Peran Pemuda pada Era Politik Ekonomi 4.0

Oleh: M. Firaldi Akbar Zulkarnain, SMn.
*) Ketua MKGR Kota Bandung

Masih ingatkah kita dengan sumpah pemuda yang dinyatakan dengan berapi-api oleh para pemuda pada tahun 1928. Memang semuanya telah menjadi sejarah, namun semangat dan komitmen mereka masih kita emban hingga hari ini. Bukan hanya dalam ingatan namun juga dalam perbuatan. Meskipun begitu, ketiga bait sumpah pemuda terus menerus mendapat tantangan hingga hari ini, bukan dari luar tapi dari dalam.
Bahasa yang satu, Bahasa Indonesia terus digerogoti oleh Bahasa asing hingga kita mampu menyerapnya dalam Bahasa Indonesia. Tanah air yang satu terus ditantang oleh konflik perbatasan dan tugas besar pemerataan pembangunan yang belum juga selesai. Bangsa yang satu juga diserang oleh politik identitas yang memilah-milah kita. Sebagai pewaris semangat sumpah pemuda, kita tidak dapat tinggal diam menghadapi tantangan ini.

Mengingat sumpah pemuda, konteks perjuangan dimasanya
Pada tahun 1928, para pemuda dari seluruh nusantara yang berasal dari berbagai daerah dengan berbagai latar belakang politik, suku, agama dan ras berkumpul di Gedung Oost-Java Bioscoop, Jakarta. Pertemuan ini adalah pertemuan lanjutan dari kongres pemuda pertama yang telah dilakukan dua tahun sebelumnya. Kongres pemuda kedua pada tahun 1928 menghasilkan sumpah pemuda yang masih kita ingat hingga saat ini. Selain itu, kongres ini juga menjadi momentum diperkenalkannya lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, oleh WR Supratman.
Peristiwa ini memiliki makna yang luas sekaligus mendalam bagi sejarah kebangsaan Indonesia. Terutama, peran pemuda dalam mempersatukan segala perbedaan menjadi sebuah kebulatan tekad yang diwarisi oleh kita, penerusnya hingga saat ini. Sumpah pemuda merupakan anak zaman yang lahir pada masanya untuk menjawab keresahan zaman akan pentingnya persatuan untuk melawan penjajahan. Tentu saja, semangat ini menjadi fondasi utama persatuan dan kesatuan pemuda dalam perjuangan kemerdekaan. Saat ini kondisi telah berubah, kemerdekaan bukan lagi sesuatu yang harus diperjuangkan namun menjadi sesuatu yang harus dipertahankan. Maka sumpah pemuda perlu diterjemahkan kembali dalam konteks yang dinamis, bukan secara teks melainkan secara konteks agar sumpah pemuda tak lekang oleh zaman.

Peran pemuda dalam politik 4.0

Saat ini ketika semua serba digital, informasi bukan hal yang langka seperti masa lalu, melainkan menjadi hal yang cepat tersebar tanpa kendali. Jika pemuda di masa lalu berjuang untuk mengumpulkan informasi, maka pemuda saat ini berjuang untuk menyortir informasi. Hal ini sangat berkaitan dengan model politik saat ini dimana sirkulasi informasi berjalan begitu cepat dan rentan terjadi pemotongan atau bahkan rentan dikalahkan oleh berita palsu (hoax).
Dinamika politik 4.0 saat ini tidak lagi sarat oleh nilai perjuangan melawan penjajahan melainkan terombang-ambing oleh perputaran informasi dari berbagai media, dari yang konvensional hingga yang digital. Berita palsu (Hoax) dapat menyebar melampaui batas-batas media public melalui media sosial dengan bantuan smartphone dalam genggaman. Akibatnya pemuda kesulitan menilai mana yang benar dan mana yang salah bahkan mudah terprovokasi.
Selain itu, lemahnya partisipasi politik pada kalangan pemuda juga menjadi persoalan yang sangat berbeda dengan semangat para pemuda 1928 yang aktif berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan. Oleh karena itu, penting bagi pemuda untuk berpartisipasi dalam peristiwa politik baik secara langsung maupun virtual sekaligus meningkatkan kesadaran politiknya. Melalui partisipasi dan kesadaran politik, pemuda mampu berbagi tanggung jawab untuk kelangsungan bangsa, menangkal provokasi dan berinovasi untuk menguatkan kemerdekaan.

Peran pemuda dalam ekonomi 4.0

Selain persoalan politik, pemuda saat ini juga dihadapkan pada persoalan ekonomi yang sedang menghadapi perubahan dengan terjadinya revolusi industry ke-empat. Adopsi dan adaptasi teknologi digital dalam aktivitas ekonomi telah menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari saat ini. Oleh karena itu, pemuda saat ini dituntut untuk lebih cerdas dan mampu beradaptasi dengan kehadiran teknologi digital. Bukan hanya beradaptasi bahkan mampu memanfaatkan teknologi digital menjadi alternative dalam kegiatan ekonominya.
Munculnya start-up teknologi berbasis digital, kelompok usaha dan perdagangan berbasis digital, disertai keterampilan-keterampilan baru yang bermanfaat dalam ekonomi digital telah bermunculan dalam keseharian pemuda. Situasi ini tentunya perlu ditanggapi dengan rangkaian kebijakan yang mendukung ekosistem inovasi tersebut. Terutama agar pergerakan ekonomi digital yang berasal dari inovasi pemuda mampu ikut menggerakkan ekonomi konvensional disekitarnya. Sehingga, tidak ada yang ditinggalkan oleh revolusi industry ke-empat.

Pemuda saat ini, konteks perjuangan dimasa kini

Perjuangan pemuda dimasa kini dengan dimasa lalu memang berbeda, namun tidak lantas kita melupakan perjuangan masa lalu. Sumpah pemuda, sebagai representasi dari perjuangan pemuda di masa lalu adalah warisan semangat yang sejatinya adalah warisan konseptual pemuda dalam semangat kebangsaan. Konsep inilah yang perlu dipertahankan dan dikembangkan oleh kita, pemuda saat ini, yang sedang berjuang mengisi kemerdekaan. Oleh karena itu, peringatan sumpah pemuda ini menjadi saat yang tepat untuk mengembangkan konsep sumpah pemuda melalui peran pemuda dalam dinamika politik dan ekonomi saat ini melalui semangat, keberanian, dan kreativitas pemuda yang tak pernah padam.(*)