, tidak menjamin peserta didik aman dari paparan konten-konten negatif di dunia maya. Minimnya pengawasan dari orang tua, selama BDR, tidak sedikit siswa yang orang tuanya tidak ada di rumah disaat mereka belajar, karena harus bekerja. Hal ini tentunya dapat membuat siswa dapat dengan leluasa mengakses hal-hal yang tidak sesuai yang banyak bertebaran di internet. Pada pembelajaran daring seperti ini guru hanya bisa semampunya memantau perilaku siswa, misalnya dari kedisiplinan mengisi daftar hadir online atau keaktifan siswa dalam pembelajaran. Namun hal tersebut rawan untuk dimanipulasi oleh siswa yang tidak mendapat kontrol penuh dari orang tua. sebagai contoh misalnya, saat menggunakan virtual meeting, ada saja siswa yang hanya sekedar absen, kemudian mematikan video selama pembelajaran berlangsung, bahkan meninggalkan room dan tidak mengikuti pembelajaran. Penggunaan teknologi digital ini juga tidak jarang membuat siswa berbohong  kepada orang tuanya, dengan dalih belajar online, justru banyak yang malah memanfaatkan internet untuk membuka hal-hal berbau pornografi , ataupun bermain game online. Hal ini tentunya sudah merupakan contoh buruk nilai moral dan mengindikasikan kemerosotan nilai karakter.

Mengingat betapa pentingnya pendidikan karakter ini maka seyogyanya pendidikan karakter harus dapat selalu dilaksanakan meski dengan segala tantangan yang ada di masa pandemi ini. Mengutip salah satu ungkapan yang terkenal dari bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “ Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah.” Selama masa pandemi, dimana siswa belajar dari rumah, guru tentu tidak dapat melakukan bimbingan sebagaimana mestinya. Di masa ini, maka orang tua adalah guru bagi anak-anaknya. Meski sebagian orang tua mengakui mereka tidak dapat sepenuhnya melakukan pendidikan karakter terhadap anaknya tanpa bantuan guru. Tanpa adanya peran serta guru maka orang tua  tidak dapat secara maksimal membentuk dan membangun karakter anak-anak mereka. Oleh karena itu, maka perlu ada komunikasi dan kolaborasi antara orang tua dan guru dalam penanaman dan pembinaan pendidikan karakter pada anak didik.