Pendidikan Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19 di Bumi Serambi Mekkah

Oleh: Haitami, S.Pd

(Guru Geografi SMA Negeri 3 Putra Bangsa Lhoksukon, Aceh Utara)

Covid-19 belum mereda. Seorang milyarder dunia, ketua unit Santander Bank bagian Portugal, meninggal dunia karena Virus Corona pada 18 Maret 2020. Update kasus positif virus corona di dunia per 26 April 2020 mencapai 2.921.201 orang. Di Indonesia ditemukan 8.607 kasus positif corona, 720 pasien meninggal dunia, jumlah pasien sembuh 1.042 dan sisanya 6.845 orang dirawat di berbagai rumah sakit, demikian ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu 26 April 2020.

Melirik angka kasus covid-19 di atas, pencegahan merebaknya Covid-19 harus dilakukan oleh negara-negara terdampak di dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia, untuk beberapa kabupaten dan kota Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan WFH diperpanjang masa pelaksanaannya yang awalnya 13 Mei menjadi 22 Mei 2020, artinya selama Bulan Ramadhan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang untuk bertatap muka harus dibatasi. Penerapan physical distancing dirasakan sebagai langkah yang tepat untuk dilaksanakan oleh semua orang. “Jaga jarak ini bukan hanya berlaku ditempat umum (social distancing), tapi juga berlaku di seluruh rumah tangga di setiap keluarga” Ujar kepala BNPB Doni Monardo seperti dilansir tirto.id 26 Maret 2020.

Menyikapi physical distancing,Gubernur Aceh mengeluarkan SK Nomor 360/969/2020 dengan memberlakukan jam malam dari pukul 20.30 wib sampai dengan 05.30 wib yang pelaksanaannya sejak 29 Maret sampai dengan 29 Mei 2020. Di sektor pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan Aceh mengeluarkan Surat Edaran nomor421/B/3302/2020 tertanggal 30 Maret 2020 tentang Pembelajaran Jarak Jauh/daring/Belajar Dari Rumah (BDR) yang bermakna dan menyenagkan, yang semula sampai tanggal 29 Maret 2020 diperpanjang sampai tanggal 30 Mei 2020.

Menelusuri SK Gubernur Aceh dan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Aceh, pelaksanaan Pendidikan Ramadhan hanya dapat dilakukan dengan sistem BDR sebagaimana dilansir oleh acehsiana.com tanggal 21 April 2020 “Rachmad Fitri Instruksikan Pendidikan Keagamaan Diniyah di Bulan Ramadhan tetap dilaksanakan. Jadi di Bulan Ramadhan ini, khususnya di sektor pendidikan formal, pelaksanaan konsep pendidikan Ramadhan adalah suatu keharusan. Salah satu konsep yang dimaksud adalah Pendidikan Keagamaan Diniyah. Pendidikan Keagamaan Diniyah tahun ini, selanjutnya disebut Pendidikan Ramadhan di tengah Pandemi Covid-19. Pendidikan Ramadhan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya akan tetap dilaksanakan di Bumi Serambi Mekah walaupun dimensinya berbeda, yakni pembelajaran daring atau BDR. Pendidikan Ramadhan tahun ini merupakan konsep pendidikan Ramadhan yang spesial, sebab berada ditengah pandemi Covid-19.

Dalam catatan penulis, sejak tahun 2012 setiap Bulan Ramadhan pendidikan keagamaan diniyah sudah diterapkan di semua jenjang pendidikan di Aceh kecuali peserta didik kelas satu, dua dan tiga SD dimana peserta didik disajikan materi selama 2 pekan (15 hari) yang dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama materi mata pelajaran sesuai dengan jenjang pendidikan dan sesi kedua materi keagamaan. Muatan materi keagamaan mencakup tiga bidang ilmu yaitu Fiqih, Tauhid, Tasauf. Ketiga bidang ilmu ini lebih poluler dikenal dikalangan masyarakat di Serambi Mekkah dengan sebutan Tastafi (Tasauf, Tauhid, Fiqih). Materi di sesi pertama diisi oleh guru mata pelajaran masing-masing, sedangkan untuk sesi kedua diisi oleh Guru PAI dan Guru Dayah Salafi.

Pelaksnanaan pendidikan Ramadhan tahun ini tetap dilaksanankan sesuai dengan arahan dan panduan Kepala Dinas Pendidikan Aceh nomor 423.7/B/3912/2020 tanggal 23 April 2020. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs.Rachmat Fitri HD, MPA menyampaikan bahwa pendidikan ramadhan tahun ini lebih diprioritaskan pada muatan lokal sebagai materi utama dalam ruang lingkup keagamaan (Fiqih, Aqidah, Akhlak, Qur’an, Hadits, SKI, dan/atau Bahasa Arab). Materi ruang lingkup keagamaan di atas adalah bagian dari tastafi dimana ada Ilmu Tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai ke-Tuhanan, ke-Rasulan, hari akhirat, Qadha dan Qadar, kemudian Ilmu Fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat dhahiriyah, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji dan Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang berkaitan dengan akhlak dan budi pekerti, berkaitan dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha. Ketiga ilmu ini kita ibaratkan seperti tanah, tanaman dan pagar.

Mengutip perkataan Imam Malik yang menyebutkan Barang siapa yang mempelajari tasawuf tanpa mempelajari fikih maka ia zindik. Barang siapa yang mempelajari fikih tanpa mempelajari tasawuf maka ia fasik. Dan barang siapa yang mempelajari kedua-duanya maka ia telah menguatkan agamanya. Syaikh Muhammad Fathurahman ra. menjelaskan tentang ungkapan di atas, mengapa hanya disebutkan ilmu Fiqih dan Tasawuf dan tidak disebutkan ilmu Tauhid? Ilmu Tauhid dan Tasawuf tidak bisa dipisahkan, seperti isi dan tempatnya. Dalam agama ada dua wilayah, yakni lahir dan batin. Ilmu fikih merupakan ranah keilmuan fisik, sedangkan kesatuan Tauhid dan Tasawuf berada di ranah keilmuan batin. Sementara Tauhid wilayahnya hanya pada rukun agama yang enam, sedangkan Tasawuf yang memiliki obyek kajian hati akan berkembang ketika hati merasakan Ilahiyyah. Muncullah berbagai nuansa hati yang beraneka ragam, seperti khusyu’, mahabbah, tawakal dan qana’ah.Apabila Aqidah berada pada ruang lingkup iman (percaya), maka Tasawuf-lah yang merasakannya. Oleh karenanya, berbicara tasawuf yang haq sudah termasuk wilayah Aqidah.

Ketika ilmu tasawuf telah terpatri dalam sanubari peserta didik, maka tugas-tugas belajar dengan metode BDR yang kita harapkan dikerjakan dengan penuh kejujuran dan keikhlasan akan dapat terwujud. Kita tanamkan sikap kejujuran sebagai bagian dari tasawuf menjadi sumber kekuatan dan pangkal semua perbuatan manusia serta bukti keimanan seorang muslim selain taqwa kepada Allah. Rasulullah SAW saja tidak mengakui manusia pembohong sebagai ummatnya. Rasulullah bersabda: “Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga” (HR Ahmad, Muslim, at-Turmuzi, Ibnu Hibban). Ini sikap utama yang harus ditanamkan kepada peserta didik, agar dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran BDR harus ditekankan bahwa kejujuran sebagai pembawa keselamatan. Di sinilah urgensinya kejujuran bagi kehidupan. Rasulullah pernah bersabda: “Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan” (HR Abu Dunya). Ada tiga tingkatan kejujuran: Pertama, kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas. (Qs : ash-Shaff 61: 2 dan al-Ahzab 33: 70). Kedua, kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Ketiga, kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tingkat tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah SWT. Kalau kejujuran telah terpatri dalam setiap gerak gerik siswa, maka Aplikasi PBM daring apapun yang dipakai guru tidak menjadi kendala. Modal utamanya adalah kejujuran dan keikhlasan dalam belajar, sehingga peserta didik tidak merasa terbebani dengan model pembelajaran BDR yang saat ini telah berlangsung.

Covid-19 dalam perspektif Islam

Pelaksanaan Pendidikan Ramadhan di tengah Pandemi Covid-19 di Bumi Serambi Mekkah adalah suatu keniscayaan, mengingat generasi muda Islam yang saat ini seharusnya sedang duduk bersama teman-teman dan gurunya dalam memperdalam dan mengkaji ilmu pengetahuan keagamaan, terbendung oleh sebuah bencana yang dalam perpektif Islam dapat dimaknai sebagai sebuah musibah yang bisa menimpa siapa saja, kapan dan dimana saja. Musibah adalah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Sebagaimana Allah tegaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 155, yang artinya :” Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Ayat di atas menunjukkan kepada setiap insan, musibah atau bencana adalah hal niscaya yang harus dihadapi. Bencana apapun sesungguhnya mesti dimaknai sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hambanya.Berbagai peristiwa yang menimpa manusia pada hakikatnya merupakan ujian dan cobaan atas keimanan dan perilaku yang telah dilakukan oleh manusia itu sendiri. Ketauhidan seorang mukmin akan menuntunkan bahwa berbagai peristiwa yang menimpa manusia bukanlah persoalan, karena manusia hidup pasti akan diuji dengan berbagai persoalan. Musibah itu merupakan takdir Allah, dan takdir di sini dimaknai sebagai suatu ketetapan dan ketentuan Allah. Hanya Allah saja yang mengetahui ketetapan dan ketentuan-Nya. Manusia hanya dapat mengetahuinya ketika ketetapan dan ketentuan tersebut terjadi.

Adapun ketika ketetapan dan ketentuan yang akan terjadi pada manusia, manusia itu tidak mengetahuinya, hanya Allah saja yang Maha Tahu. Dengan demikian, manusia wajib memohon kepada Allah dan berusaha untuk menyikapinya dengan penuh kesabaran dalam rangka merubah keadaan yang dihadapinya menjadi lebih baik. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya surat al-Anfaal ayat 53 yang artinya : “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merobah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Inilah konsep yang yang harus kita fahami dan kita tanamkan kepada peserta didik bahwa, Pandemi Covid-19 dinilai sebagai ujian iman.

Metode Pendidikan Ramadhan yang relevan di tengah pandemi Covid-19

Pertanyaannya sekarang adalah, metode daring apakah yang paling mungkin dilakukan dengan mudah dan berbiaya murah? Pengalaman penulis selama Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) jarak jauh/BDR sejak bulan Maret 2020, aplikasi sosial media yang paling banyak di pakai adalah WhatsApp (WA). Ini adalah aplikasi yang mudah dan berbiaya murah dan bisa dijangkau oleh berbagai kelas di kalangan peserta didik, mengingat hampir semua peserta didik saat ini mempunyai alat komunikasi hand phone berbasis android. Kalaupun ada satu dua peserta didik yang belum mempunyai hand phone android, mereka bisa bekerja sama dengan peserta didik lain untuk melengkapi tugas-tugasnya. Mudahnya PBM via WhatsApp mulai dari merekam suara guru, mengirim lampiran bahan ajar, lampiran tugas, kuis dan ulangan harian,bahkan menyerahkan tugas, kuis dan ulangan harian dengan tulisan tangannya masing-masing, di foto lalu di upload.

Selain menggunakan Aplikasi WhatsApp, selama PBM di rumah penulis juga menggunakan aplikasi Schoology, google classroom, zoom dan quizizz. Penggunaan aplikasi Schoology dimungkinkan, karena guru mengupload materi bahan ajar beserta lampiran tugas, kuis, ulangan harian, lalu perta didik mempelajari bahan ajar dan mengerjan tugas dengan mengupload hasil kerja di halaman beranda Schoology. Demikian juga dengan Google Classroom proses kerjanya hampir mirip dengan aplikasi Schoology. Aplikasi schoology dan classroom ini agak sedikit rumit, karena membutuhkan waktu yang khusus dan terbatas, seperti zoom yang menuntut peserta didik stay di depan laptop atau android karena bersifat teleconference, selain juga dibutuhkan koneksi internet yang cepat dengan kuota yang besar. Dan terakhir aplikasi Quizizz biasanya penulis pakai untuk mengerjakan tugas kuis atau ulangan harian karena memudahkan guru dalam proses koreksi lembaran kerja siswa berupa kuis atau ulangan harian.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan beberapa gagasan menyangkut metode palaksanaan pendidikan Ramadhan, yaitu dengan menerapkan sistem BDR dengan menggabungkan beberapa sistem yang ada diantara daring, modul, penugasan, dan kompensasi tugas. Hemat penulis, metode BDR yang paling mungkin dapat kita laksanakan dalam rangaka pendidikan Ramadhan di tengah Covid-19 di Bumi Serambi Mekkah adalah dengan menggabungkan metode daring dan semi daring melalui media sederhana di android yaitu aplikasi WhatsApp. Guru menyampaikan Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) yang ingin dicapai kepada peserta didik. Guru menyampaikan lampiran materi baik dokumen tertulis, audio maupun video berkenaan dengan materi pelajarankeagamaan yang telah penulis utarakan di atas. Penugasan dapat berupa tugas tertulis dan rekaman suara/video. Peserta didik diberikan penugasan tertulis dengan tenggang waktu dan harus dikumpulkan tepat pada waktunya dengan ditanda tangani/sepengetahuan orang tuanya. Rekaman audio/video pendek tentang penerapan dari tagihan IPK dapat langsung diupload di aplikasi WhatsApp. Guru melakukan rekapitulasi terhadap tugas/tagihan dari peserta didik setelah dinilai dapat dikembalikan ke peserta didik kembali. (*)