Penguatan Budaya Gotong Royong (Kolaborasi) melalui Professional Learning Community untuk Mewujudkan Sekolah Bermutu yang Berkebudayaan

Lia Yulindaria, M.Pd

SD Plus 2 Al Muhajirin Purwakarta

Seperti yang kita ketahui bersama, kebudayaan di Indonesia amatlah beragam dan tidak sedikit konflik terjadi di Indonesia disebabkan perbedaan budaya. Peran budaya dalam membangun bangsa sangat mendasar karena menyangkut nilai-nilai kehidupan yang melandasi sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Peran budaya dalam membangun dan memajukan bangsa adalah membentuk karakter dan moral bangsa. Beberapa fungsi kebudayaan bagi masyarakat diantaranya adalah sebagai identitas dan citra suatu masyarakat, sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan, dan sebagai pengikat suatu masyarakat. Tidak dapat kita pungkiri pada akhirnya bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam membangun, melestarikan, dan memajukan kebudayaan. Pendidikan harus mendukung kesadaran keberagaman kebudayaan dikarenakan kebudayaan bangsa Indonesia memiliki keberagaman terbesar di dunia. Penguatan kebudayaan dari sisi pendidikan akan memungkinkan pendidik mengetahui arah tindakan yang diperlukan untuk mengubah sekolah menjadi lingkungan pendidikan yang sesuai dengan keragaman etnis dan budaya.

Budaya atau kebudayaan sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) yang memiliki arti sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Pengertian kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat, serta setiap kecakapan dan kebiasaan  (UURI No: 5/2017).1)   Budaya menunjukkan bangsa. Budaya tidak boleh dikesampingkan karena budaya yang baik adalah indikator hebatnya sebuah negara. Kebudayaan menjadi nafas kehidupan bangsa. Kebudayaan berfungsi untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Tanpa pembangunan kebudayaan, sebuah bangsa akan kehilangan spirit dan ruh kehidupan masyarakatnya. Salah satu kebudayaan utama di Indonesia adalah budaya gotong royong. Gotong royong dalam pendidikan dikenal dengan istilah kolaborasi. Kolaborasi dapat dilakukan baik dalam komunitas siswa maupun guru. Karena guru adalah role model, maka penerapan konsep kolaborasi dalam komunitas guru menjadi hal utama.

Dunia pendidikan saat ini menjadi semakin penting dimana menuntut peserta didik memiliki pola pikir inovatif, terampil dalam penggunaan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills).  Tuntutan tersebut terimplementasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui pengembangan kurikulum baru untuk Sekolah Dasar (SD); Sekolah Menengah Pertama (SMP); Sekolah Menengah Atas (SMA); dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan mengadaptasi konsep pendidikan abad 21. Ketiga konsep tersebut yakni 21st century skills, scientific approach, dan authentic assesment. Adapun tiga subjek inti dalam pendidikan abad 21 meliputi Life and Career Skills, Learning and Innovations Skills, dan Information, Media and Technology Skills (BSNP, 44:2013).2)  Kolaborasi adalah salah satu kompetensi life and carreer skill di abad 21 yang harus dikuasai.

Inovasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan abad 21 akan terwujud jika terjadi pergeseran pola pikir dan pola tindak dalam berbagai konteks penyelenggaraan proses pendidikan dan pengajaran.3) Berbagai pergeseran paradigma perlu dilakukan oleh segenap pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan yang tengah memasuki dunia modern. Guru selaku pemangku kepentingan perlu memiliki persiapan yang matang. Persiapan dilakukan untuk mengajarkan siswa agar mampu bergelut dengan teknologi dan komunikasi. Namun, persiapan guru untuk membentuk keterampilan anak bukanlah hal yang mudah.  Pengalaman, kapasitas, dan pola pikir guru yang telah ada sulit diubah dan diperbarui dalam waktu singkat. Perlu kearifan dan pemahaman besar serta kerja keras guru untuk menyikapinya.

Tantangan terbesar dan utama adalah meningkatkan profesionalisme guru. Guru menjadi prioritas karena merupakan garda terdepan pengajaran. Melalui pemberdayaan guru yang ada dan di tangan guru-guru yang handal, sekolah akan dapat menghadapi kondisi apapun dengan mudah dan cemerlang.

Seorang guru seyogyanya menyusun strategi pembelajaran sebelum mengajar sehingga pembelajaran dapat terukur dan terlaksana dengan baik. Namun, minimnya pengalaman berdampak pada kurang terampilnya guru dalam menyusun strategi. Selain itu guru memiliki beban administrasi yang terlalu banyak sehingga mereka tidak mampu lagi menyisihkan waktu untuk saling berdiskusi, serta banyaknya guru yang tidak suka untuk diobservasi oleh guru lain pada saat mereka mengajar di kelas. Guru-guru yang masih sangat muda (fresh graduate) berasal dari latar belakang pendidikan dan keluarga yang berbeda, biasanya minim pengalaman, penuh emosi, dan ingin serba cepat. Kelebihanya mereka biasanya adalah penuh semangat, open minded, dan senang pada perubahan. Masalah yang seringkali dialami guru baru adalah sedikit bingung ketika menghadapi kelas pertamanya yaitu tidak memiliki strategi pengajaran yang tepat.4) Sementara itu, guru lama memiliki hambatan waktu dan situasi untuk membimbing guru baru. Semua ini dapat menyebabkan guru kurang dapat menyampaikan materi dengan optimal serta hubungan antarguru menjadi renggang. Karenanya diperlukan kerjasama yang baik antarguru. Langkah penting untuk membentuk kerjasama antarguru yakni dengan melakukan planning (perencanaan), teaching (mengajar), co-thinking (berpikir bersama), dan assessment (penilaian) sesama guru.5)  Pada umumnya guru sangat kesulitan dalam melakukan planning, teaching, co-thinking dan assessment tersebut. Penyusunan strategi memerlukan kolaborasi antarguru (teacher collaboration) yang baik agar mampu menemukan gagasan baru guna meningkatkan kemampuan diri. Teacher collaboration adalah kerjasama yang dilakukan oleh guru untuk mencapai suatu tujuan tertentu, khususnya dalam hal pengajaran.

Saat ini pelatihan guru cenderung memposisikan guru untuk melihat dan mendengar saja.7)  Kondisi ini sangat tidak menguntungkan sehingga metode tersebut perlu diubah menjadi metode belajar mandiri. Metode ini bertujuan agar guru-guru dapat menjadi guru-guru pembelajar mandiri yang tidak menggantungkan pelatihan kepada yayasan atau pemerintah. Beberapa metode pelatihan guru konvensional yang biasa dilakukan sebaiknya diubah menjadi metode komunitas pembelajar profesional atau “Professional Learning Community.”

Langkah-langkah yang diterapkan dalam membentuk Professional Learning Community adalah :

  1. Pada awalnya setiap guru dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai level kelas (satu level kelas terdiri dari beberapa kelas).
  2. Kepala sekolah menunjuk satu orang guru sebagai koordinator kelas yang dianggap bisa membawahi, membimbing, dan dapat menjadi teladan teman-teman lain di levelnya .
  3. Komunitas menentukan waktu pertemuan dan agenda pertemuan untuk satu semester atau satu tahun ke depan sesuai kebutuhan guru.
  4. Komunitas per level (guru kelas) ini akan bertemu dengan komunitas guru lain yang lebih besar dalam forum komunitas guru sekolah setiap bulannya.
  5. Dalam pertemuan, masing-masing guru dapat saling mengobservasi pembelajaran rekan sejawatnya dan saling berbagi temuan saat observasi. Hal ini memungkinkan suasana kompetisi diubah menjadi kolaborasi.
  6. Setiap guru harus berbagi gagasan, pengalaman dan kiat terbaik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
  7. Kepala sekolah dan atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum melakukan pemantauan rutin di setiap pertemuan. Komunitas pun dapat meminta kepala sekolah atau wakasek kurikulum untuk mengisi materi di pertemuan tersebut.
  8. Dalam kurun waktu tertentu, bagi kelompok yang setiap anggotanya berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran akan mendapat penghargaan dari sekolah.

Melalui penerapan salah satu konsep pendidikan abad 21, yakni gotong royong  (kolaborasi) dalam Professional Learning Community ini, diharapkan guru dapat menyadari dan memahami pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.  Beberapa manfaat Professional Learning Community yang dapat diperoleh antara lain :

  1. Menumbuhkan karakter pembelajar pada diri guru.

Sistem komunitas yang bottom-up akan memunculkan karakter pembelajar terus menerus pada diri guru, karena mereka dengan sendirinya akan menyadari bahwasanya belajar adalah hal yang penting dan wajib dilakukan oleh seorang guru dari waktu ke waktu.

  1. Menciptakan komunitas belajar produktif di antara sesama rekan guru di level sekolah.

Menjadi produktif karena guru akan terus mentransfer ilmunya dari satu guru ke rekan guru lainnya. Pelatihan guru hanya jadi stimulan awal. Secara mandiri guru terus memberi masukan, gagasan, ide, dan pengalaman-pengalaman yang pernah dilakukan kepada sesama rekannya. Guru-guru dapat saling mengobservasi pembelajaran satu sama lain, berdiskusi, dan merefleksikan pengalaman mengajar mereka masing-masing.

  1. Tidak mengganggu proses pembelajaran

Guru tidak harus meninggalkan siswa di sekolah karena pelatihan dapat terselenggara di hari Sabtu atau Minggu. Pelatihan dilakukan rutin setiap sebulan sekali atau bisa setiap seminggu sekali, sepulang sekolah,  disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan guru.

  1. Membangun kolegialitas yang baik di antara sesama guru

Jejaring komunitas belajar yang terbentuk otomatis akan membangun kolegialitas di antara sesama guru. Kolegialitas ini akan semakin berkembang dengan semakin intensnya guru melakukan pertemuan. Penyelenggaraan pertemuan dapat lebih santai dengan selingan ngaliwet atau ngarujak bareng.

  1. Melatih sikap kemandirian belajar guru

Melatih sikap kemandirian belajar guru merupakan hal penting karena hal tersebut merupakan harapan akhir dan terpenting dari semua pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan. Jika keinginan belajar guru datang dari pemerintah (top-down) maka guru hanya sekedar tahu materi pelatihan, setelah berapa lama, lupa dan tidak pernah sempat menerapkannya di ruang kelas. Kini guru diharapkan sebagai subjek pembelajaran, mampu mengaktualisasikan diri, berfokus pada bagaimana cara guru belajar, dan belajar meregulasi diri.

  1. Merubah sistem kompetisi menjadi kolaborasi

Menjadikan guru senang berkompetisi melalui kolaborasi ini akan jauh menyenangkan dan jauh lebih hebat hasilnya dari pada berkompetisi secara individual. Segala sesuatu yang besar, selalu hadir dari sebuah tim. Kebersamaan akan membangun kebesaran keberhasilan, serta kepuasan lebih.  Di akhir bulan bagi guru yang berprestasi dapat disiapkan tunjangan prestasi bulanan, dan di akhir tahun ajaran, kepala sekolah dapat memberikan penghargaan pada komunitas yang memberikan hasil signifikan dan menunjukkan progress yang membanggakan.

  1. Menghemat pengeluaran sekolah untuk pelatihan guru

Dengan  sistem pelatihan mandiri, maka sekolah tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan dana untuk melatih guru-guru ke luar. Jika kita ingin lebih mendapatkan suasana baru dengan dana terbatas, maka dapat diupayakan sistem kerjasama dengan orang tua yang memiliki kapasitas melatih atau bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki program bantuan pelatihan kepada sekolah atau masyarakat.

  1. Mendukung program-program sekolah lainnya

Professional Learning Community ini amat membantu tercapainya program-program yang dicanangkan sekolah seperti :

a. Program Green School.

Program Green School merupakan program unggulan yang dicanangkan sekolah dari awal sekolah dibangun. Disesuaikan dengan tempatnya, baik yang berada pada lahan pertanian hijau maupun lahan sempit, sekolah mengharapkan lingkungan dapat menjadi sumber dan media pembelajaran yang murah meriah dan bermanfaat bagi seluruh warga sekolah. Dengan adanya Professional Learning Community ini guru-guru dapat saling berbagi informasi, motivasi, saling berbagi tugas menanam tanaman yang berhubungan dan dibutuhkan dalam pembelajaran, yang akhirnya mampu saling melengkapi satu sama lain, saling menguatkan, dan saling membantu keberhasilan program.

b. Literasi Sekolah

Literasi Sekolah sudah merupakan pembiasaan dan menjadi budaya yang berkembang di sekolah. Peran Professional Learning Community menjadi penting karena berbagai ide segar, inspirasi, dan lomba menjadi hal biasa dan merupakan daya tarik tersendiri bagi siswa dan guru. Komunitas ini mengadakan pertemuan silang dan terus berbagi informasi satu sama lain.

c. Management Berbasis Sekolah (MBS)

Pengelolaan yang memberi otonomi kepada sekolah dan seluruh komponen di dalamnya untuk bersama sama berperan aktif membangun sekolah sangat terbantu dengan adanya Professional Learning Community ini. Komunitas ini dengan berbagai kinerjanya yang terus menerus, komunikasi yang intensif, membangun kepercayaan penuh masyarakat. Komite, orang tua, dan masyarakat tidak segan untuk memberi kontribusi pada sekolah, baik berupa kesediaan mengajar materi atau pelajaran tertentu, kesediaan untuk bersama merancang, melaksanakan, sekaligus mengevaluasi semua program sekolah, serta kesediaan untuk memberikan sumbangan moril dan materil kepada sekolah.

  1. Secara bertahap meningkatkan mutu sekolah

Komunitas-komunitas kolaborasi kecil ini akan memberikan hasil yang pastinya karena dilakukan secara sistemis dan simultan akan membangun mutu sekolah secara keseluruhan. Semua kesulitan dan keberhasilan akan terus silih berganti menjadi pembicaraan dalam forum komunitas guru ini, sehingga tidak akan ada yang melakukan kesalahan yang sama dan akan memunculkan keberhasilan-keberhasilan lain berikutnya.

Dari semua itu, bukan hanya pelatihan semata yang harus diperhatikan untuk membangun profesionalisme guru, tetapi membangun karakter pembelajar sepanjang hayat yang harus terus dibangun. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membenahi dan merevolusi mental guru melalui penguatan komitmen dan konsistensi melalui komunitas guru pembelajar tersebut. Komitmen bahwasanya kita berjanji pada diri kita sendiri maupun orang lain untuk mengambil sikap tertentu dan tercermin dalam setiap tindakan. Konsisten untuk tetap melaksanakan, relevan, dan konstan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.6)

Hal yang tak bisa diragukan, Professional Learning Community ini perlu diampu oleh kepala sekolah yang handal, karena kepala sekolahlah yang tampil memimpin forum komunitas guru pembelajar. Selain itu, kepala sekolah juga yang menyupervisi dan mengevaluasi jika terdapat kekurangan atau ketidaksesuaian dengan visi dan misi awal. Guru-guru butuh dukungan moril yang terus mengiringi di setiap kinerja, menuntun penataan kurikulum, menjadi figur pemimpin dan teladan yang mendorong terciptanya kreativitas, inovasi, dan belajar tiada henti.7) Teacher must change they mindset from reproduced learning to be an individualized learning. It is not enough to do your best. You must know what to do, and then do your best… (W. Edward Deming).

Mengacu pada tulisan di atas, melalui Professional Learning Community teridentifikasi penguatan sejumlah pendidikan karakter yang dapat memajukan kebudayaan kita, diantaranya adalah jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, dinamis, berpikir kritis, komunikatif, lugas, terbuka, produktif, dan karakter terpuji lainnya.

Saya meyakini pendidikan Indonesia akan semakin lebih baik jika semua jajaran pendidikan mau memberi hati dan terus berusaha untuk senantiasa memantapkan profesinya, bersinergi, dan terus berbenah diri menghadapi berbagai tantangan dengan terus menguatkan pendidikan. Pendidikan yang kuat akan memajukan kebudayaan. Kita dapat menjadi pemenang di abad 21 berdasarkan pada kemampuan untuk menguasai semua perkembangan dan kecanggihan melalui penguatan komitmen dan konsistensi di setiap kolaborasi yang dibangun. Budaya sebagai ruh dan penyangga pendidikan, kemudian tumbuh subur, kukuh, dan menjulang merupakan tujuan  bersama yang terus kita kuatkan melalui pendidikan. Kita harus terus bergandengan tangan, bersinergi, dan bertanggung jawab bersama dalam menguatkan pendidikan untuk menjadi bangsa yang besar dan maju.

Semoga kita  mampu terus ikhlas dan tulus berkontribusi tak kenal henti menguatkan pendidikan Indonesia demi memajukan kebudayaan Indonesia sebagai bangsa adidaya. Semoga pendidikan yang bermutu dan berkebudayaan bukan hanya harapan semata.(*)